BAGIKAN
(Toei)

Chihaya Ayase (Suzu Hirose) adalah gadis dengan obsesi terhadap karuta, permainan lawas yang tidak lagi dimainkan selain pada saat Tahun Baru. Saat SD, Chihaya bermain karuta bersama Taichi Mashima (Shuhei Nomura) dan Arata Wataya (Mackenyu) dan berjanji meski mereka akan terpisah jauh, karuta akan kembali mempertemukan mereka.

Berpindah ke masa SMA dan Chihaya kesulitan mendirikan klub karuta tanding. Taichi masuk ke sekolah yang sama dengan Chihaya dan secara tidak sengaja di loteng, mereka berdua kembali bersua (dan terjebak bersama-sama). Taichi tidak percaya dengan ambisi Chihaya, namun setelah melihat keteguhan hati Chihaya dalam turnamen karuta tingkat lokal, Taichi luluh dan mau membantu Chihaya mendirikan klub karuta tanding.

Lima orang berhasil terkumpul. Selain Chihaya dan Taichi, bergabunglah tiga orang baru dengan “keunikannya” sendiri yaitu Kanade Ooe (Mone Kamishiraishi) yang sangat mencintai kearifan budaya tradisional Jepang, sang railfans akut Tsutomu Komano (Yuki Morinaga), dan teman lama Taichi dan Chihaya, Yusei Nishida (baca: Nikuman) (Yuma Yamoto). Dari sebuah tim yang berkumpul karena formalitas belaka, keteguhan Chihaya dan perhatiannya kepada hubungan tim menjadikan tim karuta mereka sebagai tim yang tangguh dan siap berkompetisi menuju kejuaraan nasional.

Advertisement Inline

Karuta sendiri tidak terlalu dikenal di Jepang. Menonton film ini berkali-kali tidak akan membuat penontonnya, khususnya bagi selain orang Jepang, menjadi paham cara bermain karuta. Tetapi secara sederhana, karuta adalah permainan menebak pasangan puisi dari Hyakunin Isshu yang dikumpulkan oleh Fujiwara no Teika. Tetapi dalam film ini, banyak puisi yang dipakai dalam kompetisi yang menggunakan sajak karya sastrawan Ariwara no Narihira, khususnya puisi nomor 17 yang secara khusus merujuk ke Chihayafuru.

Bila penonton live action ini telah membaca komik dan/atau menonton animenya, akan terasa sejumlah masalah krusial yang tak terelakkan dalam film ini. Sejumlah peraturan karuta yang memang njelimet menjadi tak terlihat dalam seri ini. Cerita secara umum tidak terlalu memfokuskan ke permainan karuta sehingga banyak detail yang dipotong, namun tidak mengganggu kenikmatan menonton film. Justru momen-momen krusial seperti jatuh bangunnya kepribadian seorang Komano dan momen-momen kedekatan Arata dan Chihaya lebih dikuatkan dan ditonjolkan dalam seri ini.

Bertanding di babak penyisihan perdana. (Toei)
Bertanding di babak penyisihan perdana. (Toei)

Menariknya, film ini berhasil menampilkan sosok Chihaya yang “ngehe” apa adanya. Tampilan “mata belo” yang terlihat saat Chihaya selesai bertanding tak terlewatkan dalam seri ini. Kemudian, pemakaian yukata yang dipakai oleh tim Chihaya semakin indah saat terlihat di dalam film, jauh lebih indah ketimbang gambar di dalam anime aslinya. Secara umum, film ini sangat nge-pop namun berhasil menampilkan sisi budaya klasik Jepang yang dimainkan dalam suasana abad ke-21.

Lagu FLASH yang disajikan oleh Perfume mampu menggabungkan musik trance yang sangat modern namun masih menghadirkan kesan tradisional Jepang. Ajep-ajep yang dalam pendengaran pertama, menimbulkan kesan tak terbantahkan bahwa ini adalah lagu yang sangat Jepang.

Menilai film sepanjang 102 menit (part 1) dan 120 menit (part 2) ini sebagai sebuah adaptasi komik, Chihayafuru live-action tidak terlalu mengikuti komiknya, selain karena komiknya yang sangat panjang, juga karena detail teknis yang sangat kaya dan justru akan terasa membebani penonton yang asing dengan komiknya.

Tetapi sang sutradara Norihito Koizumi berhasil membuat Chihayafuru bersinar sebagai sebuah kanonnya sendiri, karya yang mampu membuat siapapun yang menontonnya mampu menikmati karuta sembari tetap merasa terhibur.

Film ini diputar dalam Japanese Film Festival 2016 yang diselenggarakan pada 24 – 27 November 2016 di Jakarta.

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.