BAGIKAN
Penampilan TOYOTA PRIUS apr GT #30 di ajang balap ketahanan Sepang 12 Hours pada 10 Desember yang lalu. (sumber: www.sepang12hours.com)

Meskipun ajang Super GT musim 2016 sudah selesai, partisipasi 2 tim Super GT, apr dan Japan Lamborghini Owner Club (JLOC), lengkap dengan pembalap yang sama (kecuali Adrian Zaugg yang notabene bukan pembalap JLOC), dalam ajang Sepang 12 Hours bisa jadi suatu hal yang menarik. Meskipun Toyota Prius bukan mobil pemenang Super GT 2016 dan berada di posisi runner-up klasemen, tim apr berani berpartisipasi dengan spek mobil yang sama dengan Super GT, yaitu JAF-GT. Meskipun demikian, bila Super GT bisa sukses, bagaimana dengan ajang Sepang 12 Hours?

Sedangkan dari sisi JLOC, meskipun di Super GT 2016 kalah jauh dengan apr dan juga dari awal partisipasi GT Jepang hingga sekarang masih belum mendapatkan posisi runner-up di klasemen akhir, JLOC tetap berani mencoba bertarung dengan sesama mobil spek FIA-GT3 dengan mobil yang digunakan di Super GT, yaitu Lamborghini Huracan GT3.

Tentunya terdapat banyak perbedaan antara Super GT dengan Sepang 12 Hours, seperti selain perbedaan durasi waktu balapan yaitu 12 jam, juga jumlah driver Sepang 12 Hours lebih banyak satu pembalap dari Super GT dari masing-masing mobil peserta, sehingga cara manajemen balapnya bisa berbeda.

Advertisement Inline

Seperti yang telah dijelaskan dalam artikel “5 Alasan Mengapa Ajang Balap Super GT Terasa Lebih Spektakuler dibanding Ajang Balap Lain”, kejuaraan Super GT kelas GT300 sebetulnya lebih ramai dibicarakan dibanding kelas tertingginya, yaitu GT500, yang begitu spektakulernya sampai keluar ajang balap Super GT, seperti persaingan JAF-GT dengan FIA-GT3 yang turut terbawa. Hadirnya mobil JAF-GT dalam ajang di luar Super GT bisa jadi tontonan spektakuler, terlebih mobil JAF-GT tersebut dilengkapi dengan sistem hibrida yang dikembangkan secara khusus di Super GT.

Supaya lebih menarik, dibuat uraian mengenai mobil-mobil pendekar GT300. Mobil yang masuk dalam uraian adalah mobil yang masuk 3 besar masing-masing ronde dan masuk 3 besar klasemen yang di antaranya turut berpartisipasi dalam ajang Sepang 12 Hours sebagai aksi kedua entrant Super GT meskipun sama sekali tidak mempengaruhi penilaian klasemen.

1. Mercedes-Benz AMG GT3

LEON CVSTOS AMG-GT #65 (sumber: supergt.net)
LEON CVSTOS AMG-GT #65 (sumber: supergt.net)

Dengan spek FIA-GT3, Mercedes-Benz AMG GT3 menjadi pemenang ronde pertama Okayama dalam Super GT 2016 kelas GT300 atas nama Leon Cvstos AMG-GT, mengalahkan kompetitor lainnya yang sesama spek FIA-GT3 dan spek JAF-GT yang memiliki grip lebih tinggi. Untuk berpartisipasi di ajang Super GT kelas GT300, spek FIA-GT3 merupakan pilihan yang paling realistis, lantaran pihak tim hanya perlu memesan unitnya saja ke pabrikan atau tuner rujukan yang membuat mobil balapnya, seperti kita melakukan inden mobil. Begitu mobil datang tinggal dites dan di-setting.

Kemenangan tersebut sudah menciptakan impresi pertama yang bagus, namun sayangnya kurang kontinyu untuk  Leon Cvstos AMG-GT. Setidaknya, ada Goodsmile Hatsune Miku AMG yang juara 2 ronde pertama di Okayama dan juara 3 ronde terakhir serta menempati peringkat 5 klasemen, lebih sukses dari Leon Cvstos AMG-GT.

GOODSMILE HATSUNE MIKU AMG #4 (sumber: supergt.net)
GOODSMILE HATSUNE MIKU AMG #4 (sumber: supergt.net)

2. Nissan GT-R GT3

B-MAX NDDP GT-R #3 (sumber: supergt.net)
B-MAX NDDP GT-R #3 (sumber: supergt.net)

 Tim yang dibekingi pabrikan-pun juga memilih spek FIA-GT3 dengan program pengembangan pembalapnya dan bisa memenangi ronde ke-2 di Fuji. Kemenangan B-Max NDDP GT-R GT3 juga berkontribusi mendominasi ronde 2 Fuji bagi Nismo lantaran di kelas GT500 dimenangkan oleh Motul Autech GT-R. Sepertinya masuk akal mengapa tim GT300 kebanyakan memilih mobil berspek FIA-GT3, sebab selain menghemat biaya pengembangan, dari segi performa juga kompetitif. Sayangnya tim dari mobil ini masih belum meraih posisi 3 besar klasemen meskipun memiliki poin yang sama dengan Team Hitotsuyama.

3. Toyota Prius

TOYOTA PRIUS apr GT #30 (sumber: supergt.net)
TOYOTA PRIUS apr GT #31 (sumber: supergt.net)

Meskipun posisi mesinnya tidak lagi di tengah seperti tahun kemarin, kemenangan Prius dalam ronde ke-4 di Sugo menghambat kemenangan mobil berspek FIA-GT3. Hal tersebut menandakan kerja keras tim ini dalam melakukan litbang mobil balapnya tidak sia-sia. Kemenangan Prius yang juga menjadi juara 2 klasemen akhir ini membuktikan bahwa mobil spek JAF-GT masih bisa kompetitif dengan spek FIA-GT3. Tentu saja tidak memakai mesin standar, melainkan mesin balap Toyota RV8K dengan sistem hibrida.

Meskipun kiprahnya di Super GT cemerlang, Toyota Prius malah menempati posisi ke-24 dalam ajang Sepang 12 Hours. Seandainya Yuichi Nakayama masuk mendampingi Koki Saga, mungkin prestasinya bisa lebih baik lantaran pasangan pembalap itulah yang membuat tim ini menjadi juara kedua di klasemen akhir.

4. BMW M6 GT3

ARTA BMW M6 GT3 #55 (sumber: supergt.net)
ARTA BMW M6 GT3 #55 (sumber: supergt.net)

Autobacs Racing Team Aguri (ARTA) boleh saja kurang sukses di GT500, namun setidaknya juaranya BMW M6 GT3 di kelas GT300 pada ronde 5 Fuji 300 km, juara 2 ronde ke-2 Fuji 500 km, dan juara ketiga ronde ke-7 Thailand mampu mengobati ketidaksuksesan tim tersebut di kelas utama. Perpindahan spek mobil dari JAF-GT ke FIA-GT3 masih mampu mempertahankan prestasi juara di ronde Fuji 300 km untuk yang kedua kali seperti tahun kemarin. Sayangnya, dari segi klasemen masih lebih baik tahun kemarin bagi tim ARTA ketika memakai Honda CR-Z spek JAF-GT.

Selain ARTA, tim yang menggunakan mobil ini adalah Studie BMW M6 yang menjadi juara ke-3 ronde pertama di Okayama.

Studie BMW M6 #7 (sumber: supergt.net)
Studie BMW M6 #7 (sumber: supergt.net)

5. Subaru BRZ

SUBARU BRZ R&D SPORT #61 (sumber: supergt.net)
SUBARU BRZ R&D SPORT #61 (sumber: supergt.net)

Kemenangan Subaru BRZ R&D Sport dalam Ronde 6 Suzuka membuktikan bahwa spek JAF-GT paling konvensional masih kompetitif dengan kompetitor sesama JAF-GT ataupun FIA-GT3, sebab mobil ini menggunakan sasis mobil produksi, tanpa sistem hibrida, dan mesin EJ20 yang diaplikasikan sejak ajang JGTC GT300 tahun 1998.

6. Audi R8 LMS Ultra

Hitotsuyama Audi R8 LMS #21 (sumber: supergt.net)
Hitotsuyama Audi R8 LMS #21 (sumber: supergt.net)

Setelah juara 2 ronde 2 Fuji, untuk pertama kalinya, Team Hitotsuyama dan Audi R8 juara ronde Super GT pada ronde 3 di Motegi (pengganti ronde Autopolis yang batal digelar karena gempa Kumamoto -red), sekaligus pertama kalinya Audi R8 meraih juara 3 klasemen umum. Dengan prestasi tersebut, Audi R8 bisa jadi harapan baru bagi para tim yang berpartisipasi dalam Super GT, terutama buat tim yang sulit masuk podium.

7. Lamborghini Huracan GT3

MANEPA LAMBORGHINI GT3 #88 (sumber: supergt.net)
MANEPA LAMBORGHINI GT3 #88 (sumber: supergt.net)

Untuk pertama kalinya Lamborghini Huracan GT3 meraih podium ketiga dalam ronde 3 Motegi yang berkontribusi memperbaiki prestasi JLOC di ajang GT Jepang. Namun, prestasi tersebut sayangnya masih belum mampu mendongkrak JLOC selaku entrant untuk masuk 3 besar klasemen akhir, termasuk ketika berpartisipasi dalam ajang Sepang 12 Hours meskipun jauh lebih sukses dari tim apr dengan finish di posisi ke-8.

8. Porsche 911 GT3

Excellence Porsche #33 (sumber: supergt.net)
Excellence Porsche #33 (sumber: supergt.net)

Manufaktur debut juara GT300 baru sekali ini masuk podium ketika ronde ke-3 di Motegi dengan finish di posisi kedua. Sepertinya butuh entrant yang lebih baik agar mampu mengembalikan kejayaan Porsche di ajang GT Jepang.

9. Toyota 86

VivaC 86 MC #25 (supergt.net)
VivaC 86 MC #25 (Sumber: supergt.net)

Kemenangan VivaC Team Tsuchiya dalam Ronde ke-7 di Thailand dan Ronde ke-8 di Motegi, serta meraih gelar juara Super GT 2016 kelas GT300, membuktikan bahwa teknologi Mother Chassis, seperti sasis GT500 namun lebih berat dan valuable, memiliki performa yang kompetitif dengan kompetitor sesama spek JAF-GT ataupun FIA-GT3 yang keduanya menggunakan sasis mobil produksi. Tentunya itu didukung oleh strategi tim yang jitu serta kedua pembalap yang memiliki kompetensi lebih dalam mengendarai mobil berbodi Toyota 86 bermesin GTA V8.

Ditulis oleh: Julfikri Ahmad Mursyid | Panelis “Mengontrol Fanatisme Pop Culture Jepang untuk Masyarakat Indonesia” pada event Road to KAORI Expo, penggemar otomotif lebih dari 10 tahun.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca utk menulis opini tentang dunia anime & industri kreatif Indonesia. Opini ditulis 500-1000 kata dlm bhs Indonesia/Inggris & kirim ke opini@kaorinusantara.or.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.