Opini: Ketika Hubungan Romantis Bukan Segalanya

0
© Ayano Takeda, Takarajimasha/"Hibike" Production Committee

Sebagai seorang pengarang, ada suatu hal yang terasa mengganjal bagi Ayano Takeda. Penulis novel Hibike! Euphonium ini merasa heran mengapa banyak karya fiksi, baik dalam media novel maupun media-media lainnya, cenderung menempatkan hubungan romantis sebagai hubungan yang paling penting dibandingkan hubungan lainnya seperti persahabatan. Karena itu, dalam karyanya ia ingin menggambarkan hal yang berbeda, menempatkan persahabatan sebagai hal yang lebih berharga daripada hubungan romantis.

Takeda tidak sendirian dalam pandangannya tersebut. Sutradara animasi Hayao Miyazaki, misalnya, juga mempertanyakan hal yang serupa. Ia jemu dengan “aturan tidak tertulis” di mana cerita yang menghadirkan protagonis lelaki dan perempuan selalu berujung pada hubungan romantis di antara keduanya.

Baca Juga: Battle of Surabaya, Miyazaki, dan Genre Aksi/Petualangan

Tentu itu bukan berarti karya fiksi tidak boleh menampilkan hubungan romantis sama sekali. Dalam cerita bergenre romance tentu saja wajar jika ada hubungan romantisnya (kalau tidak ada apa yang mau diceritakan?). Namun seperti ada pandangan umum bahwa hubungan romantis adalah hubungan paling berharga yang pada akhirnya harus dimiliki semua orang, sehingga dalam genre-genre selain romance pun muncul ekspektasi bahwa karakter utama selalu harus memiliki kekasih. Adanya pandangan seperti ini dapat dilihat dari beberapa reaksi terhadap film Moana, yang menganggap film tersebut menampilkan “kehidupan romantis yang mengecewakan” karena tidak menampilkan hubungan romantis sama sekali, terutama dibandingkan dengan film Disney lainnya yang juga berkisah seputar karakter “putri.”

© Ayano Takeda, Takarajimasha/”Hibike” Production Committee

Beberapa penulis mencoba menghindari jebakan klise tersebut dengan memusatkan perhatian cerita pada hubungan antara karakter yang berjenis kelamin sama. Takeda sendiri mengambil jalan ini dengan menggambarkan persahabatan antar gadis dalam novelnya. Ia menunjukkan bahwa Kumiko dan Reina bisa menjadi sosok yang sangat penting dan tak tergantikan bagi satu sama lain tanpa harus menjadi kekasih (walau sebagian pembaca atau penonton mungkin memiliki penafsiran yang berbeda).

Baca juga: Ulasan Anime Hibike! Euphonium

Cara berbeda diambil oleh film Moana. Dalam film Disney yang baru keluar akhir November 2016 itu, karakter lelaki yang memiliki peran paling besar dalam film ini, Maui, hadir sebagai sosok “mentor” (yang merepotkan) dengan mengajarkan ilmu pelayaran pada sang protagonis perempuan, Moana. Perkembangan karakter yang mereka alami adalah sebagai guru dan sebagai murid.

© Walt Disney

Tidak adanya hubungan romantis yang digambarkan dalam film Moana membuat salah satu rekan saya di KAORI menilai film tersebut terasa lebih fresh dan bebas. Menurut hemat saya, itu karena dengan tidak adanya sosok kekasih yang harus dicari atau mencari Moana, film itu mampu menggambarkan betapa dalam dan luasnya cinta kasih Moana pada keluarganya, warga desanya, dan bahkan makhluk-makhluk hidup lainnya. Dan cinta kasih yang dalam dan luas bagai samudera (sesuai dengan namanya) itu yang pada klimaks membuatnya mampu memecahkan misteri Te Ka dan menyelamatkan dunia dari kutukan.

Sementara Miyazaki bisa dibilang mengambil pendekatan yang paling berani. Dalam Tenkū no Shiro no Laputa (Castle in the Sky) yang dipersembahkannya di tahun 1986, ia tetap menghadirkan protagonis lelaki dan perempuan yang usianya kurang lebih sama. Dalam beberapa scene pun ia menggambarkan keduanya sangat berdekatan, berpegangan tangan atau bahkan berpelukan. Namun Miyazaki dengan lihai menghindari kesan romantis dari kedekatan tersebut dengan tidak menghadirkan indikator visual dari ketertarikan romantis (atau seksual) yang paling lazim dalam animasi Jepang: blushing (pipi/muka memerah). Tanpa hal tersebut, kedekatan Pazu dan Sheeta tak terasa seperti kedekatan sepasang kekasih, namun lebih seperti kedekatan kakak dan adik; saudara senasib (karena sama-sama anak yatim) jika tidak sedarah.

© Studio Ghibli

Penghargaan yang berlebihan terhadap hubungan romantis bisa jadi malah mempersempit pemahaman mengenai makna cinta kasih. “Teman” atau “sahabat” dianggap tidak lebih berharga dari “kekasih”, sehingga “berakhir cuma berteman” sering dipandang sebagai kondisi yang menyedihkan. Namun ada yang bilang sahabat sehati itu susah didapat; bahkan orang tua sendiri pun belum tentu bisa menjadi sahabat. Mungkin saja tidak memiliki sahabat itu bisa lebih memilukan daripada tidak memiliki kekasih. Dan sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa contoh di atas, tidak melulu menghadirkan hubungan romantis mungkin bisa membuka peluang bagi suatu cerita untuk mengeksplorasi cinta kasih dalam pengertian yang lebih luas.

KAORI Newsline | Oleh Halimun Muhammad | Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca utk menulis opini tentang dunia anime & industri kreatif Indonesia. Opini ditulis 500-1000 kata dlm bhs Indonesia/Inggris & kirim ke opini@kaorinusantara.or.id

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.