BAGIKAN
KA Lokal merak melalui tikungan di Serang, Banten (Facebook / Biyan Mudzaky)

reon

Senin (4/9) sore yang cerah di ujung barat pulau Jawa, hampir menjadi sore yang kelam di wilayah bantaran rel kereta api (KA) padat penduduk di Lingkungan Seneja Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, Provinsi Banten.

Dua rangkaian KA Lokal Merak dengan relasi Merak – Rangkasbitung dan Rangkasbitung – Merak tiba-tiba bertemu berhadapan di satu jalur rel yang sama, tepatnya di petak jalan antara stasiun Cilegon dengan stasiun Tonjong Baru, dengan arah yang berbeda. Dalam kejadian yang tidak biasa ini, kedua KA sempat membunyikan klakson dengan durasi lumayan panjang saat saling melihat wujud KA yang berlawanan dengannya, sehingga mengagetkan warga setempat. Penduduk yang khawatir akan terjadi tabrakan, membantu memberikan aba-aba pada masinis dari kedua KA berlawanan arah tersebut untuk berhenti.

Dikutip dari media online faktabanten.co.id, Hamami, selaku saksi mata dan tokoh pemuda setempat menuturkan bahwa setelah kedua KA berhenti, KA Lokal Merak yang datang dari arah Cilegon menuju Rangkasbitung mundur kembali ke emplasemen stasiun Cilegon guna memberi jalan KA Lokal Merak dari arah Tonjong Baru menuju Merak untuk lewat, sebelum kembali berangkat menuju Rangkasbitung.

“Ini gimana petugas stasiunnya meleng (lalai) amat, untung saja nggak sampai tabrakan, bisa dibayangkan, disini kan pemukiman padat dan banyak anak kecil” Keluh Hamami dalam video singkatnya.

Saat akan dimintai konfirmasi perihal kejadian ini, Kepala Stasiun Cilegon sedang tidak berada di tempat. Anehnya, ketika wartawan dari Faktabanten dan Lokal1News meminta keterangan dari Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) stasiun Cilegon, petugas tersebut tidak bersedia diwawancarai bahkan berupaya menghalangi tugas dan mengusir wartawan dari Fakta Banten dan Lokal1News, dengan memanggil petugas keamanan stasiun dan menghapus foto-foto yang sudah diambil wartawan.

“Untuk Pers silahkan ke Humas (Daerah Operasi 1 Jakarta) saja. Humasnya ya di Jakarta. Saya tidak bisa ngasih keterangan apa-apa ke Pers, ke Humas saja. Oh ya maaf, tadi fotonya dihapus saja ya, harus izin dulu,” tandasnya.

.

.

.

.

Tentu hal ini menimbulkan tanda tanya besar, apakah gerangan yang sebenarnya terjadi sehingga para petugas terlihat ketakutan dan tampak “bermain aman”? padahal jikalau memang ini kejadian yang biasa dan tidak berbahaya, tentunya pihak stasiun tidak perlu merasa panik apalagi sampai menyuruh menghapus dokumentasi yang diambil warga. Apakah pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam hal ini Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta dapat memberikan klarifikasi yang jelas mengenai viralnya kejadian ini? Biar waktu yang akan menjawabnya.

Cemplus Newsline by KAORI