Panji Koming, sosok karakter komik satir ini sudah tidak asing lagi bagi para pembaca surat kabar Kompas Minggu. Pada tanggal 20 hingga 24 November 2019, Bentara Budaya Jakarta menggelar pameran bertajuk Pameran Kartun Dwi Koen “Komedi Priyayi Panji Koming”. Dalam pameran yang juga diselenggarakan hampir bersamaan dengan peringatan 1000 hari wafatnya sang komikus, Dwi Koendoro ini, pengunjung dapat melihat sejumlah komik-komik Panji Koming dari masa ke masa, yang membentang dari tahun 1979 hingga 2019, lengkap dengan substansinya yang mengangkat problema-problema terkini pada zamanya.

Advertisement Inline

Pameran ini sendiri juga diselingi dengan acara bincang-bincang mengenai komik ini, beserta sang komikus sendiri, Dwi Koendoro, yang diselenggarakan pada hari Jumat 22 November 2019, dengan dibawakan oleh sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya. Tim KAORI Nusantara sendiri sempat menghadiri pembukaan pameran pada hari Selasa, 19 November 2019 lalu. Pada pembukaan pameran, turut dihadiri pula janda dari mendiang Dwi Koendoro, lengkap juga dengan kerabat-kerabat Dwi Koendoro, yang ternyata menjadi inspirasi dalam membuat karakter-karakter yang ada di komik ini, seperti Pailul, Ni Woro Ciblon, Bujel si bocah, hingga sosok karakter Koming itu sendiri. Berikut adalah beberapa foto-foto yang berhasil diabadikan oleh KAORI di sela-sela pembukaan pameran:

This slideshow requires JavaScript.

Nama komik ini berasal dari nama tokoh utamanya, Panji Koming, yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit. Selain singkatan “Kompas Minggu”, Koming juga berarti ‘bingung’ atau ‘gila’. Komik ini sendiri berisi satir atas peristiwa-peristiwa aktual yang terjadi pada zamannya.

Cerita dalam komik ini bersettingkan masa lalu, yaitu zaman Kerajaan Majapahit. Namun, kasus yang diangkat sering kali dikaitkan dengan hal-hal aktual yang terjadi di Indonesia, terutama masa Orde Baru dan sesudahnya. Tokoh Panji Koming adalah seorang pemuda kelas menengah bawah yang memiliki karakter lugu dan agak peragu. Ia memiliki pacar yang bernama Ni Woro Ciblon yang cantik, pendiam dan sabar. Dalam kehidupan sehari-hari, Panji Koming memiliki kawan setia bernama Pailul. Dia digambarkan sebagai sosok yang agak konyol namun lebih terbuka dan berani bertindak. Kekasih Pailul adalah Ni Dyah Gembili, perempuan gemuk yang selalu bicara terus terang. Tokoh protagonis lain adalah “Mbah”, seorang ahli nujum yang sering ditanya mengenai masalah-masalah spiritual serta seekor anjing buduk yang dijuluki “Kirik” (anak anjing dalam bahasa Jawa). Tokoh antagonis yang sering kali menjadi objek lelucon adalah seorang birokrat gila jabatan yang bernama Denmas Arya Kendor. Karakter Koming terpilih untuk gambar perangko Indonesia (1999).

Selain Panji Koming, Dwi Koendoro juga menulis komik Legenda Sawung Kampret, yang berkisah mengenai Sawung Kampret, yang disebut-sebut sebagai keturunan dari Panji Koming. Tidak seperti Koming yang merupakan komik strip dengan satir situasi politik terkini, Legenda sawung Kampret lebih merupakan komik petualangan mengenai aksi Sawung di Batavia zaman VOC.

Komik Panji Koming sendiri telah dihentikan peredarannya, setelah wafatnya sang komikus, Dwi Koendoro pada tanggal 22 Agustus 2019 lalu. Meskipun demikian, pada sesi pembukaan Pameran Komedi Priyayi ini, pihak Kompas menyebutkan tengah mempertimbangkan untuk “menghidupkan” komik ini kembali. Meskipun begitu, masih belum ada informasi lebih lanjut mengenai rencana tersebut.

Pameran Kartun Dwi Koen “Komedi Priyayi Panji Koming” dibuka untuk umum pada tanggal 20 hingga 24 November 2019, pukul 10.00 – 18.00 WIB, bertempat di Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan no.17, Jakarta Pusat.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.