BAGIKAN

si titik

Selain Si Unyil, ternyata ada Si Titik. Kelahiran dua film seri televisi produksi Perum Produksi Film Negara (Perum PFN) ini cuma berselang setahun. Si Unyil berusia lebih tua, ia tayang perdana di TVRI pada 5 April 1981, sedangkan Si Titik mengudara setahun setelahnya. Namun, popularitas Si Titik, yang juga film seri cerita boneka ini, kalah jauh dibanding Si Unyil. Seri televisi ini hanya bernapas selama delapan episode. Adapun Si Unyil disiarkan TVRI hingga 603 episode pada tahun 1992.

Walau kalah populer, tapi Si Titik rupanya memiliki bobot yang lebih berat. Unsur pembentuk ‘bobot’ dalam Si Titik adalah soal standar produksi, sisi artistik dan isi ceritanya berikut para karakternya. “Dibuat dengan standar produksi dan artistik yang lebih tinggi dan rumit, kita bisa melihat bahwa karakter-karakter dalam film ini sangat berbeda dengan Si Unyil,” kata Veronika Kusumaryati, seorang kurator film dan video dalam catatannya perihal Si Titik.

Advertisement Inline

Cuplikan episode Si Titik, poster beserta rangkaian data dan spekulasi tentang beberapa episode film seri televisi tersebut dipamerkan dalam ORDE BARU OK. Video – Indonesia Media Arts Festival 2015 di Galeri Nasional Indonesia pada15-28 Juni 2015 atas inisiatif Lab Laba-Laba. Si Titik dan ajang OK. Video tahun ini sendiri memang terikat oleh tema “Orde Baru”.

Lewat tema ini, OK. Video ingin membenturkan antara politik teknologi media (analog) yang digunakan rezim otoriter atau negara dengan politik teknologi media (digital) yang dikuasai warga pasca runtuhnya rezim otoriter. Sehingga, benturan ini dapat melahirkan perspektif baru untuk melihat kembali sejarah dan mitos-mitos persepsi publik ciptaan rezim otoriter Orde Baru.

si-titik-yang-lebih-seram-daripada-si-unyil

Si Titik sendiri adalah bagian dari mitos-mitos persepsi publik ciptaan Orde Baru tersebut. Dalam sejarah kelahirannya, Si Titik diproduksi di bawah arahan G. Dwipayana, Direktur PPFN kala itu. Dwipayana jugalah mantan petinggi militer yang pernah terlibat dalam produksi film-film propaganda penting Orde Baru. Sebut saja, Serangan Fajar (Arifin C. Noer, 1982) dan Pengkhianatan G 30 S/PKI (Arifin C. Noer, 1984). “Seperti film-film televisi Orde Baru pada umumnya, film Si Titik penuh dengan pesan-pesan pembangunan, terutama pesan untuk melestarikan lingkungan,” tulis Veronika sebagaimana dilansir dari Muvila.

BONEKA LEBIH SERAM

Berbeda dengan Si Unyil yang menampilkan suasana sehari-hari dan karakter anak-anak beserta aktivitas mereka pada lazimnya, maka Si Titik mengambil pendekatan yang berbeda. Menurut Veronika, alih-alih memuat karakter-karakter yang lucu, menyenangkan dengan latar yang umum kita jumpai, Si Titik malah dipenuhi dengan boneka-boneka yang seram.

Dari segi naratif, Si Titik juga dinilai Veronika sangat surealis. Menurutnya, film seri televisi melaburkan antara kronik tak masuk akal dengan kejadian riil di Indonesia. Pemirsa dengan mudah mengasosiasikan satu kejadian di penceritaan dengan kejadiaan aktual Indonesia era tahun 1982-1985. Pembauran antara nyata dan imajinasi kemudian menghadirkan kisah-kisah luar biasa dan ganjil.

“Film ini mengambil setting di hutan yang meski permai, indah dan penuh bunga berwarna-warni, adalah tempat perburuan, tempat di mana karakter-karakter polisi ataupun tentara serta orang-orang bersenjata merencanakan hal-hal mengerikan,” jelas Veronika, yang kini tengah menempuh studi doktoralnya di Anthropology/Visual and Environmental Studies, Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Dipilihnya hutan sebagai latar tempat Si Titik memang memiliki alasan kuat. Dalam kisahnya, Titik sendiri adalah seorang anak gadis anggota Pramuka yang menjadi korban kecelakaan pesawat yang jatuh di tengah hutan. Kondisi ini kemudian memunculkan niatan Titik untuk berteman dengan para binatang dan mengajari mereka baca-tulis. Juga dijelaskan Veronica dalam catatannya, latar hutan ini menjadi sentral ketika perbincangan soal pendatang baru dan para transmigran dihadapkan dengan penduduk lokal, yakni para binatang, mulai dari harimau sampai katak.

si-titik-yang-lebih-seram-daripada-si-unyil (1)

PAPUA & TRANSMIGRASI

“Namun pesan yang paling menarik dan mungkin menyeramkan dari film ini tergambar secara eksplisit di dalam mise en scene-nya, yakni keberadaan karakter aparat keamanan di dalam film, kantor mereka (Pos Pegawai Pertolongan Alam) yang dipasangi peta Papua (Orde Baru: Irian Jaya), dan pentingnya binatang-binatang di dalam film untuk bisa membaca dan menulis. Adakah hubungan antara aparat keamanan, peta Papua, program transmigrasi, dan keputusan menjadikan binatang sebagai subyek program pemberantasan buta huruf?” papar Veronika.

Dalam catatannya, Vero juga memaparkan bahwa pemerintahan Orde Baru telah mengintesifkan program transmigrasi sejak tahun 1970-an. Dalam buku “La Terre d’en Face – La Transmigration en Indonesie” terbitan 1997—yang kemudian diterbitkan buku versi bahasa Indonesia berjudul “Ayo Ke Tanah Sabrang”—karya Patrice Levang, dijelaskan bahwa selama tahun 1979-1984, ada sekitar 500 ribu keluarga atau kira-kira dua juta jiwa menjadi target program transmigrasi.

“Untuk Papua secara khusus, sejak pendudukan Indonesia di tahun 1963, tidak hanya transmigrasi namun juga operasi-operasi militer dilaksanakan untuk mengubah orang Papua yang dianggap primitif menjadi ‘beradab’. Program pemberantasan buta huruf menjadi bagian penting dari proses ini sejalan dengan upaya Orde Baru untuk memodernkan rakyat Indonesia, terutama di pedesaan. Contohnya dengan proyek Pemberantasan Buta Huruf (PBH) dan program Kejar Paket,” jelas Veronika.

Dalam amatannya, Veronika menilai Si Titik membuka kemungkinan untuk membaca mesin propaganda Orde Baru dengan cara lain. Menurutnya, Si Titik agaknya berdiri di atas motif pembelajaran dan penjinakan ketakutan. Pembelajaran pertama berasal dari konfrontasi dengan latar tak biasa, seperti hutan belantara ataupun tempat-tempat khusus macam Papua. Adapun pembelajaran kedua datang dari penjinakan, seperti program pemberantasan buta huruf, transmigrasi, dan ‘pertolongan alam’.

si-titik-yang-lebih-seram-daripada-si-unyil (2)

“Bukan kebetulan bahwa hampir semua film horor Orde Baru juga mengambil setting di hutan dan pedesaan, karena di sanalah horor dan ketakutan Orde Baru sebenarnya berakar. Hutan dan pedesaan adalah tempat-tempat di mana ‘rakyat’ dulu pernah dimusnahkan,” ujar Veronika dalam catatannya.

Dalam penjelasan data dan spekulasinya, Veronika memaparkan bahwa konflik Si Titik berkisar soal kekerasan dan intrik-intrik penguasaan satu kawasan. Si Titik mengajar hewan-hewan ajaib untuk membaca dan menulis. Upaya ini berlawanan dengan pihak-pihak yang mencoba menjajah para sahabatnya. Menurut Veronika, beberapa kali sahabat Titik harus terbunuh dan dikeroyok. Malahan, Titik disekap dan tampak dilecehkan dalam salah satu episodenya.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.