Battle of Surabaya, Miyazaki, dan Genre Aksi/Petualangan

1

Ketidakberdayaan dan Kehilangan dalam Battle of Surabaya

BoS
There is no glory in war

Seperti Sheeta dalam Castle in the Sky, tokoh utama perempuan dalam Battle of Surabaya, Yumna, juga tidak diposisikan sebagai “gadis hadiah” bagi tokoh utama laki-lakinya. Hanya saja jalan yang ditempuh oleh hubungan antara Yumna dan Musa sebagai tokoh utama lelaki memang berbeda dari model yang ditampilkan Castle in the Sky.

Dalam film ini, Musa merupakan kurir bagi milisi pejuang kemerdekaan Indonesia di sekitar Surabaya. Tidak hanya mengantarkan surat pribadi antara para milisi dan keluarga mereka, ia juga dipercaya mengantarkan surat-surat rahasia. Karena membawa pesan mengenai sandi-sandi rahasia yang digunakan oleh pejuang kemerdekaan, Musa ditangkap oleh serdadu sekutu dengan bantuan organisasi paramiliter bentukan Jepang, Kipas Hitam, yang telah kehilangan arah perjuangan mereka. Yumna yang dulu pernah direkrut paksa oleh Kipas Hitam, kemudian memandu sejumlah pejuang yang bersahabat dengan Musa untuk menolongnya dari markas Kipas Hitam. Namun sayangnya, walaupun Musa berhasil ditolong melarikan diri dari markas Kipas Hitam, Yumna tewas tertembak dalam operasi penyelamatan tersebut.

Alur cerita ini sudah menunjukkan gerakan menyimpang dari pakem konvensional cerita aksi/petualangan. Pertama, film ini membalik peran tokoh lelaki dan perempuannya, karena justru Yumna yang harus menyelamatkan Musa dari musuh, bukan sebaliknya. Walaupun ia merupakan tokoh utama lelaki dan cerita berfokus kepadanya, Musa juga harus merasakan posisi tidak berdaya dan diperebutkan seperti obyek, tak ubahnya seperti peran stereotip tokoh perempuan. Sementara Yumna sebagai tokoh perempuannya justru lebih berdaya karena memiliki keahlian untuk bertarung.

Kedua, nasib Yumna juga menutup kemungkinan adanya resolusi romantis dalam hubungan di antara Musa dan Yumna. Musa memang menunjukkan ketertarikan pada Yumna, namun perasaan itu tidak dapat terpenuhi karena kematian Yumna membuatnya mustahil menjadi kekasih atau pasangan hidup bagi Musa ke depannya. Apapun yang dilakukan oleh Musa selaku tokoh utama setelahnya, Yumna sudah tidak ada lagi untuk menjadi ‘hadiah’ bagi dirinya. Hal ini juga semakin mempertegas posisi tidak berdaya Musa. Karena ia justru diposisikan sebagai pihak yang harus ditolong, ia tak dapat memberi pertolongan dari kematian pada tokoh perempuan yang disenanginya sebagaimana tokoh jagoan lelaki pada umumnya.

Jika Battle of Surabaya hanyalah cerita aksi/petualangan konvensional, maka Musa pastilah belajar menggunakan senjata untuk bertarung, mengalahkan musuh dalam perang, dan menyelamatkan Yumna dari musuh yang berakhir dengan keduanya menjadi sepasang kekasih/pengantin. Namun dalam film ini, Musa tidak diperkenankan untuk menaklukkan masalah apapun dan tidak diperkenankan untuk mendapat apa-apa dari sengketa antara pejuang kemerdekaan dengan sekutu. Tugasnya sebagai kurir surat pun menjadi hampa karena kerusakan yang ditimbulkan oleh perang tidak menyisakan tempat tujuan untuk mengantarkan surat-surat yang dibawanya.

Berbeda dengan cerita aksi/petualangan konvensional yang menjanjikan kemenangan dan hadiah yang gemilang pada jagoan lelaki, Musa hanya hanyut dalam ketidakberdayaan dan mengalami kehilangan terus menerus. Peran Yumna yang harus menolong Musa dan berakhir dengan kematiannya menjadi simbolisasi utama dari ketidakberdayaan dan kehilangan itu. Aspek-aspek inilah yang secara efektif menggoyahkan pakem cerita aksi/petualangan konvensional dan menjadikan pesan utama yang disampaikan oleh ibu Musa dalam film ini mengena; tidak ada kemenangan dalam perang (there is no glory in war).

Battle of Surabaya memang belum sepenuhnya menjadi sebuah film yang konsisten. Tidak semua unsur yang ditampilkan dalam film ini bisa ikut mendukung pesan utamanya. Tapi saya berani mengatakan bahwa pengolahan dan resolusi hubungan antara tokoh utama lelaki dan perempuannya adalah suatu ide yang brilian. Ia menunjukkan bahwa pembuat cerita film ini bisa memikirkan gagasan yang tidak terpaku pada pakem konvensional. Ini adalah modal bagus yang bisa dikembangkan lebih lanjut.

KAORI Newsline | oleh Halimun Muhammad

Referensi

Thomas Lamarre, The Anime Machine: A Media Theory of Animation (Minneapolis: University of Minnesota Press, 2009), terutama bab “Merely Technological Behavior” dan “Only a Girl Can Save Us Now”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.