Saya setidaknya mengalami tiga kali jatuh cinta yang sangat membekas hingga tulisan ini dibuat. Ketiganya membawa pengalaman pahit dan juga manis, namun itulah yang membuat saya selalu terikat dan menikmatinya. Pertama, ketika saya untuk pertama kalinya jatuh cinta pada klub sepak bola favorit saya hingga saat ini. Kedua, saat saya merasakan jatuh cinta pada masa remaja. Ketiga, ketika saya memutuskan untuk membaca Bloom Into You (Yagate Kimi ni Naru) karya Nio Nakatani sekitar tahun 2015-2016. Di saat itulah, saya jatuh cinta pada dua sosok sentral dalam cerita: Yuu Koito dan Touko Nanami. Seiring dengan perkembangan cerita dan juga mengikuti adaptasi animenya di tahun 2018, cinta saya bagi mereka, dan juga bagi genre yuri secara keseluruhan, makin besar.

Sebelum berkenalan dengan Bloom Into You, saya masih berpegang teguh pada pandangan bahwa mengonsumsi yuri adalah sebuah kesalahan. Seorang laki-laki mengonsumsi kisah percintaan antar perempuan tidaklah sesuai dengan “konstruksi seharusnya” dan norma agama yang saya pegang. Mengonsumsi yuri adalah sebuah bentuk dukungan pada homoseksualitas, pikir saya waktu itu. Kurang lebih senada dengan mengapa ada teman saya yang tidak menyukai yuri/yaoi. Dia takut kalau genre ini memalingkannya dari norma yang ia yakini selama ini mengenai hubungan sesama jenis.

© Izuru Yumizuru, MEDIA FACTORY/Project IS

Di masa itu pula, saya masih menyukai genre komedi romantis harem seperti Infinite Stratos atau Nisekoi. Genre ini sesuai dengan “konstruksi fantasi” yang dilekatkan pada laki-laki dan sesuai dengan orientasi seksual saya. Harem adalah fantasi kenikmatan terbesar seorang laki-laki, pikir saya. Laki-laki mana yang tidak suka dikerubungi beragam perempuan cantik yang saling sikut untuk menjadi nomor satu baginya? Pada saat yang bersamaan, karakter-karakter bishoujo yang muncul selalu menjadi objek fanservice pemuas hasrat laki-laki heteroseksual saya. Kastrasi pada protagonis harem, dalam hal ini maksudnya menghindari konklusi tegas dari memilih hubungan dengan salah satu tokoh perempuan dalam harem, membuat serialisasi menjadi lebih panjang—yang merupakan tanda bahwa ada permintaan atau demand yang besar pada serial tersebut. Serialisasi yang lebih panjang berarti makin banyak kesempatan untuk “menggerayangi” setiap lekuk tubuh seluruh heroine. Sayangnya, hal itulah yang memicu kejenuhan. Repetisi yang dimunculkan tak membuat saya ingin tetap terikat pada judul tersebut. Perkembangan cerita sangatlah lamban dengan munculnya bab-bab episodik. Bahkan, ada harem yang terlalu fokus menjual karakter bishoujo hingga lupa “mengembangkan” si protagonis laki-kaki. Perlahan, kenikmatan saya pada genre ini berkurang dan membutuhkan pengganti yang melebihinya.

bloom into you
© Nio Nakatani / Kadokawa Corporation

Bloom Into You datang di saat saya merasa jengah dengan genre harem. Yuu dan Touko seakan membuka pintu bagi saya untuk menjelajahi suatu kenikmatan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Menikmati kisah percintaan dua perempuan awalnya sesuatu yang asing bagi saya. Mau bagaimana pun, saya adalah laki-laki heteroseksual. “Seharusnya”, saya tak bisa menikmati genre ini mengingat tak adanya satu “sosok” yang bisa diidentifikasikan pada diri saya. Saya tak pernah “sampai” untuk membayangkan dua perempuan saling berhubungan tanpa hadirnya satu laki-laki satupun. Laki-laki adalah sesuatu yang asing dalam hubungan mereka. Malahan, kehadiran laki-laki sering dijadikan sebagai ganjalan dalam hubungan mereka. “Apa yang mau mereka lakukan tanpa hadirnya penis?!” pikir saya sambil mempertahankan narasi dominan maskulinitas.

Advertisement Inline

Hal-hal yang awalnya membentengi saya untuk menikmati yuri akhirnya jebol dengan sendirinya. Meminjam penjelasan Hendri Yulius soal laki-laki yang menonton girl-girl pornography (2019), saya “dijahit” pada sebuah pengalaman seksual yang tak pernah bisa dialami dalam kehidupan nyata karena perbedaan seksual yang saya miliki. Saya membiarkan ego maskulin saya hancur dan membiarkan kenikmatan asing menguasai diri saya. Mungkin, pada awalnya hanya sebatas bentuk perversion—sebatas sebagai penonton cabul atau “pengintip” saja. Perlahan, saya mulai dapat mengidentifikasi diri saya pada tiap-tiap karakter. Saya membiarkan diri saya menjadi “perempuan”, merasakan rasanya menjadi “perempuan”, dan juga membayangkan bagaimana rasanya “menjadi perempuan yang bercinta dengan sesama perempuan”!

©2018 NAKATANI NIO/KADOKAWA CORPORATION/Bloom Into You PARTNERS

Ada beberapa kemungkinan alasan “orang-orang seperti saya” menyukai yuri hingga meremukkan ego maskulin mereka dan mengidentifikasi diri pada karakter perempuan. Pertama, dari judul yuri yang dikonsumsi memang kebanyakan bergenre drama romantis. Kemelankolisan cerita memengaruhi audiens untuk bisa lebih dekat dengan tiap karakter dan cerita. Kedua, genre yuri sendiri merupakan genre turunan dari genre shoujo yang memang lebih fokus pada sisi psikologis tiap-tiap karakternya (Takahashi, 2008; Shamoon, 2008). Narasi sudut pandang orang pertama lewat monolog hati karakterlah yang kemudian meruntuhkan ego maskulin audiens. Audiens diajak untuk memahami isi hati karakter perempuan yang mencintai perempuan lainnya hingga seakan-akan itu adalah suara hati mereka. Hal itulah yang memudahkan pembaca laki-laki mengidentifikasi diri pada karakter perempuan dalam yuri. Dengan kata lain, mereka menjadi perempuan yang sedang jatuh cinta pada perempuan lain!   

Ketiga, mengonsumsi yuri serasa mengonsumsi romansa a la shoujo pada umumnya tanpa perlu takut harus “bertemu” dengan karakter ikemen. Drama percintaan yang disajikan yuri masihlah terasa shoujo, meski menampilkan dua perempuan atau lebih. Malahan, kita bisa menemukan karakter yang tampilan dan perannya maskulin meski bertubuh perempuan—sesuatu yang “mengangkangi” oposisi biner (Fiske, 2016). Hal ini memicu heteronormativitas dalam hubungan mereka dan (sebenarnya dapat) “mempermudah” audiens laki-laki mengidentifikasikan dirinya pada karakter cewek ganteng tersebut.

©2018 NAKATANI NIO/KADOKAWA CORPORATION/Bloom Into You PARTNERS

Keempat, adanya kemungkinan audiens laki-laki merasa kecewa pada protagonis laki-laki harem yang nampak menyedihkan. Pada saat mereka dikerumuni sekampung perempuan cantik, mereka tetap mengkastrasi diri mereka dengan berbagai alasan dan akhirnya membuat emosi audiens. Mereka dibuat terlalu bebal, tidak peka, dan juga mencla-mencle. Demand yang tinggi pada judul-judul harem memaksa protagonis untuk tetap mencla-mencle dan memperpanjang nyawa serialisasi mereka. Mereka harus mengulang-ulang adegan formulaik terhadap berbagai macam heroin yang mereka temui. Pilihan lain dari trait protagonis harem (biasanya saya temukan di judul-judul harem isekai): mereka terlalu hegemonik dan dominan, libidonya tinggi dan “cabul” sehingga membuat karakter perempuan tidak lebih dari objek kepuasannya—dan bodohnya para perempuan itu juga terlalu manut. Hal inilah yang (bisa) membuat audiens “lari” ke genre lain termasuk yuri. Seperti halnya audiens Takarazuka Revue yang menambatkan kekecewaan terhadap laki-laki nyata pada otokoyaku (aktris perempuan yang memerankan tokoh laki-laki) (Nakamura & Matsuo, 2003), karakter perempuan dalam yuri adalah tambatan kekecewaan terhadap protagonis laki-laki harem. Mereka lebih “pintar” mengajari bagaimana “jatuh cinta”—bahkan pada seluruh pihak dalam hubungan. Mereka nampak lebih tegas dibanding para protagonis harem dan tentunya terasa lebih suci dan manis. Sekali pun cinta mereka tetap berbalut seks, penceritaan membuat cinta “itu” nampak bukan layaknya iro (birahi) melainkan ren’ai (cinta spiritual) (Shamoon, 2012). Alasan kelima, it’s just cute—alasan yang sering dipakai bila tak ingin berbelit-belit       

bloom into you
© Nio Nakatani / Kadokawa Corporation

Sampai saat menulis ini, saya masih mengonsumsi genre harem. Namun, saya tetap tak bisa merasakan sensasi “jatuh cinta” dalam genre tersebut. Buat saya, sensasi kenikmatan manis-pahitnya “jatuh cinta” lebih sering jatuh pada saat saya mengonsumsi yuri—apapun genre lain yang menyertainya. Sulit bagi saya sekarang untuk mengidentifikasi diri pada protagonis harem karena image mereka, sekalipun saya mengerti kalau kesalahpahaman adalah esensi romcom atau fantasi hanyalah sebatas fantasi. Saya juga paham adanya kemungkinan motivasi mengonsumsi yuri hanyalah bentuk objektifikasi dua karakter perempuan atau lebih layaknya dalam girl-girl pornography (Yulius, 2019).

Secara pribadi, mencintai yuri tidak berarti membuat saya kemudian menerima agenda LGBT. Di sis lain, saya jadi cukup memahami bagaimana hal tersebut dinarasikan dalam yuri dan membacanya secara kritis. Menikmati mengonsumsi yuri dan mengidentifikasi diri menjadi perempuan dalam cerita pun tak membuat saya benar-benar ingin menjadi perempuan. Ini hanyalah bentuk dari fantasi yang tak koheren dengan orientasi seksual yang saya miliki. Sama halnya dengan beberapa teman perempuan saya yang menyukai yaoi dan masih “lurus”.  

Tentunya, diperlukan penelitian lebih mendalam terhadap bagaimana resepsi audiens laki-laki heteroseksual terhadap yuri demi membuka dan memahami mengapa seorang laki-laki heteroseksual dapat menikmati genre yang mereka sukai itu. Untuk memahami “saya-saya” yang lain yang merasakan kenikmatan dari mendobrak “keajekan” dari seorang laki-laki heteroseksual. Tapi untuk menurut saya pribadi, hal ini adalah sebuah kemakluman.

Referensi

  • Fiske, J. 1982. Introduction to Communication Studies. First Edition. Methuen & Co. Ltd. Terjemahan Irfan Ibrahim. 2016. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cetakan Pertama. Buku Litera. Yogyakarta. Indonesia.
  • Nakamura, K. & Matsuo, H. 2003. Female Masculinity and Fantasy Spaces. Dalam Men and Masculinities in Contemporary Japan: Dislocating the Salaryman Doxa. Editor Roberson, J. & Suzuki, N. First Edition. Routledge Curzon. London.
  • Shamoon, D. M. 2012. Passionate Friendship. First Edition. University of Hawaii Press. US.
  • “____________”. 2008. Situating the Shoujo in Shoujo Manga: Teenage Girls, Romance Comics, and Contemporary Japanese Culture. Dalam Japanese Visual Culture: Explorations in the World of Manga and Anime. Editor MacWilliams, M. W. First Edition. East Gate. NY. USA.
  • Takahashi, M. 2008. Opening the Closed World of Shoujo Manga. Dalam Japanese Visual Culture: Explorations in the World of Manga and Anime. Editor MacWilliams, M. W. First Edition. East Gate. NY. USA.
  • Yulius, H. 2019. C*bul: Perbincangan Serius tentang Seksualitas Kontemporer. Cetakan Pertama. CV. Marjin Kiri. Tangerang. Indonesia.

Ditulis oleh Rizki Maulana A | Penulis adalah mahasiswa FISIPOL UGM dan hobi mengonsumsi anime serta manga. Jatuh cinta pada genre yuri sejak 2015-2016. Pernah dan sedang meneliti genre yuri. Selain yuri, pernah juga menulis paper dan artikel lain mengenai pop culture Jepang lainnya | Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca untuk menulis opini tentang dunia anime dan industri kreatif Indonesia. Opini ditulis minimal 500-1000 kata dalam bahasa Indonesia/Inggris dan kirim ke halo@kaorinusantara.or.id

2 KOMENTAR

  1. artikel menarik, mengingat tidak semua fujoshi sendiri merupakan penyuka sesama jenis/lesbi atau pendukung LGBT karena mereka menggemari genre yaoi

  2. Ini cukup relate dgn saya, laki lurus suka yuri itu sama aja dgn perempuan lurus suka dengan yaoi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.