Ulasan Film: Saint Seiya: Legend of Sanctuary

1

Seiyasanctuary

Anda yang lahir di era akhir 80an maupun awal 90an mungkin pernah membaca komik cerita asli Saint Seiya ataupun pernah menonton serial animasinya. Lagu Pegasus Fantasy yang menjadi lagu pembuka serial ini menjadi sebuah lagu yang cukup ikonik. Anda terkadang masih dapat mendengarkan lagu tersebut pada acara jejepangan sebagai lagu pengiring ataupun dinyanyikan oleh band penghibur. Bahkan, Lagu Pegasus Fantasy diaransemen ulang dan dinyanyikan kembali oleh Make Up Project dan Nakagawa Shoko untuk serial Saint Seiya Omega.

Beberapa waktu lalu Toei Animation sebagai pembuat serial animasi Saint Seiya memproduksi ulang kisah asli Saint Seiya dalam bentuk film bioskop berjudul Saint Seiya: Legend of Sanctuary dan saat ini film ini telah diputar di Indonesia.

 

Advertisement Inline

Perjuangan para saint dimulai

Kisah dimulai dengan kilatan cahaya yang menyambar-nyambar di langit yang ternyata merupakan pancaran energi bernama “cosmo” dari beberapa gold saint (satria emas) yang berusaha untuk menghentikan salah satu gold saint yang mendekap sebuah benda berbentuk telur berwarna emas. Gold Saint tersebut akhirnya terjatuh akibat terkena sambaran cosmo yang dilontarkan oleh pengejarnya.

Di tempat yang lain, sebuah tim penjelajah yang dipimpin oleh profesor Matsumasa Kido menemukan sebuah gua yang di dalamnya diterangi oleh kilauan cahaya dan bulu bulu yang beterbangan. Ternyata, gua tersebut merupakan tempat sang gold saint terjatuh. Telur tersebut terbuka dan ternyata terdapat seorang bayi di dalamnya. Sang profesor kemudian memandang ke arah sang gold saint. Ketika kedua mata mereka saling bertemu, sang gold saint menggunakan kemampuan telepatinya untuk memberitahu mengapa dan bagaimana dirinya bisa sampai ke tempat tersebut. Gold saint bernama Sagitarius Aiolos tersebut mempercayakan sang bayi untuk dirawat oleh sang profesor sebelum menghilang dan meninggalkan baju kebesarannya.

Bayi tersebut tumbuh menjadi seorang gadis cantik bernama Saori Kido. Pada hari ulang tahunnya yang ke-16, Saori Kido diserang oleh sekelompok pria misterius. Namun, serangan tersebut dapat dipatahkan oleh kehadiran para saint yang bertugas untuk melindungi Saori Kido. Keempat Saint tersebut adalah Pegasus Seiya, Shiryuu Dragon, Andromeda Shun, dan Cygnus Hyouga.

Keempat saint tersebut menjelaskan bahwa mereka ada untuk melindungi Saori yang merupakan jelmaan dari Athena, Dewi kebijaksanaan dan heroisme. Setelah mendapat berbagai penjelasan dan mengalami berbagai hal, mereka berlima memutuskan untuk pergi ke kuil Athena di dunia tempat Saori berasal, “Sanctuary”. Namun, masalah besar telah menanti mereka untuk menuju kuil tersebut

10361320_10202932512059095_2516109091830919579_n

Ulasan oleh Adi

Bakar Cosmo-mu!

Seri Legend of Sanctuary ini bisa lebih tepat disebut sebagai adaptasi bebas dari serial klasik Saint Seiya. Hal ini disebabkan walaupun secara keseluruhan cerita yang diambil masih berdasarkan kisah asli Saint Seiya, ada beberapa perubahan yang dilakukan dalam versi bioskop ini. Perubahan terutama terletak pada penceritaan yang dibuat menjadi lebih padat serta perbedaan pada kronologi cerita. Penonton mungkin ingat, di serial aslinya, Athena yang berkostum bak figur yunani kuno membawa tongkat, terkena anak panah (dalam hal ini benar-benar berbentuk anak panah) di dadanya lemah lunglai tak berdaya. Namun, dalam film ini anak panah yang mengenai dada Athena merupakan anak panah yang berasal dari cosmo yang membuat cosmo Athena menjadi keluar secara tak terkendali. Athena dalam film inipun digambarkan sebagai gadis muda modern dengan pakaian kasual selama bertualang di Sanctuary.

Pakaian yang digunakan oleh para saint pun tak lepas dari interpretasi ulang. Baju zirah yang dikenakan para saint kali ini memiliki aksen garis yang dapat menyala dalam kondisi tertentu terutama ketika sedang bertarung. Selain itu, helm yang digunakan oleh para saint bukan hanya berbentuk seperti mahkota, melainkan dapat berubah menjadi helm bertipe full face.

Sisi cerita dapat menjadi pedang bermata dua dalam film ini. Anda yang ingin plot mendalam disertai logika yang kuat bisa jadi akan kecewa dengan setelah menonton film ini karena semua hal dapat diselesaikan dengan semangat dan “keras kepala” tanpa perlu taktik dan pengamatan. Namun, bagi penonton yang ingin cerita santai ataupun penonton berusia muda yang belum mampu berpikir secara kritis, film ini dapat menjadi sebuah suguhan yang menarik.

Hal lain yang cukup menarik adalah unsur komedi yang lebih banyak dibandingkan Saint Seiya versi animasi klasik. Hal ini salah satunya ditunjukkan melalui tingkah laku Seiya, yang dalam film ini digambarkan sebagai pemuda dengan watak penuh semangat tetapi bersikap bebas dan santai. Pembuat film bahkan mampu menyampaikan bentuk komedi ini tidak hanya dalam gerak tubuh tetapi juga dalam ekspresi wajah pada beberapa adegan.

Berbeda dengan animasi khas Jepang di mana animasi menggunakan komputer (CG) yang digunakan pada beberapa adegan, Film animasi ini seluruhnya menggunakan CG pada pembuatannya. CG yang digunakan dapat dikatakan sebagai senjata kelas berat dalam film ini. Hal ini dapat terlihat eksterior istana sang pemimpin kuil yang digambarkan dengan detail, penggambaran dunia Sanctuary maupun aliran cosmo yang saling beradu digambarkan dengan baik dan menarik.

Namun, ada juga kelemahan pada film ini. Karakter yang ditampilkan terlalu banyak dalam waktu sekitar satu setengah jam sehingga hanya sedikit karakter yang memiliki kisah latar belakang memadai. Hanya Saori yang memiliki penceritaan latar belakang yang cukup, disusul oleh Seiya. Bahkan, pelayan nona Saori memiliki waktu tampil lebih banyak daripada salah seorang gold saint yang konon memiliki “kekuatan setingkat dengan dewa”.

Kesimpulan

Jika anda seorang pencinta kisah Saint Seiya, penggemar anime, film aksi, ataupun ingin melihat adegan CG yang indah bagaikan kembang api berkilauan, Film ini adalah film yang cocok bagi anda. Namun, jika anda seorang yang gemar terhadap plot maupun intrik ataupun penggemar “garis keras” Saint Seiya, ada kemungkinan anda kecewa terhadap film ini.

Jika anda tertarik, anda dapat melihat cuplikan film dengan lagu temanya yang berjudul Hero (Yoshiki Classical Version) dalam video berikut ini

Saint Seiya: Legend of Sanctuary dibuat dengan menggunakan teknologi CG 3D oleh Toei Animation dan disutradarai oleh Keiichi Sato dengan didampingi Tomohiro Suzuki selaku penulis naskah. Diputar secara perdana pada perhelatan Annecy International Animated Film Festival 11 Juni 2014 lalu, Movie ini dibuat dengan penyesuaian untuk bisa diterima oleh penonton masa kini. Adapun keenam karakter utama yaitu Seiya, Putri Saori, Hyoga, Shiryu, Shun, dan Ikki, masing-masing akan disuarakan oleh Kaito Ishikawa, Ayaka Sasaki, Kenshō Ono, Kenji Akabane, Nobuhiko Okamoto, and Kenji Nojima.

Versi serial Anime dari Saint Seiya klasik pernah ditayangkan di Indonesia masing-masing melalui stasiun televisi RCTI, Indosiar, dan Space Toon. Adapun versi prekuelnya yang bertajuk Saint Seiya: Lost Canvas juga pernah ditayangkan oleh Indosiar beberapa waktu yang lalu. Sementara untuk Movie Legend of Sanctuary sendiri diputar di Indonesia melalui jaringan bioskop Blitzmegaplex, Cinemaxx, dan Platinum Cineplex.

KAORI Newsline | Diulas oleh Adi Wibowo W.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.