BoS Miyazaki Header

Setelah menanti tiga tahun, film animasi layar lebar Indonesia Battle of Surabaya, akhirnya Battle of Surabaya telah hadir di bioskop Indonesia bagi penonton umum sejak tanggal 20 Agustus. Ulasan Battle of Surabaya telah dimuat di KAORI (bisa dibaca di sini), jadi saya tidak akan mengulang memberi penilaian menyeluruh pada film ini di sini. Saya justru ingin bergerak lebih dalam pada cakupan spesifik salah satu aspek dari Battle of Surabaya yang paling membuat saya terkesan ketika menonton filmnya bersama staf KAORI yang lain. Yang saya maksud adalah peran gender yang dimainkan dalam hubungan antara tokoh utama perempuan dalam film ini, Yumna (dimainkan oleh Maudy Ayunda), dan tokoh utama laki-lakinya, Musa (dimainkan oleh Ian Saybani).

Saya terkesan karena hal yang saya sebutkan itu di mata saya menunjukkan adanya gagasan yang cukup progresif dalam narasi film ini. Hal tersebut seperti menggemakan upaya sutradara film animasi Jepang, Hayao Miyazaki, untuk menantang pakem cerita aksi/petualangan konvensional melalui film pertamanya di Studio Ghibli, Castle in the Sky (Tenkū no Shiro Laputa). Untuk menjelaskan perbandingan itu, saya akan terlebih dahulu menerangkan analisis Thomas Lamarre mengenai bagaimana peran tokoh utama perempuan dalam film Castle in the Sky menggoyahkan pakem konvensional genre tersebut. Kemudian saya akan menjelaskan bagaimana permainan peran gender dalam film Battle of Surabaya memberikan efek yang sama walaupun dengan cara yang berbeda. Tidak bisa dihindari, akan ada spoiler cerita film ini yang dibahas. Karena itu saya sarankan anda membaca artikel ini setelah menonton filmnya.

Advertisement Inline

Kegundahan Miyazaki pada Pakem Cerita Aksi/Petualangan

Castle in the Sky
Only a girl can save us now

Dalam Castle in the Sky, dunia telah diporak-porandakan di masa silam oleh senjata pemusnah masal. Benteng-benteng angkasa yang menjadi senjata penghancur paling mematikan di masa silam sebagian besar telah hancur dan dianggap sebagai legenda olah orang masa sekarang. Namun kini, ada pihak yang berupaya menemukan dan menguasai kekuatan satu-satunya benteng angkasa yang masih tersisa, Laputa. Rahasia untuk menemukan dan mengendalikan benteng Laputa dipegang oleh gadis desa bernama Sheeta, yang menjadikannya diincar oleh Kolonel Muska dan pasukannya. Film ini mengikuti petualangan Sheeta menghindari kejaran pasukan Muska dengan bantuan bocah lelaki bernama Pazu, yang menemukan Sheeta setelah ia jatuh dari kapal terbang Muska ke kota tambang tempat Pazu tinggal.

Sebagaimana dikatakan oleh produser Isao Takahata, Castle in the Sky pada dasarnya adalah sebuah film aksi/petualangan. Namun dalam sebuah perbincangan dengan novelis Ryū Murakami, Miyazaki mengungkapkan bahwa dirinya merasa gundah dengan cerita action/adventure. Hal yang membuatnya gundah adalah cerita semacam ini cenderung menampilkan resolusi sederhana di mana sang jagoan lelaki mengalahkan penjahat dan dengan begitu semua masalah menjadi tuntas. Lamarre menjelaskan bahwa pakem cerita seperti ini menunjukkan pola pikir manusia yang memandang kondisi yang dialaminya sebagai masalah yang perlu ditaklukkan agar bisa mendapatkan hasil yang bermanfaat bagi dirinya.

Stereotip peran tokoh utama perempuan di dalam cerita aksi/petualangan kerap menjadi pendukung dari pakem konvensional genre tersebut. Sang tokoh perempuan biasanya berada dalam posisi tidak berdaya dan terancam oleh penjahat, sehingga harus diselamatkan oleh sang jagoan lelaki. Setelah sang jagoan lelaki mengalahkan penjahat, sang tokoh perempuan kemudian menjadi kekasih atau pengantin sang jagoan lelaki, sebagai ‘hadiah’ baginya karena telah menyelamatkan sang perempuan dan dunia dari masalah ancaman penjahat. Sang tokoh perempuan di sini berfungsi tak lebih dari sekedar obyek atau alat.

Miyazaki tidak ingin sekedar mereproduksi pakem cerita aksi/petualangan konvensional seperti itu. Melalui film aksi/petualangan yang dibuatnya, Miyazaki justru merongrong pakem cerita genre tersebut. Murakami mencatat, jika Castle in the Sky merupakan cerita aksi/petualangan konvensional maka jagoannya pasti mengalahkan para penjahat dan mengambil alih senjata benteng Laputa untuk digunakan bagi tujuan yang baik. Namun di film ini, Sheeta dan Pazu justru mengaktifkan fungsi self-destruct Laputa sehingga benteng itu hancur dengan sendirinya. Dengan demikian, tidak ada pihak yang bisa memanfaatkan Laputa untuk kepentingannya masing-masing, entah untuk tujuan jahat maupun baik.

Berdasarkan penjelasan Lamarre, bagaimana Miyazaki memainkan peran tokoh utama perempuan dalam filmnya merupakan salah satu aspek penting yang menggoyahkan pakem cerita aksi/petualangan. Dengan memegang batu ajaib yang menjadi kunci untuk menemukan dan mengendalikan Laputa, Sheeta menjadi incaran dari beberapa pihak. Di sini Miyazaki mendemonstrasikan stereotip peran tokoh perempuan pada penonton melalui Sheeta, yang diperebutkan seperti obyek atau alat untuk mencapai tujuan, dan berada pada posisi tidak berdaya.

Namun setelah melalui stereotip tersebut, Sheeta justru memainkan peran kunci dalam menyelamatkan dunia, karena ialah yang mengambil inisiatif untuk mengaktifkan sistem yang menghancurkan Laputa. Sang tokoh utama perempuan yang secara aktif mengambil keputusan yang menyelamatkan dunia dari kehancuran, sementara sang jagoan lelaki berperan mendukung keputusan tersebut. Dengan begitu film Castle in the Sky kemudian tidak hanya merupakan petualangan Pazu sang jagoan lelaki, tapi juga perjalanan Sheeta sang tokoh utama perempuan menjadi juru selamat dunia. Keselamatan ini juga diperoleh bukan dengan tokoh utamanya mengalahkan penjahat dengan menjadi lebih kuat dari penjahatnya, tapi dengan tokoh utamanya membebaskan diri dari keterikatan kepada obyek yang dipertarungkan dalam film ini.

Lamarre juga berargumen bahwa Miyazaki cenderung menghindari resolusi romantis antara tokoh utama perempuan dan lelaki dalam filmnya, untuk menghindari penempatan tokoh perempuannya sebagai ‘hadiah’ bagi tokoh lelakinya. Miyazaki lebih mengutamakan penggambaran hubungan di antara tokoh perempuan dan lelakinya “sebagai teman, partner, atau sekutu.” Setidaknya dalam Castle in the Sky, hal ini tercapai dengan memberi fokus yang berimbang antara perjalanan Sheeta menuju keselamatan dengan petualangan Pazu. Sheeta tidak menjadi ‘hadiah’ bagi Pazu atas jasanya menjadi jagoan lelaki yang menyelamatkan dunia, karena toh memang bukan Pazu yang menyelamatkan dunia seorang diri, tapi Sheeta yang menjadi juru selamat dengan bantuan Pazu.

Dengan memainkan peran Sheeta seperti itu, Miyazaki telah menghindari glorifikasi kekuatan dan kekerasan lelaki yang menjadi kecenderungan cerita aksi/petualangan konvensional. Dengan menjadikan tokoh utama perempuan sebagai juru selamat dalam film aksi/petualangannya dan bukannya hadiah bagi tokoh lelaki, Miyazaki merongrong pakem cerita yang mengindahkan kekuatan lelaki dan pertarungan sebagai solusi dari masalah. Peran perempuanlah yang dalam film Miyazaki menawarkan kebebasan dari keterikatan pada pertarungan menuju paradigma baru dalam memahami kondisi yang dialami manusia. Lamarre merangkum dengan apik hal ini dalam judul bab ketujuh dari bukunya, only a girl can save us now (hanya anak gadis yang bisa menyelamatkan kita sekarang).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.