BAGIKAN
lola zieta

Salah satu studio game asal Indonesia, Gambir Studio, akan segera merilis gim terbarunya yang berjudul Jurit Malam. Dijadwalkan akan hadir pada 28 Februari, gim ini terasa berbeda karena mereka akan berkolaborasi dengan Lola Zieta, salah satu cosplayer ternama di tanah air.

Menjelang perilisannya, tim KAORI Nusantara berkesempatan untuk mewawancarai CEO Gambir Studio, Syafiq Husein. Lewat wawancara ini kami mengulik lebih jauh tentang penggarapan gim Jurit Malam yang disebut-sebut berbeda dengan berbagai judul gim yang sebelumnya telah dirilis oleh studio ini, serta keterlibatan Lola Zieta dalam pembuatan gamenya.

Seperti apa wawancaranya? Berikut adalah petikan wawancara KAORI bersama Gambir Studio!

Advertisement Inline

Pertama-tama bisa perkenalkan diri Anda serta tim studio Anda terlebih dahulu?
Halo. Perkenalkan nama saya Syafiq, CEO Gambir Studio yang berdomisili di Yogyakarta. Selama ini kami telah merilis banyak gim untuk ponsel Android dan iOS, salah satunya TTS Lontong. Untuk gim lainnya yang telah dirilis oleh kami bisa Anda cek di Playstore dan Appstore.

Apa yang membuat Jurit Malam ini berbeda dengan judul-judul gim Gambir Studio lainnya?
Jurit Malam bakal beda karena kami berkolaborasi dengan Lola Zieta. Bedanya jauh banget. Ini game horor pertama kita, dibuat dalam format 3D, dan ada storynya. Karena kami berkolaborasi dengan Lola Zieta, jadi akan ada unsur-unsur “terbaik” lainnya di sini.

Kira-kira gim ini nantinya akan seperti apa?
Kalau gimnya sendiri lebih condong ke story dan nanti akan dirilis secara episodik. Tiap cerita di episodenya bakal beda-beda. Untuk gameplay-nya nanti akan ada escape-room yang berisi berbagai puzzle minigame. Nanti player juga akan mengoleksi item-item khusus di dalam game-nya.

Dalam proyek gim Jurit Malam ini kan Gambir Studio berkolaborasi dengan Lola Zieta. Apa perannya pada fase pengembangan gamenya?
Lola Zieta sendiri terlibat dalam pengembangan karakter utamanya. Jadi kira-kira karakternya akan seperti apa, image-nya bagaimana. Kami ingin memasukkan sedikit elemen karakternya Lola di game ini. Di sini ia berperan menjadi karakter yang berbeda, yaitu sebagai Rei. Kami lihat fanbasenya Lola ini begitu kuat, ada sekitar 200 ribuan member, jadi mereka sudah tahu sosok Lola itu seperti apa. Walaupun ia berperan sebagai karakter yang lain, kami ingin ada unsur Lola Zietanya di situ.

© Gambir Studio

Darimana tim Gambir Studio mendapat ide untuk membuat gim Jurit Malam ini? Dan apakah Anda juga melakukan riset untuk mengenal sosok hantunya?
Kalau Anda melihat rekam jejak Gambir Studio, kami memang sudah punya pengalaman membuat game dengan konten lokal yang Indonesia banget. Kegiatan jurit malam sendiri juga banyak dilakukan di sini sebagai salah satu budaya kita. Kami ingin mengangkat unsur ini jadi sebuah gim horor dan tentunya juga mengangkat berbagai hantu lokal, seperti pocong, kuntilanak, dll.

Bila gim Jurit Malam berhasil sukses, apakah ada rencana untuk merilis game ini ke platform lain seperti PC?
Rencananya ada. Setelah gamenya sukses di Indonesia, kami juga berencana untuk menyasar pasar global. Tentunya game-nya nanti akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ada rencana untuk merilis gamenya ke PC melalui Steam. Jadi untuk saat ini kami melihat responnya di tanah air nantinya seperti apa.

Apa alasan Anda memilih Lola Zieta untuk memerankan karakter Rei di gim Jurit Malam? Apakah ada market spesifik yang ingin diincar oleh Gambir Studio atau lebih ingin memberikan gim dengan nuansa yang berbeda?
Alasan awal kami berkolaborasi itu sebenarnya simpel banget. Kantor Gambir Studio ada di Yogyakarta dan Lola Zieta pun juga tinggal di situ. Kayaknya kita bakal lebih mudah bekerja bareng karena tinggal di satu kota. Akhirnya kita coba untuk ketemuan membicarakan konsep gamenya dan dia tertarik. Konsep awal gamenya sebenarnya juga simpel, di mana aslinya kami lebih mengandalkan elemen jump scare di dalamnya. kebetulan tinggal di Jogja. Sejak Lola ikut terlibat dalam pembuatan gamenya dan dia juga concern banget dengan konsep karakternya, akhirnya proyek gamenya kami blow-up dengan berbagai trailer yang telah dirilis.

Yang awalnya bertemu hanya karena tinggal sekota, lama kelamaan kami merasa Lola ini cocok dengan proyek game-nya. Kalau kita melihat di Indonesia sendiri, horor dan seks itu merupakan hal yang susah dilepas, jadi kami mencoba menggabungkan dua hal itu ke dalam satu game baru dengan memasukkan elemen sosok Lola ke dalam karakter Rei.

© Gambir Studio

Dalam pembuatan gim Jurit Malam yang berkolaborasi dengan Lola Zieta, persiapan apa saja yang dibutuhkan dalam membuat game ini? Ataukah tim Gambir Studio juga mempelajari hal baru dalam proyeknya?
Banyak banget. Ini pengalaman pertama kali membuat game yang memiliki cerita. Kami sendiri bukanlah tim yang punya background penulis cerita dan sejenisnya dan ini menjadi tantangan tersendiri. Efeknya pembuatan gamenya jadi lebih lama dibanding judul-judul yang pernah dibuat sebelumnya karena kami mencari tahu hal apa saja yang membuat orang suka dengan game horor. Selain itu, kami juga mulai belajar membuat model 3D yang bagus, merancang adegan cutscene yang bagus, serta membuat musiknya

Sebagai salah satu pemain di industri game tanah air, kami penasaran. Bagaimana persaingan di ranah industri game Indonesia sendiri? Apakah susah untuk menembus market-nya, terlebih lagi sekarang sudah ada developer lokal yang mulai mendunia?
Kita sendiri tidak terlalu khawatir tentang itu dan kita malah menganggap itu sebagai tantangan tersendiri. Kita selalu berpikir persaingan itu pasti ada di bidang manapun, gak cuma di bidang game developer. Kita berpikir begini: Kenapa kita fokus ke gim dengan konten lokal? Karena kita yakin market Indonesia ini masih banyak dan luas banget. Kuenya itu masih besar. Sejak adanya developer luar yang masuk ke pasar tanah air, yang tahu market kita lebih baik itu ya kita sendiri yang sudah tinggal di sini. Kekuatan konten lokal menurutku masih lumayan kenceng di Indonesia. Kalau kita ngomongin horor, kita lebih suka dengan cerita-cerita yang sifatnya urban legend, seperti tuyul, kuntilanak, dan babi ngepet. Menurut ku orang luar-luar ini belum tentu tahu soal ini.

Kalau bicara skill, menurutku kita sebenarnya tidak beda jauh dengan studio-studio lain di luar. Yang kita kurang itu lebih ke hal-hal yang sifatnya ekonomi, seperti budget marketing dan promosi. Untuk masalah user aquisition dan promotional budgetnya tentu lebih besar.
Kembali ke soal market, Indonesia itu sebenernya masih belum memiliki pola pasar tersendiri. Kalau di Jepang dan Eropa mereka sudah bisa membuat game dengan style-nya sendiri. Sementara itu market di sini itu masih dinamis banget. Style gambarnya pun masih belum dikatakan punya gaya sendiri sampai kita mau bilang “Wah, ini game Indonesia nih!”. Kita pun bisa bikin game dengan gaya Amerika, Jepang dan Eropa, djdi market kita masih fleksibel. Makanya kalo soal skill saya tidak ragu kalau kita bisa banget bersaing, tapi kita butuh kesempatan aja.

Wawancara KAORI bersama Gambir Studio berlanjut ke halaman kedua.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.