Tokyo 7th Sisters, sebuah seri idol yang mungkin tak banyak orang mengetahuinya, karena seri ini hanya hadir dalam bentuk gim yang dikembangkan oleh Donuts Co. Ltd. dan dirilis di Jepang untuk platform iOS maupun Android pada Februari 2014. 6 tahun setelah perlisan gim-nya, akhirnya untuk pertama kalinya gim ini diadaptasi menjadi anime dan langsung dalam bentuk layar lebar. Hati saya langsung bergetar dan berbahagia, akhirnya saya dapat hidup untuk melihat adaptasi anime dari salah satu gim yang saya sukai sejak SMA ini. Namun realita harus berkata sebaliknya, akibat wabah pandemi COVID-19, maka film ini sempat harus ditunda tayangnya pada awal tahun 2021 ini.

Setelah diadaptasi langsung dalam bentuk layar lebar, seperti apakah film adaptasinya? Apakah film ini dapat menjadi tontonan bagi #kaoreaders yang baru di seri ini? Apakah para pemain lama gim ini akan senang dengan adaptasi film ini? Mari simak ulasan berikut ini.

Premis Cerita

© 2014 Donuts Co. Ltd. All rights reserved.

Film anime Tokyo 7th Sisters : Bokura wa Aozora ni Naru menceritakan pasca debut pertama 777☆SISTERS dengan lagu H-A-J-I-M-A-R-I-U-T-A-!! Cony Rokusaki memiliki ide untuk memperkenalkan secara personal siapa saja angota dari grup idol ini. Setelah merekam 12 anggota dari grup idol, tiba saatnya mereka untuk tampil di panggung secara langsung dan juga melakukan siaran langsung kepada penggemar di tempat lainnya. Namun mesin operasi siaran langsung yang mereka miliki seketika tidak dapat digunakan, beruntunglah terdapat seseorang yang memahami cara kerja mesin tersebut dan akhirnya 777☆SISTERS dapat melaksanakan penampilannya dengan baik.

Seuntas penampilan mereka, ditemukan sebuah sapu tangan yang diduga milik lelaki tersebut, akhirnya 777☆SISTERS memutuskan untuk pergi ke lokasinya untuk berterima kasih kepadanya secara baik. Tanpa diduga lelaki tersebut adalah Kouzou Hakkaku, seorang pengelola gedung konser idol yang terkenal. Gedung konser tersebut sedang dalam permasalahan konflik dan akan segera dihancurkan untuk korporasi Namekawa. Dengan berakhirnya jaman idol, maka gedung konser tersebut tidak perlu ada lagi. Mendengarkan hal tersebut 777☆SISTERS mengajukan diri mereka untuk membantu Kouzou dan membuktikan bahwa idol masih hidup.

Inilah kisah perjuangan 777☆SISTERS dalam menyelamatkan salah satu gedung konser yang dikenali atas sejarah kental dengan idol-idol terdahulu serta membuktikan bahwa idol masih hidup. Bagaimanakah perjuangan mereka? Akankah mereka berhasil menyelamatkan gedung tersebut dan sejarah yang ada di dalamnya? Ataukah memang idol sudah tidak berjaya lagi di zaman ini?

Cerita idol yang sederhana

© 2014 Donuts Co. Ltd. All rights reserved.

Bagi #kaoreaders yang belum mengenali seri Tokyo 7th Sisters tidak perlu khawatir, tanpa perlu memainkan gimnya kalian dapat mengikuti alur ceritanya dengan seksama. Film ini menceritakan cerita pasca 777☆SISTERS melakukan debut perdananya. Coney memiliki ide untuk memperkenalkan setiap idol melalui rekaman personal. Saya pikir ini adalah hal yang baik untuk memperkenalkan 12 karakter utama yang ada di sini,. Penyampaiannya pula juga sangat baik sehingga tidak terasa kaku atau aneh dalam perkenalan ini. Di saat bersamaan pula penonton juga akan mengetahui sekilas mengenai situasi saat ini. Namun bagi saya pribadi karena informasi ini terlalu dikemas dengan sangat cepat, ada beberapa hal yang mungkin akan menimbulkan pertanyaan bagi penonton baru. Namun beberapa hal ini akan tersampaikan pula seiring waktu di film ini.

Adapun konflik utama dari film ini adalah akan dihancurkannya salah satu gedung konser idol bersejarah yang telah mendatangkan berbagai idol terkenal pada masanya. 777☆SISTERS ingin membantu membuktikan bahwa idol masih hidup dan berjaya, karena itu terjadi kesepakatan untuk mengisi penuh gedung konser tersebut setidaknya selama 1 hari di antara 4 hari ke depannya. Bagi saya pribadi konflik ini cukup tipikal dan saya sedikit kecewa sebenarnya, karena ceritanya begitu sederhana dan tidak berani untuk menjadi dirinya sendiri seperti cerita yang pernah disajikan di gimnya. Walaupun begitu, saya rasa cerita klasik seperti ini sudah cukup untuk memberikan gambaran singkat dan mempermudah para penonton baru mengikuti cerita Tokyo 7th Sisters. Sedikit catatan bumbu khas dari seri ini berhasil dimasukkan pula dalam cerita ini, hanya saja penonton baru dapat melihatnya pada akhir film ini.

Terlepas dari hal itu, saya merasa bahwa cerita yang dibawakan film ini adalah arahan yang tepat karena pada dasarnya yang memainkan gim ini juga tidak banyak, serta seri ini tidak memiliki adaptasi lainnya dalam bentuk komik, TV anime, ataupun novel ringan. Dengan bermain aman dan sederhana, film ini mampu menunjukkan bahwa seri ini masih dapat diikuti oleh siapapun baik itu penggemar lama maupun baru. Namun permasalahan terbesar dari penceritaan film ini adalah pengkarakteran yang hambar dan biasa saja.

Perkembangan karakter yang abstrak

© 2014 Donuts Co. Ltd. All rights reserved.

Dengan jumlah karakter utama hampir 13 orang, adaptasi film ini mengalami kesulitan dalam memberikan kesan dan ciri khas dari setiap karakter, bahkan perkembangan karakter di sini hampir tidak ada sama sekali. Bilamana adaptasi ini berupa TV anime, saya pikir seri ini tidak akan kesulitan dalam mengembangkan setiap karakter, sehingga bagi penonton baru, film ini akan terasa hambar dari sisi karakter, tidak ada karakter yang terkenang ataupun spesial. Namun bagi penggemar lama. saya pikir film anime ini dapat menjadi sebuah fanservice yang sangat baik, karena banyak sekali momen-momen karakter dari gim yang dikembalikan lagi dalam adegan setiap karakter, kenangan bermain gim ini akan kembali menjadi hal yang menyenangkan karena kalian dapat melihatnya kini dalam bentuk anime.

Bila saya perlu menyoroti salah satu film anime idol yang cukup baik dalam mengembangkan karakternya maka The IDOLM@STER Movie dapat menjadi contoh yang baik. Walaupun memiliki idol yang banyak, film tersebut mampu mengfokuskan karakter hanya pada satu idol saja dan mendukung idol lainnya untuk berkembang. Sementara itu pada film Tokyo 7th Sisters ini hampir seluruh idol di sini mendapatkan perannya dan tidak ada satu tokoh yang memegang kendali cerita. Walau itu baik secara cerita karena ini adalah kekompakan grup, namun bila penonton hanya disajikan oleh karakter statis yang tidak ada perkembangan dari awal hingga akhir, saya merasa film ini gagal untuk menyampaikan sesuai kepada penonton.

Walaupun begitu melihat banyaknya karakter disini tentu juga memberikan kesempatan bagi penonton baru untuk menemukan karakter idamannya dan bahkan mungkin memberikan suatu insentif bagi penonton baru untuk mencoba bermain gim-nya. Terlepas dari hambarnya pengkarakteran dan cerita yang biasa-biasa saja, satu hal yang cukup memuaskan diri saya saat menonton adalah arahan visual yang indah.

Ulasan film anime Tokyo 7th Sisters – Bokura wa Aozora ni Naru berlanjut ke halaman selanjutnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.