BAGIKAN

Cerpen: Grand Lake, by luminensce

piano_11

Kadang, aku iri dengan mereka yang bisa memainkan alat musik.

Aku pikir, jika mereka ingin menyalurkan suasana hatinya, mereka bisa langsung memetik gitar, menekan tuts piano, atau menabuh drum. Menciptakan suara yang mencerminkan perasaan mereka. Menyalurkan, sekaligus menikmati.

Seperti saat ini…

Aku menemukan sebuah danau kecil yang sangat indah di belakang rumah nenekku. Letaknya jauh di pelosok desa yang namanya hanya segelintir orang yang tahu.

Danau itu tidak dalam, sebatas tumit kaki. Airnya bening, sampai-sampai kamu bisa melihat refleksi dirimu yang ibaratnya sedang berjalan di langit yang luas. Di bawah air terdapat pasir yang keras, sehingga aku tidak mencemaskan ada kemungkinan pasir hidup.

Tentu tempat ini sangat memukau. Dikelilingi oleh tebing yang tinggi menjulang, tertutup oleh pohon-pohon rindang sehingga aku yakin tidak banyak orang yang mengerti adanya danau ini. Satu-satunya jalan masuk ada di sisi barat danau. Terbentuk tangga alami yang biasa aku gunakan untuk turun dari atas sampai menyentuhkan kaki di air danau yang jernih ini.

Lebih uniknya lagi, di tengah danau ini ada sebuah piano.

Ya, sebuah Grand piano, lengkap dengan kursi duduk, lebih tepatnya.

Tentu, hal itu membuatku tidak habis berpikir. Piano itu punya siapa? Mengapa ada benda kontras seperti itu di sini? Bagaimana bisa piano itu terdampar di sini? Beragam pertanyaan lain memenuhi benakku.

Aku mendekat ke piano hitam elegan itu, sambil menekan beberapa tuts hitam putihnya untuk mengecek. Ternyata masih berbunyi dengan baik, pikirku setelah mendengar suara yang dihasilkan kotak hitam ini.

Aku iri kepada mereka yang bisa memainkan alat musik. Pikiranku langsung berkhayal, betapa indahnya jika aku bisa memainkan piano ini di tengah danau.

Nyamannya kaki yang basah karena air danau yang hanya sebatas tumit, ditemani oleh fusi melodi alam dengan melodi piano yang kelak akan bersinkronisasi satu sama lain…

Sayangnya, itu hanya angan-angan belaka. Aku sama sekali tidak mengerti tuts mana yang harus ditekan untuk bisa menghasilkan nada yang harmonis. Bahkan, jemariku masih kaku berjalan di atas tuts sendirian.

Karena itu, aku sangat iri kepada mereka yang bisa memainkan alat musik.

Kuputuskan untuk pulang ke rumah nenek karena temaram sudah datang. Refleksi warna oranye terpantulkan sempurna di seluruh permukaan danau. Cukup puas dengan pemandangan dan suasana hari ini, kuputuskan untukkembali lagi besok, mencari harmoni yang sama.

 

-o-

 

Sesuai janji yang kutepati sendiri, esoknya aku datang lagi ke danau pada waktu subuh.

Aku berniat untuk melihat pemandangan waktu matahari terbit. Penampilan elegan seperti apa yang akan kutemui dari refleksi danau itu, pikirku.

Ketika aku mulai mendekati areal danau, tiba-tiba terdengar alunan nada piano yang indah. Tentu, hal itu membuatku semakin penasaran. Apakah ada orang yang sedang memainkan piano yang berada di tengah danau?

Aku sampai di areal tepi tebing, dekat tangga natural yang kugunakan sebelumnya untuk turun. Alunan melodinya semakin terdengar jelas dari sini. Samar-samar, ada sosok yang sedang duduk di balik kotak hitam besar itu. Refleks, aku turun dan berjalan menuju sosok itu, dengan perlahan.

Seorang gadis, mungkin sebaya, atau lebih muda 1-2 tahun dariku, dengan rambut sebahu yang tidak kalah elegan dengan grand piano itu, memainkan sebuah karya nada yang sangat serasi dengan suasana seperti ini. Pundaknya yang dilapisi cardigan tebal berwarna gelap juga menambah kesan anggun. Cahaya ufuk mentari yang satu persatu mulai mengintip, mengawali lukisan cerahnya di langit gelap. Angin semilir khas pagi di mana masih banyak orang yang belum terjaga, ditemani dengan permainan jari lentiknya yang menghasil sebuah bagian musik dengan tempo yang tidak lebih dari dua per empat.

Layaknya, bidadari yang sedang menemani danau ini sampai matahari kembali muncul. Refleksi yang ditampilkan dari air danau semakin membuatku terpesona.

Ia terus memainkan karyanya, lemah lembut, bagai mengetuk kalbu hati yang masih segar di pagi hari.

Tanpa terasa, langit sudah berganti warna. Ia pun menghentikan permainannya seiring dengan pergantian waktu. Entah dia sudah ada di sini sejak kapan, mungkin memang sudah waktunya untuk sosok itu kembali ke asalnya.

Seolah tersihir, kedua tanganku terangkat dan aku memberinya applause atas masterpiece yang baru saja diselesaikannya. Tentu, gadis itu terperanjat mengetahui diriku ternyata sudah sedekat ini dengannya.

“A-ah, maaf. Aku bikin kamu kaget, ya…”

“Sejak kapan?”

“Huh?”

“Sejak kapan kamu ada di sini?”

“Erm, mungkin sekitar beberapa yang lalu. Yang jelas, ketika aku sedang menuju ke sini, permainanmu sudah terdengar dari kejauhan. Karena kamu terlalu asyik bermain, maka lebih baik aku melihat dulu sampai selesai.”

“…”

“Maaf, memang tidak sopan. Tapi, karena sosokmu begitu elegan, rasanya sayang kalau kuhentikan untuk sekedar menyapa.”

Sejenak gadis itu heran dengan ucapanku, lalu kemudian dia tersenyum.

“Terima kasih telah mendengarkan.”

“Tak apa. Melodinya juga cukup lembut dan nyaman untuk didengarkan, kok.”

Gadis itu kembali tersenyum.

“Oh iya, mengapa ada sebuah piano di tengah danau seperti ini? Dan lagi, danau ini terlihat masih belum banyak tersentuh manusia…”

“Kamu… bukan orang sini, ya?”

“Iya. Aku kadang-kadang ke sini jika keluarga sedang berkunjung ke nenek. Rumah nenekku, ada di belakang danau ini.”

“Pantas. Orang-orang di sekitar danau memang telah sepakat untuk ikut merawat tempat indah ini. Mereka juga saling menjaga rahasia agar tidak banyak orang yang tahu.”

“Ooh…”

Gadis itu lalu berdiri, berputar sebentar sambil mengelus-elus piano bagai memperlakukan sesuatu yang hidup.

Lalu aku baru menyadari jika di kaki gadis itu terikat sebuah lonceng kecil. Lonceng itu berbunyi seiring dengan gerakan kakinya.

“Lalu, untuk pianonya…”

“Ya?”

“Tidak ada seorang pun yang tahu, tidak terkecuali aku.”

“Kok… bisa?”

“Kan sudah kubilang kalau aku juga tidak tahu. Bahkan, orang yang pertama kali menemukan danau ini juga bilang kalau piano ini sudah ada di sini. Keadaan pianonya juga masih bisa dimainkan. Anggap saja sebagai salah satu keajaiban dari tempat ini.”

“Mungkin, bidadari di langit tidak sengaja menjatuhkannya?”

Gadis itu tertawa kecil sejenak.

“Yah, begitulah. Bukannya tempat ini sangat menakjubkan?”

Gadis itu berputar-putar kecil, menimbulkan sedikit riak ringan yang bergelombang menyebar ke seluruh penjuru danau. Menyibak sedikit refleksi terang yang memukau. Tidak lupa juga lonceng kecil di kaki yang turut menghiasi gerakan sederhananya.

“Ya. Rasanya nyaman dan bahagia jika pemandangan ini seperti kepunyaan sendiri.”

“Jadi, aku minta kamu juga jaga rahasia, ya?”

“Tentu saja!”

Gadis itu kembali tersenyum, manis sekali.

“Ah, omong-omong, aku iri denganmu.”

“Mengapa?”

“Karena bisa memainkan piano. Sebenarnya, aku iri dengan mereka yang bisa memainkan alat musik.”

“Kalau begitu, bagaimana kalau kuajari sekarang?”

 

-o-

 

“Alunan melodi yang bersinkronisasi satu sama lain, tentu akan menghasilkan nada yang lembut dan nyaman.”

“Ya?”

“Tidak, aku hanya membuat sedikit analogi. Bagaimana dengan jarimu? Sudah cukup rileks?”

“Kurasa belum…”

Sudah hampir setengah jam aku mencoba menyamakan ritme tangan kananku dengan tangan kiriku. Sebuah latihan simpel, tapi tetap harus dilakukan terus-menerus agar terbiasa.

“Dasarnya bermain piano ada di situ. Kalau bisa, coba sambil diubah-ubah temponya.”

“Iya…”

Aku berusaha lebih konsentrasi untuk menyamakan ritme antara tangan kanan dan kiri. Jika menurutku sudah lancar, maka kuubah temponya sedikit, lalu menyesuaikan lagi.

Selang 15 menit, konsenstrasiku sudah pada batasnya. Ritme tanganku sudah tidak bisa dijaga. Lagipula, ini juga kali pertamaku. Maka kuputuskan untuk berhenti dulu.

“Yak, menurutku itu sudah cukup.”

Aku langsung melemaskan tubuhku di kursi. Rasanya cukup melelahkan meski untuk yang pertama kali. Mungkin, karena juga aku tegang karena terus diperhatikan olehnya dari belakang.

“Semuanya butuh pembiasaan. Kalau sudah menemukan titik sinkronnya, pasti akan menjadi harmonis dan indah. Misal, seperti ini…”

Ia mengambil jarak kira-kira lima meter dariku, dan mengambil sebuah kuda-kuda. Ternyata dia melakukan sebuah tarian. Gerakan molek yang sangat lembut, ditemani dengan bunyi-bunyian lonceng kecil di kaki serta riak air yang berirama, semuanya menciptakan pemandangan sendiri.

Pemandangan istimewa yang tidak sembarang orang bisa melihatnya setiap waktu. Gadis itu kembali menyihirku sehingga hanya bisa terdiam di tempat, terpana.

“Gerakan tanpa tenaga berlebih, keseimbangan tubuh kanan dan kiri, gerakan kaki yang satu-satunya membawa lonceng, serta riak air sesuai dengan ritme. Indah, kan?”

“Dari perkataanmu terkesan kalau segala hal itu memiliki ritme.”

“Menurutku, memang semua hal hampir ada ritmenya sendiri, yang jika ritme itu cocok dan sinkron, akan menghasilkan sesuatu yang bagus.”

“Hmm…?”

“Manusia itu ada ‘ritme’-nya sendiri. Ada ‘ritme’ yang teratur, pelan, nyaman. Ada pula yang sebaliknya. Mungkin kalau ‘ritme’ orang itu terlalu sama, yang ada hanya saling berbenturan, atau saling menelan. Tapi tidak jarang juga yang malah bisa sinkron dengan baik. Sama halnya jika ritme orang itu saling berlawanan.”

“Intinya, tergantung dari ‘harmonisasi’-nya juga, kan?”

“Tepat. Ibaratnya, coba kamu lihat saja di permainan piano. Ritme dan melodi. Tangan kiri dan kanan. Bayangkan sendiri jika kedua tanganmu tidak mempunyai harmonisasi sama sekali.”

“Mengerti… dasarnya saja kedua tangan ini harus saling sinkron.”

“Seperti halnya dengan hubungan antar manusia. Antar individu memang harus terbiasa, dan mau toleran dengan satu sama lain. Open-minded, itu kuncinya menurutku.”

Sebuah harmonisasi itu penting. Hal itu akan membuat segalanya lebih baik dan lebih indah. Tentu untuk mencapai hal itu diperlukan perkenalan, pembiasaan, dan kemudian sinkronisasi.

Gadis itu benar. Hampir semua hal memiliki ritme dan bisa mencapai masing-masing harmonisasinya sendiri.

Tanpa terasa langit sudah berubah warna. Aku yakin di ujung horizon sana, matahari sudah mulai mengintip, menyapa kehidupan untuk beraktivitas hari ini. Mungkin sudah saatnya untuk kembali.

“Terima kasih atas ajaran pianonya kali ini. Aku lebih senang jika kita bisa melanjutkannya lain kali.”

“Jika kamu berkenan, datang saja kemari di waktu yang sama dengan kamu datang tadi.”

“Maksudnya besok?”

“Yup.”

Aku sedikit merasa heran.

“Aku yakin jika kamu mahir memainkan piano, kamu pasti memilikinya juga di rumah.”

“Tidak. Jika aku ingin bermain, maka aku datang ke tempat ini.”

“Oh, aku mengerti….”

“Ah, sepertinya aku harus pergi sekarang.”

“Uhm… apakah lebih baik kita kembali ke desa bersama-sama?”

“Maaf, aku buru-buru.”

Gadis itu setengah berlari menyongsong masuk ke dalam kabut tebal yang tiba-tiba muncul di depanku.

“Tunggu! Siapa namamu?”

Tanganku terjulur ke depan seolah ingin menahannya.

Langkahnya terhenti. Wajah cantiknya berpaling sedikit seolah ingin menengok ke belakang namun tidak. Samar kulihat senyuman kecil di bibir merahnya.

Masih terperangkap dalam kebingunganku, gadis itu melangkah lagi. Satu, dua, lalu berhenti. Ia seperti mempermainkanku.

“Arietta…”

Lalu, kabut tebal itu menelan bayangannya seketika dari pandanganku.




***

 

 

*cerita ini hanya fiktif belaka, bukan pengalaman pribadi penulis, dan kesamaan nama, tempat, maupun cerita semata kebetulan belaka. Tautan cerita : Grand Lake

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.