Ulasan Komik: Roro Mendut Karya Gerdi WK & Metha Studio

1

Indonesia menyimpan berbagai cerita rakyat, salah satu dari kisah tersebut adalah Roro Mendut. Banyak cerita rakyat di Indonesia, Gerdi WK dan Metha Studio mencoba untuk menghadirkan kisah Roro Mendut secara ringkas dalam 85 halaman.

roro mendut

Advertisement Inline

Roro Mendut mengambil latar belakang pada tahun 1600-an pada era kerajaan Mataram Islam khususnya di daerah sekitar Pati, Jawa Tengah. Tersebutlah Roro Mendut, seorang kembang desa yang hidup di wilayah yang berada di bawah kekuasaan Adipati Pragolo. Roro Mendut memiliki seorang kekasih bernama Pranacitra yang merupakan anak dari seorang saudagar bernama Nyai Barong. Kecantikan Roro Mendut yang termahsyur menyebabkan sang adipati ingin menjadikan Roro Mendut sebagai selirnya dan memboyongnya ke istana. Tak lama waktu berselang, kekuasaan sang adipati jatuh oleh serangan kerajaan Mataram. Sang Tumenggung kerajaan Mataram yang bernama Wiroguno tertarik oleh kecantikan Roro Mendut dan ingin menjadikannya sebagai selir. Roro Mendut mencoba sekuat tenaga menolak tawaran tersebut. Sang Tumenggung bersedia menerima tawaran tersebut dengan syarat Roro Mendut membayar pajak yang sangat tinggi. Dalam kebingungan, Roro mendut berkeliling di pasar untuk mencari ilham. Melihat banyaknya masyarakat yang menikmati rokok, Roro Mendut memutuskan menjadi seorang pedagang rokok untuk membayar pajak yang ditetapkan oleh Tumenggung Wiroguno.

upIMG_20150820_061938

Penceritaan yang disampaikan oleh Gerdi WK dalam kisah Roro Mendut ini berjalan dengan relatif wajar dan logis. Deus ex machina dalam kisah ini bisa dikatakan relatif sedikit, hanya tokoh antagonis yang secara kebetulan selalu muncul secara tiba-tiba mengusik kedamaian tokoh protagonis. Lain halnya dengan tokoh antagonis, Hal-hal “kebetulan” yang membuat tokoh protagonis menang secara dramatis tidaklah pernah terjadi. . Pranacitra yang memang tidak dilatih secara khusus untuk berkelahi kesulitan mengimbangi kesaktian Sang Tumenggung yang mendapat didikan dan mempunyai pangkat panglima perang Kerajaan Mataram. Dikotomi hitam-putih, baik-jahat, antara tokoh protagonis dan antagonis masih terasa kuat walaupun tidak ditampilkan secara berlebihan. Sang Tumenggung walaupun dalam batas-batas tertentu dapat dikatakan culas, licik, dan tidak berperasaan tetapi masih memiliki sifat kesatria dan belas kasih kepada Roro Mendut dan Pranacitra dengan memberikan mereka kesempatan untuk melawan tiraninya walaupun mengkondisikan mereka dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Gerdi WK juga berhasil menggambarkan Roro Mendut dan Pranacitra sebagai karakter yang manusiawi sebagai laki-laki maupun perempuan. Roro Mendut digambarkan sebagai perempuan pada umumnya yang menginginkan pemuda yang kuat dalam memperjuangkan cintanya dan merasa galau ketika Pranacitra tidak melakukan apa yang diharap-harapkannya, merasa seolah-olah Pranacitra tidak mencintainya. Sedangkan Pranacitra yang digambarkan sebagai laki-laki dari kalangan biasa-biasa saja dapat bertindak secara lebih logis dan berjuang secara sembunyi-sembunyi karena sadar bahwa perjuangan secara frontal sama saja dengan bunuh diri.

upIMG_20150820_060818

Gerdi WK menggunakan gaya gambar yang populer pada era 70-90an dalam menyampaikan kisah Roro Mendut. Karakter-karakter manusia yang menjadi titik fokus dalam cerita digambarkan dengan gaya realis dan detail. Latar belakang maupun motif pakaian tidak digambar secara detail tetapi dapat memberikan kesan cerita yang lebih hidup dan nyata secara keseluruhan. Secara umum gambar yang disajikan memiliki kualitas yang bagus, tetapi berkaitan dengan cerita, terdapat hal yang sedikit menggelitik ketika sang tumenggung dan para pengawalnya mengejar roro mendut yang kabur melewati hutan belantara, tidak ada seorangpun dari mereka yang tampak membawa obor sebagai sarana penerangan.

upIMG_20150820_061443

Pelajaran dari kisah dua abad lalu

Kisah Roro mendut ini terkesan sederhana tetapi banyak hal yang sebenarnya menarik dan masih relevan dengan kondisi saat ini. Tidak selamanya perjuangan sebuah tirani harus dilawan dengan kekerasan dan pertumpahan darah. Roro Mendut yang pada awalnya mengira kecantikannya adalah sebuah kutukan dari Yang Mahakuasa akhirnya menyadari bahwa kecantikannya juga menjadi senjata untuk melawan tirani sang Tumenggung. Di sisi lain, Tumenggung Wiroguno mengajarkan bahwa tidak selamanya kekuasaan dan kekayaan dapat digunakan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Hal lain yang sedikit menggelitik bagi saya adalah wanita cantik berjualan rokok tampaknya sudah dikenal lebih dari dua abad silam dan masih sampai digunakan hingga saat ini.

KAORI Newsline | oleh Adi Wibowo Wendar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.