SHARE

reon

Pada suatu siang, saat saya sedang mencari komik untuk melengkapi koleksi saya di sebuah toko buku. Disana saya menemukan sebuah komik yang cukup unik di salah satu rak. Komik ini memiliki judul yang sama dengan serial hits milik salah satu stasiun televisi dunia BBC, Sherlock. Ya, serial televisi detektif dari adaptasi modern novel karya Sir Arthur Conan Doyle hadir dalam bentuk komik.

Sesampainya di rumah, saya buka segel dari Sherlock. Kesan novelnya sangat mengena saat saya mengetahui kalau sampul dari komik satu ini memiliki dua lapis layaknya sampul komik maupun novel ringan terbitan Jepang. Lapisan pertamanya benar-benar serasa seperti sampul novel ringan dengan illustrasi berwarna dan di lapisan keduanya walau masih memiliki beberapa gambar hitam-putih, terasa lebih netral seperti lapisan kedua novel ringan dan komik terbitan Jepang pada umumnya.

This slideshow requires JavaScript.

Sebelum mengupas komiknya lebih dalam, perlu diketahui bahwa serial Sherlock adalah sebuah adaptasi modern dari novel karya Sir Arthur Conan Doyle. Mengkisahkan petualangan Sherlock Holmes (diperankan oleh Benedict Cumberbatch) dan partnernya Dr. John Watson (diperankan oleh Martin Freeman). Seri ini dikatakan sebagai adaptasi modern karena memang setting yang diambil adalah setting London masa kini dengan hadirnya segala teknologi masa kini, tidak seperti seri aslinya yang bersetting London di zaman Victoria. Tidak, jika anda berpikir kalau Sherlock dan Watson mengalami petualangan isekai dengan troupe perjalanan waktu, anda jelas-jelas salah paham. Seri ini memang menayangkan perjalanan Sherlock di abad ke-21.

Versi cerita komiknya diadaptasi dari cerita pada serial BBC yang ditulis oleh Steven Moffat dan Mark Gattis sedangkan gambarnya digambar oleh Jay. Adaptasi ini diterbitkan di Jepang dengan kerjasama Hartswood Films melalui The English Agency, Jepang. Versi bahasa indonesianya diterjemahkan dan diterbitkan oleh m&c!.

Di sampul depannya, terdapat gambar close up Sherlock dan Watson di bagian belakang. Penggambaran kedua karakter ini sangat mendekati dengan pemeran di serial Sherlock yang tayang di BBC. Jati diri Sherlock yang terlihat menyebalkan nampak jelas di sampulnya. Begitu juga dengan Watson, raut mukanya serius namun menurut saya versi komiknya membuatnya sedikit terlihat lebih muda dari versi aslinya. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, komik ini terbit di Indonesia dengan dua sampul. Di balik sampul berwarnanya, ada sampul buku aslinya dengan gambar Mycroft dan Inspektur Lestrade. Mycroft di komik terlihat lebih menyebalkan dari aslinya sedangkan Lestrade tampak seperti seorang oyaji (paman-paman) ganteng.

“I’m a fully functioning sociopath!” – © 2017 m&c! © Jay/Kadokawa/Hartwood Studio

Sinopsis

Sherlock Holmes adalah seorang “Detektif Konsultan” yang juga mengaku sebagai “sosiopat cerdas yang bisa berbaur” saat orang sekitarnya memanggil dirinya sebagai psikopat. Sherlock adalah orang yang brillian namun aneh dan juga bersifat dingin. Sherlock juga memiliki tendensi untuk menjadi “lebih cerdas dari siapapun”, entah itu para kriminal, polisi atau semua orang. Karena sifatnya yang seperti itu, dia tidak disukai oleh banyak orang, namun karena keahliannya, banyak orang yang tetap saja menggunakan jasanya.

Rekan dari Sherlock Holmes, Dr. John Watson adalah seorang dokter veteran perang yang baru saja kembali dari Afganistan. Sebagai veteran perang, Dr. Watson memiliki trauma yang membekas dan membuatnya sulit berbaur di masyarakat. Walau memiliki ingatan yang kelam dalam peperangan, Dr. Watson memiliki sifat yang baik hati dan suka menolong.

“My name’s Sherlock Holmes, 221B Baker Street!” © 2017 m&c! © Jay/Kadokawa/Hartwood Studio

Dengan Sherlock sebagai otak dan Watson sebagai hati (dan Straight Man) Duo penghuni 221B Baker Street ini selalu disibukkan oleh 2 hal. Kesibukan mereka yang pertama adalah menjadi konsultan yang berkantor di kamar flat 221B Baker Street, dimana Sherlock dikunjungi oleh klien yang membutuhkan jasanya. Tak jarang dalam setiap konsultasi, Sherlock langsung memecahkan masalah dan menganggap bahwa kasus permintaan kliennya sebagai kasus yang “membosankan”. Kesibukan Sherlock dan Watson yang kedua adalah memecahkan berbagai kasus yang bahkan sulit dipecahkan oleh pihak kepolisian, hal inilah yang membuat polisi dan masyarakat geleng-geleng akan sosok seorang Sherlock.

Ya, jangan bunuh diri – © 2017 m&c! © Jay/Kadokawa/Hartwood Studio

Buku komik satu ini mengambil cerita dari episode pertama serial televisinya, Study in Pink. Alkisah di kota London, terjadilah sebuah fenomena aneh dimana hampir setiap hari terjadi kasus bunuh diri yang misterius. Inspektur Lestrade mengatakan bahwa “bunuh diri berantai” ini hanyalah sebuah kebetulan saja. Namun Sherlock memiliki pemikiran lain, menurutnya ini bukanlah kasus bunuh diri melainkan sebuah pembunuhan berantai. Pada saat menyeldiki kasus ini, Sherlock bertemu dengan Dr. Watson yang kebetulan sedang mencari tempat tinggal. Sherlock yang tinggal sendiri pun mempersilahkan Dr. Watson untuk tinggal bersama dalam satu flat. Dengan keahliannya (Science of Deduction), Sherlock berhasil mendeskripsikan latar belakang Watson padahal mereka baru bertemu pertama kalinya pada saat itu. Dari titik itulah, Watson merasa tertarik dengan pria bernama Sherlock Holmes ini dan penasaran terhadapnya. Watson pun akhirnya memutuskan untuk ikut menyelidiki kasus tersebut bersama rekan barunya.

Watson dan Mycroft – © 2017 m&c! © Jay/Kadokawa/Hartwood Studio

Dr. John Watson itu Moe!

Setelah membaca buku ini dan diikuti dengan marathon serial Sherlock, saya berkesimpulan kalau Dr. Watson adalah karakter moe. Sifatnya yang memang tidak bisa menolak permintaan tolong dari orang lain membuatnya menjadi moe. Jika anda mengikuti seri televisinya setelah membaca komik ini, anda akan semakin paham dengan ke-moe-an Dr. Watson.

© 2017 m&c! © Jay/Kadokawa/Hartwood Studio

Angin Segar bagi Komik Detektif

Membaca komik ini juga memiliki perasaan yang sama dengan membaca seri komik detektif lainnya, misalnya Detective Conan. Berbeda dengan Detective Conan yang terbit hingga ratusan bab, Sherlock yang memiliki kasus-kasus yang pendek namun mengena adalah sebuah angin segar untuk komik detektif.

Mungkin akan ada sedikit perdebatan mengenai apakah komik satu ini adalah manga atau bukan. Menurut saya, tidak ada masalah. Komik ini mirip seperti anime-anime buatan studio Tiongkok seperti Cheating Craft atau To be Hero. Walaupun tidak dibuat sepenuhnya di Jepang, media tersebut adalah untuk konsumsi masyarakat Jepang. Jadi, tidak ada salahnya untuk memanggil Sherlock sebagai manga.

“Soalnya kau bodoh” – © 2017 m&c! © Jay/Kadokawa/Hartwood Studio

Walaupun saya telah menonton seluruh seri Sherlock, komik satu ini masih terasa segar untuk saya. Pada dasarnya komik ini masih mengantarkan cerita yang sama, namun ada beberapa hal yang membuatnya masih menarik untuk dibaca. Pertama, penggambaran ekspresi dalam komiknya mirip dengan versi aslinya namun dalam versi komiknya lebih terasa ekspresif. Terlebih saat raut muka reaksi (khususnya muka bodoh) dari perkataan Sherlock yang tajam. Kedua, penjelasan dalam versi komik ini lebih mudah dicerna daripada versi serial BBC. Bagi anda yang kesulitan memahami adegan penjelasan dalam serial televisinya yang cukup cepat, versi komiknya diceritakan dengan baik dan anda lebih santai dalam mencernanya.

Penutup

© 2017 m&c! © Jay/Kadokawa/Hartwood Studio

Sebagai penutup, versi komik dari Sherlock tetap asik dan seru seperti versi aslinya. Satu-satunya kekurangan dari versi komiknya adalah tidak adanya BGM yang berputar saat anda membaca komiknya. Anda harus menyetelnya sendiri melalui pemutar musik. Namun, kekurangan tersebut cukup diimbangi dengan gambar ekspresi reaksi (khususnya muka bodoh) yang apik.

KAORI Newsline | Ditulis oleh Naufal B. Pawenang