SHARE

reon

Schadenfreude ada dalam setiap diri manusia. Di tengah kehidupan yang makin keras, setiap manusia pasti pernah merasakan suatu kesenangan saat melihat teman, lawan, atau orang lain mengalami ketidakberuntungan. Manusia senang jika orang lain mengalami kegagalan – lebih-lebih bila ia gagal karena kenaifannya sendiri -.

Chitose Karasuma (Sayaka Senbongi) adalah seorang pendatang baru di dunia sulih suara (seiyuu). Kakaknya, Gojou Karasuma (Yuuichirou Umehara) merupakan mantan artis yang tiba-tiba menarik dirinya di tengah puncak kejayaannya dan kini menjadi manajer bagi sang adik. Chitose enggan memasuki dunia kerja dan dengan kebesaran mulutnya, ia memutuskan untuk masuk ke dalam dunia sulih suara. Kemudian karena faktor “bejo”, ia didapuk untuk memerankan tokoh utama adaptasi anime dari sebuah novel ringan medioker Millenium Princess x Kowloon Overlord.

Suasana kantor barunya tidak begitu harmonis. Chitose yang jumawa dengan peran utama sekaligus peran perdananya bertemu dengan rekan-rekannya, Koto Katakura (Yui Ishikawa) dan Yae Kugayama (Kaede Hondo) yang sama-sama seiyuu pemula. Tetapi ia juga bertemu dengan Kazuha Shibasaki (Saori Oonishi) dan Momoka Sonou (Eri Suzuki), di mana mereka jauh lebih berpengalaman dan dalam proses produksi, mereka berdua tidak terlalu dihormati oleh Chitose.

Cerita bergulir di tengah bencana proses adaptasi anime Kowloon. Seakan menyegarkan ingatan akan Shirobako, penonton diajak melihat apa yang terjadi dalam sebuah adaptasi anime. Bencana dalam proses manajemen dimulai dari sikap yang menggampangkan segalanya, seperti yang diperlihatkan oleh sang produser Kuzu-P (Kazuya Nakai), kurangnya keseriusan dari mereka-mereka yang ikut terlibat (Kazuha dan Momoka), sampai sikap jumawa Chitose sendiri.

(Project GN)

Paruh pertama anime ini menggambarkan Chitose yang mengetahui posisi dirinya in a hard way. Bersikap begitu jumawa saat CDnya terjual sepuluh ribu kopi, ia memilih lari dari kenyataan saat dihujat oleh penggemar di internet. Detail lain terselip dalam anime ini, di mana Kowloon ternyata sejak awal telah diputuskan akan berlanjut ke musim kedua apapun yang terjadi. Sang penulis yang merupakan tipikal penulis novel ringan pada umumnya pun tak berkutik saat hendak menyarankan bagaimana cara menyelamatkan Kowloon yang sudah menuju jurang kehancuran. Studio yang mengerjakannya pun tak kuasa menghasilkan animasi yang baik karena kacaunya manajemen proyek ini.

Melewati separuh cerita, penonton diajak melihat sisi lain seri ini. Bagaimana proyek Kowloon, meski dengan begitu banyak kekacauan di dalamnya, berhasil membuat mereka berlima menjalin hubungan yang dekat. Girlish Number dalam keterbatasan 12 episodenya berusaha menggali selebar mungkin karakternya sehingga pada beberapa episode, episode tersebut terasa lepas dari cerita utama layaknya sebuah OVA. Hal ini terasa saat satu episode khusus disajikan untuk mengupas sisi seorang Kazuha (dan sebagian Momoka). Bila tidak ada link kembali ke cerita utama, episode ini bisa menjadi OVA sendiri.

Namun hal paling menarik dari Girlish Number selain melihat orang congkak yang terhempas adalah mengamati industri seiyuu yang mendekati realita. Pertanyaan menarik mengenai mengapa seiyuu baru bisa muncul, bisa mengorbit begitu cepat, lalu terlupakan begitu cepat, dan dinamika fansnya digambarkan dengan baik di sini. Salah satu adegan di anime ini misalnya, menggambarkan sisi fans dengan indah: gerutu fans Chitose yang senyumnya kalah mentereng dengan senyum pendatang baru lain Nanami Sakuragaoka (Satou Amina). Celetukan keluar, “ah gue nggak mau ngefans Chitose lagi, pindah aja ke Nanami-chan.” Analisis lengkap soal representasi industri seiyuu dalam Girlish Number  bisa dibaca di sini (dalam bahasa Inggris).

Salah satu seiyuu yang paling mencolok di sini bagi para pemerhati seiyuu adalah Saori Oonishi. Menonton Girlish Number adalah menemukan bagaimana karakter-karakter di dalamnya diisi oleh para seiyuu berpengalaman dan bagaimana mereka unjuk kebolehan. Berbeda dengan suara Nao Touyama yang relatif mudah dikenali di mana-mana, penonton awam tidak akan menyangka kalau Saori pernah menjadi karakter tsundere Eriri dalam Saenai Heroine no Sodatekata dan Rihavein dalam Strike the Blood!

Pada akhirnya Girlish Number berakhir terlalu cepat dan mungkin akan terasa mengecewakan bila berharap anime ini akan menjadi seperti Shirobako, tetapi bila mencari sosok Hachiman dalam wujud perempuan, seri ini bisa memuaskan penontonnya.

Positif

  • Salah satu anime “serius” yang tidak menampilkan romansa di dalamnya (cukup langka).
  • Saori Oonishi yang luar biasa.
  • Premis awal yang secara umum sangat menarik.

Negatif

  • Cerita cukup melebar, banyak premis-premis bagus yang tidak tergali dalam 13 episode yang singkat
  • Untuk anime yang menjual seiyuu sebagai tawaran utama, lagu yang disajikan cukup meh

Yang Disayangkan

Dengan premis yang bagus dan eksekusi yang serius, anime ini kurang terangkat pada waktu tayangnya (walau tidak se-obscure Fune wo Amu).

Fakta dan Data

Judul LainGi(a)rlish Number
Pengisi SuaraEri Suzuki sebagai Momoka Sonō
Kaede Hondo sebagai Yae Kugayama
Kazuya Nakai sebagai Kuzu-P
Kenyuu Horiuchi sebagai President Namba
Saori Ōnishi sebagai Kazuha Shibasaki
Sayaka Senbongi sebagai Chitose Karasuma
Takuya Eguchi sebagai Assistant Producer Towada
Yuichiro Umehara sebagai Gojō Karasuma
Yui Ishikawa sebagai Koto Katakura
SutradaraShouta Ibata
Penulis SkenarioWataru Watari
Desain KarakterQP:flapper (Oreimo 2, Girlfriend BETA, Regalia: The Three Sacred Stars)
Lagu Pembuka“Bloom” by Girlish Number
Lagu Penutup“Ima wa Mijikashi Yume Miyo Otome” by Girlish Number
StudioDiomedea
Situs resmihttp://www.tbs.co.jp/anime/gn/
Twitter@gn_staff
Mulai tayang pada7 Oktober 2016 (1627 GMT, 2227 WIB), 8 Oktober (0027 JST)

KAORI Newsline | oleh Kevin W