TPP berpotensi mematikan acara pasar produk kreatif seperti Comiket. (Foto: Kevin W)
TPP berpotensi mematikan acara pasar produk kreatif seperti Comiket. (Foto: Kevin W)
Jepang adalah negara dengan literasi media yang tinggi dan menghargai kebebasan dalam seni – setidaknya selama tidak membahas Jugun Ianfu – (Foto: Kevin W)

Drama di media sosial seakan tidak ada habisnya. Kemudahan setiap orang untuk berpartisipasi hanya dengan layar ponsel dan paket data memudahkan setiap orang untuk cepat menyampaikan aspirasinya seketika juga dan menekan tombol “share” tanpa khawatir diciduk polisi – sebagaimana di Tiongkok dan Iran -.

Namun dengan segala kebebasan di alam demokrasi (yang ternyata sudah mulai kebablasan menurut segelintir orang), ternyata nikmat tersebut tidak diimbangi dengan kemawasan diri dalam berkomentar, alih-alih memperhatikan aspek sosial dan budaya. Terbawa dalam amarah menghilangnya nostalgia masa kecil dan lantunan keagamaan yang berkumandang, sebagian netizen Indonesia marah dan kemarahan ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum media untuk menyetir, mendulang traffik dengan mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik. Kealpaan ini dibuktikan dengan adanya media yang menulis adzan sebagai ayat Al-Qur’an. Ke mana editornya?

Generasi digital natives yang di Indonesia kebetulan mengalami masa-masa kecilnya dimanjakan dengan tayangan anime bertemu dalam satu wadah publik di media sosial, saat anak-anak mereka kini disajikan tayangan berkedok acara musik dan reality show berbiaya murah meriah. Menggunakan barometer selera generasi 90-an yang menikmati tayangan anime di televisi secara taken for granted, mereka dengan mudah menyerang Komisi Penyiaran Indonesia sebagai lembaga yang menghancurkan kenangan masa kecil mereka ketika Dragon Ball tiba-tiba berhenti tayang di stasiun televisi. Di sisi lain, entah karena kepentingan stasiun televisi atau industri media yang berorientasi komersial, media-media ramai menggoreng setiap rilis pers KPI tanpa berusaha cover both side, dengan narasi-narasi seolah-olah menghilangnya seri-seri tertentu dari televisi adalah memang salah KPI belaka. Sudah rahasia umum bila internal di stasiun-stasiun televisi menyimpan rasa benci terhadap KPI.

Advertisement Inline

Di sisi yang sama, netizen Indonesia juga ribut luar biasa ketika menemukan gubahan mengandung kata religi dalam lagu sebuah seri anime. Mendadak netizen Indonesia berubah menjadi pakar fiqih sementara media-media lain tampak sengaja menggiring para pembacanya untuk sampai pada kesimpulan penghakiman, “benar atau salahkah tindakan sang pencipta?”.

Netizen yang ramai-ramai menghujat Noragami tersebut profilnya 11-12 dengan netizen yang menghujat KPI, sebagaimana media-media umum merasa alpa dan abai bahwa Khazanah, tayangan berbau religi dan disajikan dengan kemasan yang “sangat Islami” masuk sebagai tayangan nomor tiga yang paling dikeluhkan masyarakat ke KPI.

Jepang sebagai negara yang sangat sekuler (bukan negara tidak beragama sebagaimana pemahaman sebagian besar masyarakat) memiliki kekayaan tradisi ritual yang ditahbiskan dalam matsuri-matsuri yang diselenggarakan sepanjang tahun, tidak terhitung ritual-ritual lain seperti pernikahan dan kematian yang kaya unsur keagamaannya. Kesalahan pemahaman akan kasus Noragami bermula dari episteme masyarakat Jepang yang memang bebas dan menghargai kebebasan dalam mengekspresikan dirinya pada ruang seni. Osamu Tezuka pernah membuat Buddha, bagaimana Yesus dan Buddha diparodikan dalam Saint Young Men, dan tentunya tidak terhitung lagu-lagu pop Jepang yang memasukkan Halleluya dalam lirik lagunya.

Bahkan bila seseorang mengabaikan negara Jepang yang memang permisif terhadap agama, kaitan antara agama dan seni hendaknya tidak diukur melalui standar agama. Di Indonesia, HB Jassin membela Kipandjikusumin yang hendak dipenjara karena cerpen Langit Makin Mendung, dan didukung oleh sosok cendekiawan Muslim besar Indonesia Buya Hamka, yang mendukung sikap Jassin namun tidak berempati dengan Kipandjikusumin. HB Jassin punya argumentasi jelas bahwa apa yang terjadi dalam ranah seni tetap terjadi dalam ranah seni. Argumen ranah seni ini adalah argumen yang disitir banyak pegiat komik bergenre lolicon saat digempur aktivis-aktivis HAM dari Barat; bagaimana mungkin jaksa mendakwa seseorang bersalah karena telah menzalimi anak-anak imajiner?

Terlepas bahwa pada akhirnya tim produksi Noragami meminta maaf atas hal yang mereka lakukan, kontroversi KPI dan Noragami adalah gunung es dari era demokrasi digital, saat berbagai akun media sosial mampu menyuarakan pendapatnya, sekalipun tanpa melakukan tabayyun. Fenomena yang juga memperparah polaritas netizen pendukung Jokowi dan Prabowo pasca Pilpres 2014 yang menjadikan halaman Facebook dan Twitter setiap pribadi kini tidak lagi tenang, berubah menjadi keberisikan digital.

Noragami adalah bentuk ekspresi seni yang tidak semestinya dinilai dengan pandangan agama – berbeda dengan karikatur Charlie Hebdo yang memang jelas ditujukan untuk menistakan agama -. KPI adalah korban dari netizen yang mengalami asimetri informasi bercampur egoisme berkedok kerinduan masa kecil. Pada akhirnya, media dan pemilik kepentinganlah yang menuai untung berkat literasi media yang rendah tersebut.

Oleh Kevin W

Koreksi: versi pertama artikel ini menyebutkan HB Jassin berhadapan dengan Hamka.

7 KOMENTAR

  1. KPI sendiri jg sebenarnya sdh membuat kami marah kok. kami sdh bbrp kali minta baik2 penghapusan shitnetron, goshit, ftv, acara2 musik GJ bin alay dan lebay, serta reality show settingan dan palsu. kami komentar di fp mereka baik2 sj tdk dibls atopun digubris. marah pun jg mereka tdk gubris, yg ada mereka justru ngeblok orgnya. minimal mereka menanggapi komentar kami yg marah sj, sdh bs membuat kami sdikit tenang, sisanya ya tindakan mereka yg hrs dibuktikan. sy pernah bc artikel ttg ada acara reality show di Jepang yg trus2 mengejar rating tanpa peduli kualitas, akhirnya komisi penyiaran Jepang trn tgn lsg. mereka lsg tegas dlm menindak acara tsb, lsg dilarang tayang ato cabut hak siarnya sy lupa. tp ini bukti kalo action speaks more louder than just words. sdgkn KPI sendiri cmn bsnya negur2 doang, tp tdk ada realisasi tindakan yg nyata. pst ada lah permainan di dlm KPI sendiri kok. sperti kpn hri bang admin membls komentar sy di postingan fb bang admin, setdknya sdh membuat kami tenang sdikit. cb sj bang admin menyamar jd org tdk dikenal sm KPI. cb post di fb KPI, kalo mereka akan bls. bahkan pake kata2 ksr dan marah pun mereka tdk akan membls. kalo kalian msh mendukung KPI, sy curiga sih sperti ada komentar yg blg kalo kalian sdh dicuci otak oleh KPI.

    • Well, kalo begitu datengin dan protes langsung ke stasiun TV-nya. Mereka udah berkali-kali diprotes ka-pe-i, tapi tetep membandel hingga hari ini~

  2. Saat saya baca tentang Noragami ini, saya tiba-tiba teringat dengan lagu islami yang biasanya marak menjelang bulan puasa, sebut saja lagunya Bimbo, Ungu, Radja, Opick atau bisa juga ditambahkan dengan Maher Zein. Mereka menggubah ayat di kitab suci, Allah (Tuhan) dan doa2 menjadi musik dengan berbagai genre. Nyatanya, tanggapan masyarakat terhadap lagu2 tersebut positif, dijual dalam kaset dan CD juga ada yang dijadikan soundtrack film/sinetron (CMIIW). Saya ngeliat warga muslim cukup terbuka untuk menerima gubahan lagu yang berhubungan dengan ajarannya.

    Terus kenapa Noragami mendapat banyak respon negatif ?. Menurut saya, mungkin karena yang digubah menjadi lagu remix adalah Adzan. Sepengetahuan saya, Adzan itu dihormati dan cukup sensitif kalo dijadikan bahan candaan. Misalnya saja, teman saya dulu pernah kena tegur karena menjadikan Adzan ini sebagai ringtone hp, selain itu juga ada warga non-muslim yang memilih untuk mengecilkan sound system saat berkaraoke ria ketika mendengar Adzan. Kalo mau ditelisik lebih jauh, kemungkinan juga karena Adzan adalah PANGGILAN sholat,

    Saya melihat dari kasus Noragami ini bukan sepenuhnya kesalahan pihak Noragami, tapi saya menyayangkan sepertinya mereka kurang pendalaman/riset terhadap Islam. Sebagai contoh kecil kata *nj*ng dan g*bl*k di Bandung itu sudah menjadi kata sapaan bagi pemuda disana, tapi jangan sekali2 menggunakan kedua kata itu sebutlah di kota Cianjur kecuali anda mau dimusuhi sekampung.

    • Ya konten noragami untuk apa ? Sinetron azab kan yg pake lagu islami? Dan mereka pake azan kah di sinetron ? Dari konten udah beda mas .. kalau mau komen yg jelas sedokit lah .. pahami dulu kontennya!

  3. iya yak berisik2 noragami kayak yang ngehujatnya taat aja
    no offense saya sendiri muslim
    mungkin mereka ngehujat noragami sampe ada sebutan “NorakGami” itu ngikut2 orang aja atau keren nya Demonstration Effect

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.