BAGIKAN
(Toho / Odex)

Apa yang terjadi bila Hideaki Anno, Shoji Kawamori dan Guillermo del Toro berkolaborasi dalam dunia lain (baca: isekai)? Mungkin hasilnya seperti film Shinchan terbaru ini.

Merupakan film ke-24 dari seri komik karangan Yoshito Usui (berpulang 2009), film Crayon Shin-chan: Fast Asleep! Dreaming World Big Assault! (demi kenyamanan, selanjutnya disebut Shinchan 2016) ini membawakan tema isekai yang sangat khas: dunia mimpi.

Alkisah keluarga Nohara yang masing-masing asyik terlelap dengan mimpinya sendiri. Shinchan terbuai dengan kakak Nanako, ayah Hiroshi dengan mimpinya menjadi super-direktur utama, ibu Misae yang tergila-gila dengan cowok ganteng anggota hostess, dan Himawari yang senang menjadi raja dan dilayani oleh keluarganya. Semua berubah ketika mereka ditelan oleh ikan besar (ya, seperti yang terlihat di anime Re:Zero) dan terdampar dalam dunia mimpi.

Advertisement Inline

Keesokan harinya, ayah membaca koran dan menemukan berita tentang mimpi buruk massal yang melanda kota tetangga. Mereka sekeluarga pun menceritakan mimpinya dan menemukan kesamaan: sama-sama ditelan oleh ikan besar. Di sekolah, Shinchan kedatangan murid baru bernama Saki yang sangat dingin dan enggan bergaul dengan yang lain.

Hari berlalu dan semua penduduk kota Kasukabe masuk ke dalam “dunia mimpi”. Shinchan menemukan Kazama, Nene, Masao, Bo, dan Shiro yang mewujudkan dunia dalam mimpinya sendiri. Misae dan Hiroshi yang justru bertengkar dalam dunia mimpi pun terlempar keluar dan mengalami mimpi buruk, bersama dengan ratusan orang dewasa lain.

Menyadari ada yang tidak beres dengan mimpi yang mereka alami, teman-teman kelas bunga matahari TK Futaba kembali dalam grup pasukan pelindung kota Kasukabe dan bertekad menyelesaikan misteri dunia mimpi ini.

Shinchan pernah tayang dan diterbitkan resmi di Indonesia dengan beberapa lokalisasi sehingga lawakan-lawakan ini lebih dekat dengan penonton.  Meski sudah cukup lama sejak saya mendengarkan suara Shinchan dkk dalam bahasa Indonesia, kesan pertama yang terasa saat menonton Shinchan 2016 membuat saya bersyukur: ternyata seiyuu bahasa Indonesia anime televisi kita mampu menyajikan pengalaman yang terasa seamless, nyaris seolah-olah orang yang sama mampu berbicara dalam bahasa Jepang. Hal ini membuat film Shinchan 2016 ini tidak terasa terlalu asing, setidaknya tidak seasing ketika menonton Doraemon.

Humor masih menjadi “jualan” utama dalam setiap episode dan komik Shinchan. Ada beberapa yang khas seperti kemampuan pantat Shinchan yang selalu tak tertandingi, Bo yang suka berfilsafat, Nene yang ingin terkenal dan diberikan sentuhan idol khas 2016, Kazama yang ingin menjadi politikus, dan Masao yang masih ingin menjadi komikus. Ada berbagai homage terhadap banyak running joke di komiknya, mulai dari ejekan Misae si dada rata yang menakutkan, Kawaguchi teman kantor Hiroshi, dan tentu penampilan Shinchan yang bersenang-senang dengan banyak wanita dalam dunia mimpinya.

Film yang secara umum bercerita tentang bagaimana persahabatan bisa menyelesaikan masalah apapun ini mampu mengeksekusi lawakan dengan baik, meski sejumlah permainan kata yang dilakukan Shinchan menjadi hilang lucunya karena penerjemahan. Menariknya adalah bagaimana adegan bisa beralih dari suasana serius menjadi lawak dalam begitu cepat. Misalnya saat Misae memutuskan untuk ikut tidur membantu Shinchan dkk menyelesaikan mimpi buruk mereka, Hiroshi dengan mudah nyeletuk, “biar istri saya, gitu-gitu saya takut sama dia” melihat gaya tidur siang Misae yang sangat berisik.

Referensi lain tampak cukup banyak dalam film ini, dan bila cocokologi mau digunakan, nuansa dunia lain dalam film ini terasa sangat kental. Dunia distopia, di mana ada ikan pelahap mimpi masuk di dalamnya, berlari dan menari-nari sembari menghindari monster yang merupakan representasi masa lalu Saki (desain monster dan ledakannya yang sekilas mengingatkan akan Angel-nya Evangelion). Bila saja film ini diiringi dengan lebih banyak lagu, mungkin film ini akan jadi Macross Frontier KW super, terlihat dari gelembung-gelembung serupa Vajra yang menghilang pada akhir mimpi Saki. Jangan lupa, kostum Hentai Kamen yang dipakai oleh Shinchan.

Tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai lagu dari film ini selain lagu latar yang standar khas Shinchan televisi dan lagu pembuka “Kimi ni 100%” yang diisi oleh Kyary Pamyu Pamyu (KPP), yang mana lagu pembuka ini dipadukan dengan animasi pembuka yang memudahkan penonton untuk kembali masuk dalam dunia Shinchan setelah lama tak bersentuhan.

Secara umum, film Shinchan 2016 sukses membawakan misinya untuk menghibur masyarakat. Kata-kata tampaknya tak akan cukup untuk menceritakan pengalaman tertawa terbahak-bahak satu bioskop (disclaimer: penulis tidur saat menonton film Love Live!) sehingga siapapun dan apapun Anda, film ini wajib ditonton.

Shinchan 2016 diputar mulai 12 Oktober 2016 di jaringan CGVCinemaxx, dan Platinum Cineplex.

Positif

  • Lawak slapstick khas Shinchan yang sangat menghibur dan mampu membalik emosi penonton dalam hitungan detik.
  • Referensi yang tetap menarik untuk menjadi bahan lawakan, namun akan membuat tawa pecah bila tahu asal referensinya.

Negatif

  • Lost in translation dalam penerjemahan dan 11 kesalahan ketik (typo) pada teks terjemahan film.
  • Bila Anda tidak menyukai bangunan dunia Shinchan yang dibuat dengan kuatnya lawak slapstick, film ini bukan untuk Anda.

Yang Disayangkan

  • Kalau saja Hideaki Anno, Shoji Kawamori, dan Del Torro benar-benar membuat film serius seperti ini.

KAORI Newsline | oleh Kevin W

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.