BAGIKAN

Flashfic: Tsundere, oleh happynegro

tsundere

Gadis itu adalah seorang anak perempuan dari kelas A. Entah mengapa hari ini Ia memanggilku untuk menunggunya ketika bel pulang berbunyi.

Gadis itu cukup populer di kelasnya, cukup pintar untuk menembus ranking sepuluh besar umum, dan jago olahraga. Aku hanya bisa berpikir, untuk apa Ia memanggilku yang bukan apa-apanya ini? kupikir seleranya lebih berkelas.

Dan disinilah aku, berdiri di depan pintu masuk bangunan sekolah. Sepatu sudah kukenakan, sandal sekolah sudah kusimpan, tas sudah kusandang, hujan sungguh bajingan. Mendadak gempuran air turun dengan derasnya, seakan tahu niat burukku untuk kabur.

Pemandangan siswa-siswi yang berlarian ke halte bis sungguh memuaskan. Sebagian mungkin segera pulang ke rumah dan mengganti pakaiannya, sebagian lagi mungkin mengundang kakak kelasnya untuk mampir ke rumah dan begini begitu. Ugh, masa muda itu mengerikan.

“Heh, ngapain bengong di situ?”

Aku berbalik, gadis yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Gengsi tinggi selalu melekat di ekspresi wajahnya. Tatapan merendahkan itu membuatku muak. Sungguh, rasanya begitu memuakkan. Dua tahun bersamanya yang dahulu muncul entah dari mana dan memproklamirkan diriku sebagai musuh abadinya. Brengsek. “Terima kasih, Tuan Putri. Tapi berkatmu aku tak bisa pulang karena hujan yang deras ini.”

Wajahnya berubah merah padam. “Ih, salah sendiri mau nungguin.” Ha? Salah sendiri? Bukannya dia sendiri yang bilang [‘Awas kalau kau tak menungguku nanti.’]. Serius, aku tak mengerti dengan pemikirannya yang sungguh labil. “…m-mau pulang bareng?” Duh, mulai lagi deh. 

Untung masih ada payung cadangan yang tersisa di lobi sekolah. Nanti akan kukembalikan besok pagi setelah aku mengantarnya pulang. Ya, aku selalu mengantarnya pulang seperti seorang pembantu. Jikalau rumah kami tidak berdekatan mungkin beda ceritanya, namun si brengsek ini selalu menggunakannya sebagai alasan untuk memaksaku mengantarnya pulang.

Padahal tinggal ajak teman-teman sekelasnya. Beres.

Kami berjalan melewati rumah demi rumah, jembatan penyeberangan di jalan raya, kafe di persimpangan lampu merah, hingga taman bermain yang sunyi. Hanya rintik-rintik hujan yang menemani langkah kami bersama cipratan kecil genangan-genangan air yang terinjak oleh sepatu kami berdua. Entah apa maksudnya dengan menyuruhku menunggunya tadi. Kalau begini sama saja seperti pulang bareng yang seperti biasanya.

“A-anu.” Akhirnya gadis itu memecah keheningan. “Mengenai yang tadi..”

“Ya, ada apa?” sahutku.

“..nggak. Gak ada apa-apa.” Tingkahnya membuatku geram. Sebentar melirik, sebentar memalingkan wajahnya. Aku tak mengerti gadis ini maunya apa. Tiba-tiba Ia menarik lengan kanan kemejaku, membuatku tanpa sengaja menyenggol keras bahunya. 

“Duh, apa-apaan sih!” rutukku. Tentu saja kekesalanku beralasan. Payung yang menaunginya itu nyaris jatuh akibat tingkah seenaknya.

“Udah, diem!” balasnya.

“Diem apaan!? Aku gak ngerti tingkahmu hari ini, tahu!”

“Berisik! Pokoknya diam aja dan antarin aku sampai ke rumah!”

Akhirnya tanganku membanting payung itu, rintik hujan yang semula hanya membasahi bahu kiriku kini menyirami seragamku seluruhnya. “Jadi maumu apa!?”

“A-aku…” Wajahnya berubah merah lagi. Persetan kalau dia demam, aku sudah tak perduli lagi. “Aku mau ngomong sesuatu hari ini, tapi kau selalu saja tak mau diam.”

“Oh, ya memang benar. Aku harus diam di depan sang tuan putri, begitu bukan?” Perlahan kendali diriku yang selalu kujaga sejak bertemu dengannya semakin meretak. 

“Ta-tapi gara-gara sikapmu, aku tak bisa mengutarakannya!” Dia berkelit. Entah darimana munculnya tuduhan seperti itu.

“Ho, salahku dimana?”

Ia menunduk, wajahnya semakin memerah. “D-diam! Pokoknya biarkan aku bicara dulu! Gara-gara kau, aku jadi lupa!” Aku sudah muak. Sudah cukup aku melayani tingkahnya yang kekanak-kanakan ini. “Cih, seharusnya kau bersyukur bisa selalu pulang dengan siswa paling populer di seko-“

“Sudah puas?”

Entah yang mana yang sampai duluan. Baik itu tamparanku maupun selaanku, aku sudah tak perduli. Dua tahun dan akhirnya aku tak tahan lagi dengan berbagai macam hinaannya.

“….eh?” Tak butuh waktu lama untuk merasakan tamparan keras itu. Si gadis masih menatapku tak percaya. “…m-maaf, bukan itu maksudku….aku hanya, aku..” Sambil mengusap pipinya, ucapannya semakin terbata-bata. 

“Sudah. Aku tak perduli lagi.” Air mukanya tampak menyedihkan, seakan memohon belas kasihan. Sungguh menjijikan, gadis itu seakan lupa akan penderitaanku untuk menahan diri dari tingkah laku kasarnya selama ini. 

“Kumohon, tunggu… tunggu dulu..” Hujan deras itu semakin menyelimuti wajahnya. Entah apa lagi makian yang disimpannya untuk membalasku. “Sebentar, aku… surat..”
Oh, sebelum aku bertemu dengannya aku menemukan sebuah surat terselip di dalam kotak sepatuku. “Jadi kau yang menyelipkan ini?” Aku mengeluarkan secarik amplop putih itu dari dalam tas punggungku. Bahan luarannya yang tahan air membuat isi dalamnya tak tersentuh air sedikitpun.

Surat itu kusobek sampai habis. Aku tak peduli sama sekali dengan isinya. “…M-maafkan aku… maafkan aku…” Isak tangis pun muncul dari gadis brengsek itu. Entahlah. Baru pertama kalinya aku melihat dirinya seperti itu. Sungguh menyedihkan.

“Pulang saja sendiri. Aku harus minta maaf dengan teman sekelas yang kubatalkan janjinya tadi siang.” Aku melangkah sendirian melewati derasnya hujan, meninggalkannya bersama payung pinjaman itu.


***

*cerita ini hanya fiktif belaka, bukan pengalaman pribadi penulis, dan kesamaan nama, tempat, maupun cerita semata kebetulan belaka. Tautan cerita : Tsundere

1 KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.