BAGIKAN

Bentara Budaya Jakarta, Kompas Gramedia, menggelar Pameran Cergam Medan, diresmikan oleh Dr. Seno Gumira Ajidarma (Budayawan / Rektor Institut Kesenian Jakarta) pada tanggal 8 Desember 2017, di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan no 17, Jakarta Barat.

opening-cergam-medan-01

Sebermula dari artikel dalam seri Komik itu Baik di Kompas pada 1980, oleh Arswendo Atmowiloto, yang mengenalkan kembali Cergam Medan pada publik luas di Indonesia. Setelah itu, penerjemahan disertasi Marcell Boneff, Komik Indonesia, yang terbit pada 1998, mengenalkan lebih jauh Cergam Medan. Dan pada 2000-an, Cergam Medan menjadi sebuah aliran yang jadi “bisik-bisik” penuh kekaguman di kalangan kolektir, peneliti, dan para kreator muda. Nama-nama komikus legendaris seperti Taguan Hardjo dan Zam Nuldyn mulai mencuat dalam pembicaraan.

Advertisement Inline

This slideshow requires JavaScript.

Tapi, belum ada penelitian lebih mendalam tentang aliran komik yang unik dalam sejarah Indonesia ini, kecuali pada 2015, Koko Hendri Lubis mengeluarkan sebuah buku penelitian awal Komik Medan, Sejarah Cerita Bergambar di Indonesia yang diterbitkan secara terbatas. Maka, beberapa penggemar komik, kolektor, peneliti, dan aktivis komik berinisiatif untuk mendalami dan mengangkat kembali Cergam Medan ke publik Indonesia masa kini.

opening-cergam-medan-05

Sebabnya, adalah: Pertama, Cergam Medan adalah sebuah periode kreatif yang sangat kaya dengan capaian estetika seni komik yang unggul dalam sejarah Indonesia, dan sayangnya nyaris tenggelam dalam sejarah, dan artefak-artefaknya pun tak lagi tersimpan dengan baik. Kedua, perlu membangun kesinambungan historis antara situasi kreatif masa kini dengan situasi dan capaian kreatif Cergam Medan sehingga ada semacam rujukan yang kaya tentang apakah yang bisa dicapai oleh komik Indonesia.

20161208_204652

Dalam periode relatif pendek, antara 1950-an hingga 1960-an, Cergam Medan menghasilkan karya-karya komik dengan kesadaran sasatrawi dan seni gambar bernilai tinggi. Taguan Hardjo tetap dikenal jauh setelah periode Medan, hingga awal 2000-an. Zam Nuldyn menjadi legenda dengan mutu gambar realis dan kisah-kisah fantastis yang diangkat dari folklore. Banyak nama lain, seperti B. Djas, Bahzar, M. Ali, dsb. menanti untuk ditemukan kembali.

20161208_210509

Pada 13 Februari 2016, Forum Cergam yang terdiri dari Pusat Kajian Naratif Visual Fakultas Seni Rupa IKJ, Kelompok Kaji Cergam, Pabrikultur, CakrapolisAkademi Samali, dan beberapa perorangan yang menaruh minat pada perkembangan Cergam, mengadakan FGD Pemetaan Awal Cergam medan. FGD tersebut menghadirkan Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Ajidarma, Henry Ismono, Andy Wijaya, dan Koko Hendri Lubis yang menyajikan cuplikan temuannya dalam penulisan buku biografi Taguan Hardjo.

20161208_195552

Dari FGD itu, disimpulkan perlu ada semacam penyusunan sejarah kronologis yang mampu mengumpulkan dan memberi peta lebih lengkap tentang sejarah Cergam Medan. Selepas FGD, Henry Ismono memulai riset dan penulisan sejarah Cergam Medan dengan bantuan para kolektor dan akan diterbitkan secara independen.

20161208_210440

Akhirnya, rencana Pameran Cergam Medan ini disusun, dengan berbasis riset Henry Ismono, Lintasan Cergam Medan, dan Koko Hendri Lubis, Mengenal Kembali Taguan Hardjo, Langsung dari Hati yang akan diluncurkan juga sebagai bagian dari rangkaian pameran ini. Pihak Bentara Budaya Jakarta turut bekerjasama dengan menyediakan tempat pameran dan bazaar, sekaligus berbagai acara yang merentang dari 8-18 Desember 2016.

15439719_1359764594034905_7567116583529342354_n

Selain pameran yang menyajikan lintasan sejarah penerbitan Cergam Medan, ada diskusi dan peluncuran buku Koko Hendri Lubis, Mengenal Kembali Taguan Hardjo (penerbit: FSR IKJ Press), dengan pembahas Seno Gumira Ajidarma, pada Sabtu, 10 Desember 2016 pukul 14.00 – 16.00 WIB. Dan juga diskusi serta peluncuran buku Henry Ismono, Lintasan Cergam Medan (penerbit: Kelompok Kaji Cergam), dengan pembahas Arswendo Atmowiloto, pada Minggu, 11 Desember 2016 pukul 14.00 – 16.00 WIB.

15192665_10154063904277227_6250116639583070000_n

Di samping itu, ada beberapa workshop dan peluncuran komik-komik baru seperti Setan Jalanan(Pepenk Naif dan haryadhi). Tak lupa, ada pula Temu Komunitas yang mengambil tema Mengenang Hasmi dan Djair, yang wafat dalam selang waktu sekitar dua bulan pada 2016 ini. Temu komunitas tersebut akan diadakan pada Minggu, 18 Desember 2016, pukul 14.00 – 16.00 WIB, dengan Arswendo Atmowiloto dan moderator Surjorimba Suroto. Akan hadir pula komikus muda yaitu Komikin Ajah dan Digidoy yang berdomisili di Medan dan datang ke Jakarta untuk turut berpartisipasi dalam pameran ini.

KAORI Newsline | Informasi yang disampaikan merupakan dari sudut pandang pemberi siaran pers sehingga tidak ada kaitan dengan kebijakan editorial KAORI Newsline.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.