Sejak menulis untuk KAORI, sebenarnya secara pribadi saya ingin menghindari penggunaan label “review”. Jujur saja, saya sebenarnya memang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan kritik atau kajian sastra atau film. Saya menimba ilmu di bidang yang lebih banyak berkutat dengan teori-teori mengenai politik dan kehidupan sosial. Walaupun belakangan ini saya juga mencoba memperluas perspektif dengan mempelajari kajian-kajian spesifik mengenai anime (seperti dari Thomas Lamarre) atau membaca-baca analisis pengamat sakuga (penggemar animasi yang fokus apresiasinya pada seni gambar bergerak).

Tapi sebagai seorang penikmat anime dan manga, justru latar belakang keilmuan itu yang menjadi motivasi kuat untuk membahas dan menulis tentang anime dan manga. Saya merasa terpicu ketika menemukan hal-hal dalam anime dan manga yang bisa saya kaitkan dengan ilmu-ilmu yang telah saya pelajari. Misalnya saja ketika menonton Taisho Baseball Girls, konflik-konflik yang ditampilkan olehnya membuat saya terpikir kembali mengenai apa yang pernah saya pelajari mengenai permasalahan identitas kebangsaan dalam proses modernisasi. Hal-hal menarik seperti itulah yang ingin saya bahas dan sampaikan melalui tulisan.

Mungkin itu bukan cara pandang yang umum dalam menikmati anime/manga. Tapi di sisi lain bukan cuma saya sendiri yang memiliki cara pandang seperti itu terhadap anime/manga yang ditonton/dibaca. Setidaknya dalam lingkungan pergaulan wibu saya di kampus, membahas hal-hal serius dari anime/manga sudah seperti menjadi hal yang cukup lumrah. Senior saya yang berminat pada topik-topik militer dan keamanan bisa saja dengan semangat membahas membahas Code Geass atau Naruto dari perspektif Realisme. Sementara teman saya yang lainnya bisa memberi bahasan filosofis yang asik mengenai uang dari satu episode anime R-15(!).

Advertisement Inline
Bisakah anime harem fanservice gak mutu dipakai untuk membahas topik yang serius? Tanyakan ke siapa dulu...
Bisakah anime harem fanservice gak mutu dipakai untuk membahas topik yang serius? Tanyakan ke siapa dulu…

Pemikiran bahwa hiburan “remeh temeh” itu bisa menjadi media untuk membahas hal-hal serius semakin diperkuat dengan membaca buku pengantar teori Hubungan Internasional yang disusun oleh Cynthia Weber. Buku itu memberi pendekatan menarik dengan membahas teori-teori HI melalui film-film populer Hollywood seperti Independence Day dan The Truman Show.  Weber sendiri berpendapat bahwa pembahasan seperti itu penting, karena media-media populer yang seringkali diangap remeh temeh itu, sebenarnya ikut mereproduksi gagasan-gagasan dan pandangan-pandangan mengenai dunia sebagaimana teori-teori sosial dan politik di ranah akademia, namun dalam bentuk yang lebih mudah disampaikan dan diterima oleh khalayak yang lebih luas.

Berbeda dari “review” biasanya yang diidentikkan dengan memberi penilaian apakah suatu tontonan/bacaan itu bagus atau jelek, saya lebih tertarik menanyakan hal apa yang bisa menarik untuk dibahas dari situ. Dengan pikiran seperti itu lah saya kemudian memilih untuk menggunakan label “ulasan”, karena merasa konotasi yang lebih luas dari kata tersebut bisa mengakomodasi bentuk-bentuk bahasan mengenai anime yang lebih beragam. Dan kebetulan juga, karena kebijakan penggunaan bahasa Indonesia di KAORI, memang label yang digunakan adalah ulasan. Memang, saya masih mencoba memasukkan rekomendasi praktis seperti, “kalau tidak maniak-maniak amat dengan twintail, sebaiknya tidak usah nonton Ore, Twintail ni Narimasu karena isinya pasti akan terasa cuma omong kosong gak jelas.” Tapi tetap, tujuan utamanya adalah menghadirkan angle atau perspektif yang menjadikan anime itu bisa dibahas lebih dalam.

oretsu4
“There’s always substance in anime, even in the shallow shows. You just have to consider aspects of the show beyond the show itself, and a whole world of material worth talking about opens up.” -Ogiue Maniax

Namun ternyata tetap saja muncul protes bahwa ulasan tidak seharusnya seperti itu. Ekspektasi pembaca ulasan sepertinya masih lebih condong kepada mencari penilaian apakah media yang diulas itu bagus atau jelek. Menanggapi tanggapan seperti demikian, saya pernah mengusulkan apakah untuk bahasan yang lebih dalam soal anime/manga seperti itu sebaiknya diberi rubrik tersendiri saja yang berbeda dari ulasan. Namun ternyata D1 berpendapat hal itu tidak perlu jadi masalah dan biar saja tetap ditulis sebagai ulasan. Kalau memang keputusannya demikian, ya saya ngikut saja.

Di satu sisi, memang tidak bisa mengharapkan bahwa semua orang akan tertarik dengan model bahasan anime/manga yang seperti itu. Lingkungan pergaulan saya di kampus seperti yang saya ceritakan di atas mungkin telah memberikan zona nyaman yang bisa bikin terlena karena sama-sama suka membahas topik-topik serius dari anime/manga. Tapi di luar pergaulan yang sempit itu, dunia wibu itu cukup luas dan berisi berbagai gelombang pemikiran dan perilaku yang berbeda. Di luar sana ada dunia di mana sebagian orang mungkin merasa lebih senang mengatai waifu orang lain sebagai sampah *) atau menghina-hina anime populer yang tidak disukainya sebagai overrated, atau mengeluhkan isekai sebagai kanker baru dunia anime tanpa menggali lebih dalam dan mendasar apa yang dimaksud dengan istilah isekai sebenarnya. Itu adalah suatu kenyataan hidup yang harus diterima bahwa tidak mungkin memaksa semua orang agar memiliki bentuk-bentuk ketertarikan yang sama.

Tapi di sisi lain, memang menjadi tantangan bagaimana bahasan yang serius dan dalam bisa disajikan secara ringan dan mudah dimengerti. Ketika menulis ulasan Ore, Twintail ni Narimasu saya berpikir keras bagaimana caranya bisa membahas anime ini dari perspektif psikoanalisis tanpa harus menggunakan istilah-istilah psikoanalisis yang njelimet itu, sebelum akhirnya menghasilkan tulisan seperti demikian. Ini bukan upaya yang mudah untuk diwujudkan, dan pada akhirnya beberapa tulisan seperti ulasan Kamen Rider Fourze atau Phantom World yang saya buat masih lebih terasa seperti materi kuliah yang sulit dibaca. Tapi saya harap upaya-upaya yang tidak memuaskan itu tidak diabaikan sebagai kegagalan, namun bisa dijadikan bahan pelajaran bersama untuk mengembangkan bahasan serius mengenai anime/manga yang lebih mudah mudah untuk dicerna ke depannya. Bereksperimen tidak boleh takut atau putus asa dengan kegagalan.

Dan di KAORI, saya bersyukur karena ada rekan-rekan yang juga memberanikan diri untuk menulis bahasan yang lebih dalam mengenai anime dengan ilmu yang dimilikinya masing-masing; seperti Rafly yang mencoba membahas Plastic Memories dan Kiznaiver dengan konsep-konsep ilmu komunikasi, atau Kevin yang bisa menggali bacaan-bacaan dipelajarinya dari ilmu sastra untuk membahas mengapa anime Kantai Collection atau Phantom World lebih banyak menyoroti kepribadian karakter dalam kehidupan sehari-hari yang sifatnya personal dibandingkan pertarungan dahsyat untuk menyelamatkan dunia. Bacaan-bacaan seperti ini memberi saya wawasan yang menarik dan menjadi bahan pelajaran juga bagi saya.

Apakah menganggap hiburan remeh tidak bisa dibahas secara serius merupakan sebuah bentuk elitisme kelas?

Akhir kata, tidak ada salahnya dengan membuat atau membaca review konvensional karena memang ada segmen pembaca yang bisa memperoleh manfaat dari review seperti itu. Namun saya sendiri memang kurang tertarik dengan review konvensional dan lebih ingin membahas anime/manga dengan cara-cara atau pendekatan lain. Ada banyak cara untuk memahami dan membahas anime/manga, dan menggunakan perspektif keilmuan bisa ikut memperkaya khazanah diskusi dengan membahas lebih dalam aspek-aspek yang mungkin terlewat oleh review konvensional.

Catatan Tambahan

*) Bukan berarti saya menganggap rendah orang-orang yang suka fanboying/fangirling terhadap karakter-karakter yang disukainya, karena toh saya sendiri juga suka fanboying terhadap karakter-karakter tertentu. Namun tiap orang memiliki konteks personal masing-masing yang beragam yang membuat mereka lebih suka pada satu karakter dibandingkan karakter lainnya. Menurut saya tidak etis saja menyampahi karakter kesukaan orang lain tanpa memahami mengapa orang itu bisa sedemikian sukanya pada karakter itu.

Oleh Halimun Muhammad | Penulis adalah pengamat sekaligus penikmat budaya pop kontemporer Jepang yang telah menempuh studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, menikmati sekaligus mencoba memotret kebudayaan anime dari perspektif akademis | Sumber gambar: R-15, Ore Twintail ni Narimasu

Artikel ini adalah pendapat dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.