Anime Fragtime yang dirilis dalam bentuk OVA merupakan adaptasi dari manga berjudul sama yang dikarang oleh Sato dan diterbitkan oleh Akita Shoten sebanyak dua volume. Takuya Sato yang sukses dengan Asagao to Kase-san ditunjuk sebagai sutradara dan Tear Studio menjadi studio animasi yang menggarap anime OVA berdurasi satu jam ini.

Perlu diingat bahwa ulasan ini tidak spoiler-free karena ulasan akan lebih terfokus pada karakter utama yang ada dalam anime Fragtime.       

Misuzu Moritani, Haruka Murakami, dan “Haruka Murakami”

anime fragtime
©2019 Sato (Akita Shoten) /”Fragtime” Production Committee

“Bila dapat menghentikan waktu selama tiga menit, apa yang akan kau lakukan?”

Kurang lebih begitulah penggalan kalimat monolog Misuzu Moritani, protagonis kita di anime Fragtime yang dapat menghentikan waktu selama tiga menit. Dengan privilege sebesar itu, harusnya Misuzu dapat melakukan semua yang ia mau. Namun Misuzu bukanlah seseorang yang seberani itu. Dia hanyalah seorang introvert pengecut yang menggunakan kekuatannya untuk lari dari ajakan mengobrol teman sekelasnya. Hanya saja di satu saat dia iseng mengintip isi rok perempuan paling populer sekelasnya, Haruka Murakami. Apesnya, dia terpergok oleh sang target yang ternyata kebal terhadap kekuatannya. Agar aibnya tak disebar, dia pun bersedia untuk melakukan apa saja yang Haruka mau.

Advertisement Inline

Baca Juga: Ulasan Komik My Youth Romantic Comedy is Wrong as I Expected (Oregairu) @ Comic Vol. 2

Dipimpin Haruka, Misuzu mulai melakukan berbagai hal bersama di dalam dunia yang terhenti. Diawali dari menjahili ke mantan pacar Haruka saat kencan mereka, kemudian merentet ke melakukan banyak hal iseng terhadap teman-teman sekelas mereka. Haruka dan Misuzu pun mencapai kata sepakat. Haruka membarter posisi dirinya sebagai pacar Misuzu dengan permintaan kepada Misuzu untuk mendukung apa yang ia ingin lakukan dengan kekuatannya.

©2019 Sato (Akita Shoten) /”Fragtime” Production Committee

Masa pacaran inilah yang menjadi titik balik mereka berdua. Misuzu mulai mendapatkan kemajuan. Tak hanya mendapat kawan akrab dan juga lingkar pertemanan, situasi hubungannya dengan Haruka pun mulai berubah. Dia mulai memahami kalau “ada yang salah” dengan Haruka. Dia juga “berhasil” membuat Haruka cemburu karena menggunakan kekuatannya untuk menolong temannya. Hanya saja setelah meyakinkan Haruka bahwa dia hanya memikirkannya—dengan menunjukkan celana dalam yang serasi dengan milik Haruka di lorong kelas di dunia yang waktunya berjalan—kekuatan Misuzu mulai melemah. Sebagai gantinya, Misuzu mulai memahami siapa “Haruka Murakami”.

Haruka Murakami tidaklah “baik-baik saja” seperti yang orang kira. Demi usahanya memuaskan dan tak dibenci orang-orang di sekitarnya, dia melakukan kalkulasi tindakannya. Ia mencatat setiap detail deskripsi orang-orang di sekitarnya, kemudian ia berperilaku menyesuaikan dengan catatan-catatan tersebut. Sekalipun, hasil mengkhianati usahanya karena kelakuannya malah menjadikannya target ghibah orang lain.

Struggling to be Whole

©2019 Sato (Akita Shoten) /”Fragtime” Production Committee

Kompleksitas yang dialami oleh Haruka sebenarnya sangatlah dekat dengan kita. Dalam konsep psikoanalisis Lacan, diperkenalkan konsep kekurangan (lack) dan cermin (mirror). Ada tiga kata kunci dalam konsep ini yakni the imaginary, the symbolic, dan the real. Selama kita hidup, kita selalu dibayang-bayangi keinginan untuk mendapatkan “keutuhan”—yang menjadi penanda the real. Dalam proses bercermin, kita selalu menyadari bahwa diri kita selalu terfragmentasi—inilah the imaginafrry (Yulius, 2019). Sayangnya demi menjadi “utuh”, tahap bahasa yang berada di panggung sosial ini sering “mengganggu” kita untuk menjadi utuh—yang menjadi tanda the symbolic. Kita mengidentifikasikan diri kita menurut apa yang orang lain katakan pada kita. Misalnya saja, kita adalah “perempuan” dan juga “anak baik”. Dengan dua “titel” tersebut saja, kita sudah dibelenggu untuk memenuhi beberapa nilai-nilai ideal yang mengikuti “titel” yang kita dapatkan. Kurang lebih, itulah yang dialami Haruka.

Baca Juga: [Opini] Ketika Laki-Laki Heteroseksual Lebih Menikmati Genre Yuri

Sebagai hasil dari proses bercermin, dirinya “menyadari” sangatlah terfragmentasi dan penuh dengan kekurangan. Namun dia tak mencari sebuah ego ideal dalam diri orang lain dan lebih “memilih” mengikuti simbol-simbol yang ada dalam tahap bahasa di masyarakat. Sejak kecil, Haruka mengidentifikasikan dirinya melalui bagaimana orang di sekitarnya mendefinisikan dirinya. Ini ditandai dengan adegan di saat dia bercermin dengan gaun frilly berwarna pink pemberian tantenya saat masih kecil. Meski wajahnya datar, Haruka kecil tetap berterima kasih dan mengatakan berniat untuk mengenakan baju hadiah tersebut setiap hari. Dia kira itulah yang terbaik baginya.

review anime fragtime
©2019 Sato (Akita Shoten) /”Fragtime” Production Committee

Proses sosial Haruka tersebutlah yang membentuk persepsi bahwa dia hanya bisa “utuh” ketika menjadi “Haruka Murakami” yang ideal yang dicintai, baik, dapat diandalkan, tak pernah komplain saat dimintai tolong “temannya”. Singkatnya, dengan mendengarkan orang lain dan menuruti apa yang ideal bagi mereka. Oleh karenanya, dia merepresi hasratnya sedalam-dalamnya agar muncul sebuah ego untuk dicintai oleh semua orang dan menuruti superego yang berkembang di luar dirinya. Secara tidak langsung, dia pun merujuk dirinya sebagai “alat” bagi orang untuk memanjat hierarki sosial kelas. Hal-hal tersebutlah yang membuatnya tetap dapat menjaga hubungan dengan lingkungannya, namun tak bisa masuk ke ranah lebih intim karena adanya kepercayaan bahwa bertindak di luar kehendak orang lain hanya akan menyakiti mereka. Alasannya bersedia menjadi pacar Misuzu pun semata-mata karena “Misuzu yang menginginkan”. Ia pun menutup semua kemungkinan bahwa ada hasrat dalam dirinya yang memang menginginkan Misuzu.

Hal inilah yang memantik Misuzu untuk “menyadarkan” Haruka di akhir cerita. Sebagai ganti Haruka yang menggerakkan dunia kecilnya, Misuzu membawakan Haruka cermin yang lebih bersih untuknya. Dia menampar Haruka dengan kenyataan bahwa sebenarnya mereka berdua saling membutuhkan dan sebenarnya keduanya sama-sama tidak ingin terluka.

review anime fragtime
©2019 Sato (Akita Shoten) /”Fragtime” Production Committee

Rasa saling membutuhkan inilah yang kemudian dijadikan penjelasan paling valid soal asal mula kekuatan Misuzu. Keduanya memanfaatkan waktu yang terhenti demi kebutuhan masing-masing. Misuzu menghentikan waktu karena memang ingin lari dari kenyataan. Dia gunakan dunia eksklusifnya sebagai pelarian dari keharusan berinteraksi sosial, namun tetap membutuhkan orang yang dapat mendengarkannya. Namun, rasa tertarik dan kagumnya terhadap Haruka membuat Haruka menjadi kebal terhadap kekuatannya—yang juga merupakan konklusi dari pengembangan karakter Haruka sendiri. Sementara bagi Haruka, dunia yang terhenti menjadi tempatnya meluapkan seluruh hasrat yang ia tekan layaknya dalam alam mimpi. Semua yang ia lakukan dalam dunia yang terhenti tersebut adalah demi mendapatkan orang yang benar-benar memahami dan mencintai diri aslinya. Alasan Haruka dapat bergerak dalam dunia Misuzu adalah agar gadis itu dapat “menemukannya”.

Layaknya alam mimpi, waktu yang terhenti menjadi wadah bagi mereka berdua untuk lari dari realitas yang membelenggu satu sama lain. Seperti dalam drama yuri pada umumnya dan juga phallus dalam psikologis Lacan (Lamarre, 2009), keduanya membutuhkan satu sama lain bukan karena alasan fisik namun psikologis. Keduanya adalah kepingan puzzle bagi masing-masing diri yang terfragmentasi. Masing-masing adalah ego ideal yang dibutuhkan satu sama lain. Ketika mereka berdua telah berhasil melengkapi diri satu sama lain—dengan cinta—kekuatan Misuzu untuk mematahkan waktu pun menghilang. Di kalimat epilog pun dijelaskan bahwa dia tak memerlukan dunia yang eksklusif bagi dirinya sendiri karena telah menemukan dia yang dicintai dan ingin hidup bersama dalam dunia yang sama.

Penutup

review anime fragtime
©2019 Sato (Akita Shoten) /”Fragtime” Production Committee

Anime Fragtime memanglah jauh dari bagus dari segi animasi. Jujur saja, saya tak bisa rekomendasikan anime ini bila Anda mengejar animasi yang spesial dan secantik Asagao to Kase-san meski dibesut oleh sutradara yang sama. Bahkan, kabar tak enak soal ditunggaknya gaji para staf yang menggarap anime ini pun santer terdengar (Harding, Crunchyroll, 2019).

Kita tak bisa menemukan latar belakang penuh dengan warna pastel, apalagi cerita yuri yang penuh dengan manis gula-gula layaknya dalam Kase-san. Ceritanya juga terkesan memadatkan sebanyak mungkin plot inti dari dua volume tank­­oubon-nya, kemudian disajikan dalam anime berdurasi satu jam sehingga terkesan melompat-lompat. Asal-mula kekuatan Misuzu pun juga tak dijelaskan dengan gaya sci-fi dan lebih ke kekuatan supernatural yang entah datang dari mana. Alasan Misuzu menggunakan kekuatan utamanya pun berubah dari “pelarian” menjadi “penolong”, namun melihat bagaimana terikatnya dia dengan Haruka saya bisa memaafkannya.

Terlepas dari semua minusnya, fokus dari anime Fragtime yang lebih menonjolkan psikologis kedua karakter utama menjadi nilai plus anime ini—dan yang membuat saya suka animenya. Terlebih lagi, pemilihan lagu “Fragile” (yang dipopulerkan oleh Every Little Thing) yang menjadi lagu penutup dan dibawakan oleh kedua seiyuu karakter utama—Yume Miyamoto (Rikka Takarada dalam SSSS. Gridman) & Miku Itou (Miku Nakano dalam Go-toubun no Hanayome)—sangatlah pas menggambarkan betapa rapuhnya kedua gadis tersebut. Meski hari esok masihlah berkabut, mereka siap untuk mengarunginya berdua.

Anime Fragtime tak hanya menceritakan sepasang gadis yang menjalin hubungan rahasia dalam “arus waktu yang patah”, namun juga menceritakan bahwa tiap-tiap diri memiliki “patahan” yang perlu ditambal. Keduanya sama halnya dengan diri kita yang tak pernah bisa menjadi “utuh” dan selalu mencari “diri ideal”. Hanya saja, “kata orang” sering kali membatasi diri kita untuk menjadi “utuh” dan puas terhadap diri kita sendiri. Mungkin, jawaban dari tantangan tersebut ialah menemukan orang yang secara alam bawah sadar memang kita butuhkan untuk merasa “utuh”.

Referensi

Ditulis oleh Rizki Maulana A | Penulis adalah mahasiswa FISIPOL UGM dan hobi mengonsumsi anime serta manga. Jatuh cinta pada genre yuri sejak 2015-2016. Pernah dan sedang meneliti genre yuri. Selain yuri, pernah juga menulis paper dan artikel lain mengenai pop culture Jepang lainnya | Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca untuk menulis opini tentang dunia anime dan industri kreatif Indonesia. Opini ditulis minimal 500-1000 kata dalam bahasa Indonesia/Inggris dan kirim ke halo@kaorinusantara.or.id

2 KOMENTAR

  1. Sialan kok jadi scientific gini ya. Ane nonton cuman karena denger Tear Studio bangkrut abis garap ni film. Animasi nya…a lot to be desired. Tapi ya, pesannya setidaknya tersampaikan. Bukan bwat fans yuri, soalnya fokusnya ga ke arah situ juga.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.