Mengungkap Mitos Kehebatan Susu Sapi

1
Cover book “Don’t Drink Your Milk” by Frank. A. Oski

 

Sejak masih kecil, kita selalu di biasakan oleh orangtua kita untuk mengkonsumsi susu sapi. Alasannya pun beragam, dimulai dari anggapan bahwa susu adalah minuman yang menyehatkan, bergizi lengkap, maupun agar kita terhindar dari penyakit osteoporosis.

Namun, benarkah hal tersebut? Di tengah maraknya edukasi bahwa mengkonsumsi susu sapi dapat mencegah osteoporosis, muncul juga para ahli-ahli kesehatan yang justru menolak hal tersebut. Bahkan mereka justru mengatakan bahwa meminum susu sapi dapat mengakibatkan osteoporosis.

“Manusia adalah satu-satunya species yang masih minum susu setelah mereka dewasa. Cobalah lihat sapi, kerbau, kambing atau apapun, setelah dewasa, mereka tidak akan lagi minum susu. Hanya manusialah yang melanggar perilaku tidak alamiah tersebut”, ucap Prof. dr. Hiromi Shinya didalam bukunya yang berjudul Miracle of Enzym.

Advertisement Inline

“Hal ini disebabkan karena produsen susu yang terus mengiklankan produknya! Justru dengan mengkonsumsi susu sapi akan menghabiskan enzim induk yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang”, tegas Hiromi.

Profesor Hiromi adalah seorang dokter asal Jepang yang merupakan seorang ahli gastroenterology terkemuka didunia. Berbekal praktik lebih dari 40 tahun tanpa pernah absen karena sakit, beliau telah melakukan kolonoskopi (Memasukan alat untuk melihat kondisi usus besar) pada lebih dari 370.000 pasien. Didalam penemuannya, tidak ada satupun orang yang rutin mengkonsumsi susu sapi yang memiliki raut usus besar yang baik.

Para ahli yang kontra atas anggapan bahwa susu adalah minuman yang menyehatkanpun tidak hanya muncul dari luar negeri. Praktisi hidup sehat Food Combining, Erikar Lebang juga menjelaskan melalui akun twitternya @erikarlebang dengan Hashtag #KibulanSusu mengenai bahaya besar yang ditimbulkan oleh susu sapi.

“Manusia tidak berkembang seperti sapi! Konsentrasi unsur yang begitu tinggi dalam susu sapi didesain supaya bayi sapi bisa segera berdiri dan hidup mandiri. Bahkan banyak penelitian menunjukkan bahwa gula dalam susu binatang (lactose) justru menimbulkan alergi bagi mayoritas manusia. Dan yang paling penting, enzim lactase yang digunakan untuk mercerna susu, perlahan-lahan akan menghilang pada saat manusia menginjak usia 2-3 tahun. Diusia tersebut, kebutuhan manusia akan susu telah hilang sepenuhnya”.

Pada saat ditanya mengenai kaitan antara susu sapi dan osteoporosis, Erikar Lebang menjelaskan melalui akun twitternya, bahwa justru dengan mengkonsumsi susu sapi akan mengakibatkan penyakit osteoporosis.

“Banyak orang yang tidak tahu, untuk dapat menyerap kalsium, diperlukan magnesium dengan perbandingan 1:4. Masalahnya adalah, susu sapi tidak mengandung cukup magnesium. Hasilnya? Kalsium yang tidak diserap oleh tubuh berubah menjadi kalsium ‘siluman’ yang ‘mengotori’ darah dalam tubuh, menimbulkan masalah instan maupun akumulatif. Bahkan untuk menetralisir kalsium tersebut, tubuh mempergunakan cadangan kalsium yang ada didalam tulang. Belum lagi, kebanyakan orang Asia adalah keturunan Lactose Intolerant sehingga tidak hanya dapat berakibat diare, tetapi juga dapat mengakibatkan migraine, produksi lendir, batuk-pilek, gangguan kulit, bahkan alergi”.

Sependapat dengan Profesor Hiromi Shinya, Erikar juga mengatakan bahwa pemikiran susu adalah minuman super disebabkan oleh maraknya iklan dari pihak produsen susu. Dia juga menambahkan bahwa “Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa menjadi sasaran empuk bagi industri susu dunia untuk mengeruk keuntungan”.

Agar terhindar dari penyakit osteoporosis, Erikar Lebang menyarankan agar mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran dalam bentuk segar (mentah) karena enzim dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh akan hilang jika dipanaskan.

Jadi, masih percaya kalo susu itu minuman sehat?

KAORI Newsline | Teks oleh Dino

1 KOMENTAR

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.