BAGIKAN
diskusi lintas budaya
© Yupechika 2017 © Star Seas Company ©2004-2019 Seven Seas Entertainment. All rights reserved. All visual and textual content on this site (including all names, characters, images, trademarks, and logos) are protected by trademark, copyrights, and other intellectual property rights owned by Seven Seas Entertainment or its subsidiaries, licensors, licensees, suppliers, and accounts.

Budaya populer, biarpun dianggap sebagai hal yang “receh,” memiliki karakteristik-karakteristik yang membuatnya menjadi fenomena sosial-budaya yang menarik untuk dikaji dari berbagai sisi, termasuk misalnya dari sisi komunikasi antar budaya. Sisi itulah yang diangkat dalam kuliah Kuliah umum bertajuk Spaces in Between: Online Intercultural Discourse on Muslim through Reading of Yupechika’s Essay Manga yang diadakan di Auditorium Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Depok, pada tanggal 25 September 2019. Kuliah umum ini merupakan agenda pertama dari rangkaian Kuliah Umum Berseri Studi Jepang VIII yang diselenggarakan oleh Kajian Wilayah Jepang Universitas Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Jepang antara September hingga Desember 2019. Kuliah umum perdana ini menampilkan penelitian mengenai komik Satoko and Nada (Satoko to Nada) yang dilakukan oleh Dr. Indah Pratidina dari Departemen Komunikasi FISIP UI, yang juga pernah menjadi editor fiksi di PT Gramedia Pustaka Utama dan telah berpengalaman menerjemahkan buku Saga no Gabai Bachan yang ditulis Yoshichi Shimada dan buku komik Persepolis karya Marjane Satrapi.

Satoko and Nada sendiri adalah komik 4 panel (4-koma) karya Yupechika yang bercerita tentang Satoko, seorang mahasiswi Jepang yang bersekolah di AS dan tinggal sekamar dengan siswi asal Arab Saudi yang bernama Nada. Komik ini awalnya dimuat oleh Twi4, sebuah layanan yang menayangkan komik 4 panel di Twitter, sejak Januari 2017 sebelum kemudian terbit cetak pertama kalinya pada Juli 2017. Komik ini juga dianggap oleh Dr. Indah sebagai sebuah essay manga, walaupun tidak seperti essay manga biasanya, isinya tidak berdasarkan pengalaman penulisnya sendiri saja, tapi terinspirasi dari pengalaman beberapa orang Jepang. Perbedaan budaya antara kedua tokoh utamanya yang berasal dari bangsa yang berbeda merupakan tema utama dalam komik tersebut, dan hal inilah yang ditelaah oleh Dr. Indah dengan mendalami penggambaran hal tersebut dalam komiknya dan juga tanggapan pembaca. Beliau juga telah melakukan wawancara dengan editor komik tersebut, Yumiko Hayashi, namun belum sempat melakukan wawancara langsung dengan penulisnya.

Sebagaimana dicantumkan dalam tajuk kuliah umum ini, “ruang” merupakan salah satu konsep kunci dan diartikan sebagai tempat terjadinya interaksi dan komunikasi, sehingga tidak selalu merujuk kepada tempat fisik, tetapi bisa juga berupa media. Sebagaimana dikutip dari Judith dan Nakayama (2017) dalam pemaparan ini, media budaya populer bisa memperkenalkan budaya yang berbeda tanpa memerlukan perpindahan fisik dari orang-orang yang terlibat. Berkenaan dengan Satoko and Nada, ruang terjadinya interaksi dan komunikasi antar budaya adalah media komik itu sendiri dan juga media Internet di mana komik tersebut dimuat dan di mana pembaca menunjukkan tanggapannya terhadap media komik itu.

Advertisement Inline

Selanjutnya, dijelaskan komunikasi antar budaya adalah suatu proses yang melibatkan pihak-pihak yang memiliki acuan latar belakang budaya yang berbeda dalam menghasilkan makna. Perbedaan budaya itu dapat berupa hal-hal yang nampak di permukaan seperti cara berpakaian ataupun makanan, maupun perbedaan pada nilai-nilai dasar yang lebih mendalam. Perbedaan pada kedua tingkat tersebut digambarkan dalam Satoko and Nada dan menjadi sumber kesulitan dalam berkomunikasi di antara keduanya. Namun perbedaan itu disikapi dengan kemauan untuk bertukar informasi untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan, walaupun tidak langsung mencapai saling pemahaman, seperti ketika Satoko mengira ia juga harus memakai baju tertutup ketika Nada sedang salat. Dan proses itu juga tidak berlangsung satu arah saja, seperti ketika Satoko dan Nada bersama teman-temannya berdiskusi soal agama yang dianut orang Jepang. Secara keseluruhan, topik-topik berat tersebut dibawakan dengan ringan oleh komiknya melalui gambaran pengalaman sehari-hari, bukan dengan penjelasan panjang lebar, walaupun memang ada sejumlah catatan penjelasan mengenai konsep-konsep seperti Ramadan.

Ruang komunikasi budaya itu bukan hanya ada dalam komiknya saja, tetapi juga dapat ditemukan dalam media online melalui tanggapan-tanggapan pembaca terhadap komik Satoko and Nada, khususnya dari pembaca Jepang. Dr. Indah mengumpulkan tanggapan-tanggapan itu dari media Twitter sendiri di mana komik ini dimuat dan juga dari ulasan di Amazon.co.jp, yang menghasilkan ada tiga bentuk tanggapan utama, yaitu tanggapan postif, perlakuan sebagai budaya populer, dan tanggapan negatif. Tanggapan-tanggapan yang bernilai positif mengungkapkan apresiasi kepada pengetahuan yang dapat dipelajari mengenai islam, keinginan memahami serta refleksi atas perbedaan budaya. Sementara perlakuan sebagai budaya populer merujuk kepada tanggapan yang lebih seperti meniru aspek-aspek permukaan dari budaya yang dilihat dari komik ini sebagai mode, misalnya mencoba memakai pakaian seperti yang dipakai Nada atau mencoba kopi Arab.

Biarpun sedikit, ada juga sejumlah tanggapan negatif. Misalnya ada yang menganggap komik ini berat sebelah kepada sisi yang baik dari Islam, sementara kenyataannya tetap ada juga orang Islam yang melakukan terorisme. Padahal meski ada benarnya, tentu saja hal seperti itu juga berlaku pada kelompok agama atau bangsa apapun. Ada juga yang berpikir konspiratif dan mencurigai komik ini sebagai media penyebaran ajaran Islam.

Setelah pemaparan materi selesai, sesi diskusi bersama peserta kuliah umum dimulai, dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan cenderung lebih mengarah ke bagaimana pandangan orang Jepang terhadap muslim dan bagaimana muslim diperlakukan di Jepang. Hal itu nampaknya karena sisi-sisi kehidupan Nada sebagai muslim, seperti puasa Ramadan, sudah relatif lebih familiar bagi audiens Indonesia, biarpun sebagai karakter orang Arab tentu saja ada bagian-bagian dari budaya Nada yang berbeda dari orang Indonesia, dan orang muslim di Indonesia pun belum tentu banyak yang benar-benar paham apa perbedaan jilbab, hijab, niqab, dan lain-lainnya. Berdasarkan pengalaman pribadinya bersekolah di Jepang, Dr. Indah sendiri merasakan ada perbedaan sikap orang Jepang kepada Islam sebelum dan sesudah peristiwa 11 September, dari tadinya hanya dilihat sebagai sesuatu yang asing menjadi ada keinginan untuk mengetahui Islam itu apa.

Lebih lanjut dibahas juga bahwa sikap itu juga dipengaruhi oleh agenda Cool Japan dan perkembangan tren bisnis halal. Potensi kunjungan wisatawan dari negara-negara yang memiliki banyak populasi muslim menjadikan kebutuhan wisatawan muslim lebih diperhatikan untuk menarik kunjungan mereka, apalagi dengan akan diadakannya Olimpiade Tokyo di tahun 2020. Namun walaupun fasilitas untuk turis sudah lebih nyaman, belum tentu hal yang sama berlaku bagi muslim yang menetap tinggal di Jepang untuk belajar dan bekerja. Bagaimana kebijakan perusahaan-perusahaan Jepang mengenai kebutuhan-kebutuhan karyawan muslim untuk melaksanakan ibadah salat atau puasa bisa saja berbeda-beda antara tiap perusahaan. Sebagaimana dikatakan oleh pembicara dan moderator, hal ini bisa menjadi topik untuk diteliti lebih lanjut.

Secara keseluruhan, acara ini telah menjadi diskusi akademis yang baik. Melalui pertanyaan-pertanyaan yang sarat semangat keingintahuan, dan tanggapan yang dibawakan dengan cermat oleh pembicara, terjadi pertukaran ide yang memunculkan potensi-potensi untuk riset-riset lebih lanjut dari topik-topik yang dibahas.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.