BAGIKAN

Di artikel sebelumnya, KAORI sudah membahas dua sastrawan dari anime Bungo Stray Dogs yaitu Akutagawa Ryuunosuke dan Atsushi Nakajima. Kali ini, giliran Doppo Kunikida dan Akiko Yosano yang akan dibahas. Yuk mari berkenalan dengan kedua tokoh ini di dunia nyata.

Doppo Kunikida

Doppo Kunikida merupakan seorang sastrawan yang karyanya diterbitkan dalam berbagai bentuk. Lahir di Choshi, prefektur Chiba, pada tanggal 15 Juli 1871, ia dikenal sebagai salah satu perintis naturalisme dalam sastra Jepang. Doppo dibesarkan oleh ibunya, dan ayahnya yang merupakan samurai. Sebelum dikenal luas, nama aslinya adalah Tetsuo Kunikida. Pada tahun 1874, Doppo beserta keluarganya pindah ke Tokyo, yang kemudian pindah lagi ke Yamaguchi, tempat ia dibesarkan di Iwakuni. Doppo Kunikida sangat mencintai keindahan alam, membuat aliran naturalisme nya kental di setiap karya – karya yang dibuatnya. Pada tahun 1889, Doppo kuliah di Tokyo, tepatnya di Tōkyō Senmon Gakkō (sekarang Universitas Waseda) dan mengambil jurusan bahasa Inggris. Semasa kuliah, ia tertarik dengan demokrasi dari Barat, yang menginsipirasinya untuk melakukan pembangkangan politik terhadap pihak universitas, dan akhirnya ia dikeluarkan pada tahun 1891. 

Doppo Kunikida

 

Karakter Doppo Kunikida dalam Bungo Stray Dogs  (© Asagiri Kafka / Harukawa 35 / KADOKAWA / 2019 Bungo Stray Dogs Production Committee)
Advertisement Inline

Pada tahun 1892, Doppo membuat majalah sastra dengan judul Seinen Bungaku (Sastra Pemuda). 1 tahun setelahnya, ia menerbitkan jurnal sastra Azamaukazaru  no ki. Doppo bekerja di Tokyo sebagai editor majalah Kokumin no Tomo. Semasa bekerja, ia bertemu calon istrinya kelak, yaitu Nobuko Sasaki (yang juga ditampilkan dalam anime Bungo Stray Dogs). Sempat tidak direstui orangtuanya, Nobuko nekat menikah dengan Doppo. Namun setelah 5 bulan menikah dan Nobuko sedang mengalami kehamilan, mereka bercerai karena kondisi keuangan yang lemah. Perkawinan yang gagal membuat Doppo depresi, dan menuangkannya ke dalam karya – karya yang diterbitkan di jurnal Azamaukazaru no ki yang diterbitkan pada tahun 1908 hingga 1909. Tidak lama setelah bercerai, Doppo beralih ke genre romantis. Pada tahun 1897, Doppo menerbitkan antologi puisi berjudul ‘Jojoshi’. Di tahun yang sama, ia menerbitkan beberapa puisi yang nantinya dikumpulkan dengan nama ‘Doppo Gin’. Doppo Kunikida meninggal pada 23 Juni 1908 karena penyakit tuberkulosis, dan dimakamkan di pemakaman Aoyama, Tokyo

Salah satu karya Doppo Kunikida

Skill: Doppo Ginkaku

Dalam anime Bungo Stray Dogs, Doppo Kunikida digambarkan sebagai seseorang yang tegas. Ia sangat taat aturan dan selalu rapi. Namun karena sifatnya itu, tak jarang Doppo dijadikan sasaran kejahilan oleh rekan – rekan kerja lainnya, terutama dari Osamu Dazai. Doppo Kunikida memiliki kemampuan yang disebut Doppo GinkakuDoppo PoetDengan kemampuan ini, Doppo dapat membuat benda/objek yang ia tulis di buku catatannya menjadi nyata, misalnya saja granat atau pistol. Walaupun  sangat praktis digunakan di pertarungan, kemampuan ini memiliki kelemahan yang cukup besar, yaitu Doppo tidak bisa membuat sesuatu benda yang lebib besar dari buku catatannya. Selain itu, apabila kertas dalam buku catatannya habis, membeli bukunya memerlukan uang yang banyak. 

Doppo mampu mewujudkan benda apapun yang ia tulis di catatannya (© Asagiri Kafka / Harukawa 35 / KADOKAWA / 2019 Bungo Stray Dogs Production Committee)

Doppo Ginkaku terinspirasi dari kumpulan puisi karangan Doppo sendiri, yaitu Doppo Gin. Doppo Gin dipublikasi pada tahun 1897, dengan aliran romantisme, di mana Doppo menuangkan kesedihan hatinya setelah bercerai dari Istrinya.

Akiko Yosano

Memiliki nama asli Shiyo Yosano, ia lahir di Sakai, Osaka, Jepang, pada 7 Desember 1878. Selain menjadi penulis, Akiko juga merupakan penyair, perintis feminisme, dan juga tokoh reformasi sosial. Akiko terlahir dari keluarga pedagang yang makmur di Osaka. Di usianya yang ke 11, Akiko sudah membantu keluarganya berdagang, seperti memproduksi dan menjual permen kacang. Sejak kecil, ia sudah tertarik pada karya – karya literatur, dan sering membaca banyak karya di perpustakaan ayahnya yang luas. Saat SMA, Akiko berlangganan majalah puisi Myojodan menjadi salah satu kontributornya.  Tekkan, salah satu editor di majalah tersebut, mengajarkan banyak ilmu tentang puisi Tanka (puisi pendek) kepada Akiko. Walaupun Tekkan sudah memiliki istri dari pernikahan adat, lambat laun, Tekkan dan Akiko saling jatuh cinta. Akhirnya Tekkan berpisah dengan istri lamanya, dan menikahi Akiko pada tahun 1901.

Akiko Yosano

 

Karakter Akiko Yosano dalam Bungo Stray Dogs  (© Asagiri Kafka / Harukawa 35 / KADOKAWA / 2019 Bungo Stray Dogs Production Committee)

Karya sastra Akiko bermulai pada tahun 1901, di mana ia menerbitkan volume Tanka pertamanya, dengan judul ‘Midaregami’ (The tangled hair/rambut kusut), yang berisi 400 puisi dan sangat dikagumi oleh para pengkritik dan pengamat literatur. Ia melanjutkan karyanya dengan membuat 20 antologi waka, seperti ‘Maihime’ (dancer/penari) dan ‘Koigoromo’ (Robe of love/jubah cinta).  Walaupun sama – sama seorang penyair, Tekkan menyadari istrinya memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari miliknya, sehingga ia memutuskan untuk fokus membantu mengembangkan karir Akiko. Selama zaman Taisho, Akiko menjadi seorang pemerhati sosial, dengan menuliskan komentar – komentarnya dalam karyanya yaitu  ‘Hito obyobi Onna to shite’ (As a Human and as a Woman/Seorang manusia dan seorang wanita), ‘Gekido no Naka o Iku?’ (Going through Turbulent Times/Melewati Masa yang Bergolak) dan autobiografi Akiko yaitu Akarumi e (To the Light/Menuju Cahaya). Tulisannya kebanyakan mengkritisi kondisi militer Jepang yang sedang berkembang, dan juga menunjukkan sudut pandangnya sebagai seorang feminis.

Salah satu karya Akiko Yosano

Akiko mendirikan sekolah pendidikan bernama Bunka Gakuin (Institute of Culture), dan menjadi dekan pertama sekaligus menjadi kepala dosen. Ia membantu para penulis muda berpijak dalam dunia literatur. Karya terakhirnya, ‘Shin Man’yoshu’ (New Man’yoshu), merupakan kompilasi 26.783 puisi  yang berasal dari 6.675 kontributor dengan rentang waktu 60 tahun. Akiko meninggal pada 29 Mei 1942 akibat penyakit stroke. Karena meninggal di tengah terjadinya Perang Pasifik, maka beritanya tidak terdengar ke khalayak umum. Dan setelah perang berakhir, masyarakat mulai  melupakan karya – karyanya. Namun beberapa tahun terakhir, gaya penulisannya yang romantis dan sensual kembali populer dan banyak orang lebih mengenal sosok Akiko Yosano.

Skill: Kimi Shinitamō Koto Nakare

Dalam Bungo Stray Dogs, Akiko Yosano diceritakan sebagai seorang dokter jenius. Penampilannya digambarkan seperti karakter  onee-san, short haired dan memiliki suara yang cukup menggoda. Ia memiliki kemampuan dengan nama Kimi Shinitamō Koto Nakare (Thou Shalt not Die/Kau Tidak Mati). Dengan kemampuan ini, Akiko mampu menyembuhkan luka – luka pasiennya yang sangat parah, bahkan ketika pasien hampir mati. Namun sayangnya, kemampuan ini hanya tidak dapat digunakan untuk luka ringan. Jadi apabila Akiko ingin menggunakan kekuatannya pada pasien dengan luka ringan, maka ia terlebih dahulu harus melukai pasiennya hingga parah. Kemampuan ini terinspirasi dari salah satu puisi Akiko dengan nama yang sama. Puisi ini ditujukan kepada kakak laki-lakinya pada zaman Myojo. Puisi ini kemudian digubah menjadi sebuah lagu, dan digunakan sebagai bentuk protes terhadap perang.

Akiko dapat menyembuhkan luka separah apapun dengan kemampuannya (© Asagiri Kafka / Harukawa 35 / KADOKAWA / 2019 Bungo Stray Dogs Production Committee)

Nantikan kisah sastrawan lainnya dari serial Bungo Stray Dogs di artikel berikutnya hanya di KAORI!

KAORI Newsline

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.