BAGIKAN

Selamat datang dalam Unik Dunia, rubrik yang menghadirkan tulisan-tulisan mengenai anime dari penulis-penulis internasional. Rubrik ini adalah rubrik uji coba. Silakan sampaikan saran dan kritik Anda melalui Halo Kaori (halo@kaorinusantara.or.id) maupun grup #Kaoreaders di Facebook.

Dalam edisi kali ini, kami menghadirkan telaah Frog-kun dari blog Fantastic Memes mengenai alasan mengapa cerita-cerita tentang hidup lagi di dunia lain (isekai) banyak digemari. Dalam upayanya ini, Frog-kun menghindari penghakiman sepihak yang lazim dilakukan terhadap cerita-cerita isekai, dan berusaha mencari sudut pandang dari penggemar cerita isekai itu sendiri, dengan tetap menganalisis sudut pandang itu secara kritis untuk menghasilkan penjelasan yang utuh. 

Saat berselancar di situs-situs web Jepang, saya jarang melihat komentar positif mengenai tren cerita-cerita isekai alias terjebak di dunia lain, khususnya yang biasa muncul di novel ringan atau web novel. Cerita yang ditawarkan seringkali dicap dangkal, sebagai pemuas nafsu belaka, dan penuh dengan delusi penulisnya. “Sudah cukup. Ceritanya sudah basi dan klise. Stop mengadaptasi cerita-cerita murahan seperti ini menjadi anime.” Demikianlah kiranya komentar yang sering terdengar.

Pembaca Jepang sering juga memunculkan meme untuk menertawakan tren itu. Ada ungkapan「俺TUEEEE」(ditulis “ORE TSUEEEE” Jika menggunakan romanisasi Hepburn) yang kurang lebih berarti “GUE KUAT BANGETZ” untuk menggambarkan tokoh utama yang overpowered. Cerita-cerita yang dipenuhi dengan elemen-elemen pemuas angan-angan biasanya digolongkan sebagai cerita gaya narou. Sebutan itu berasal dari Shousetsuka ni Narou! (“Let’s become a novelist!”/Mari menjadi penulis novel!), sebuah situs populer untuk memuat karya novelis web amatir. Jika Anda mengecek karya-karya teratas di situs tersebut, umumnya sebagian besar adalah cerita isekai di mana sang tokoh utama tidak perlu bekerja keras atau bersusah payah untuk mendapatkan status 俺TUEEEE-nya.

Fandom Jepang mirip-mirip dengan fandom berbahasa Inggris di internet dalam artian banyak komentar dan kritik terhadap tren isekai yang pedas dan negatif, tetapi tetap saja ada orang yang ketagihan. Ada banyak warganet yang mencoba menjelaskan daya tarik dari genre narou, tetapi jelas-jelas tujuannya hanya untuk menghinanya. Penjelasan yang ditulis sering kali memperlakukannya seperti kelainan, misalnya “seri ini adalah seri fantasi kuasa yang ditujukan untuk otaku yang gak bakalan punya pacar.” Tetapi di sisi lain, ada juga blogger yang menjelaskan kenapa mereka menyukai genre narou dengan penjelasan yang serius. Jadi, di sini saya akan berfokus ke perspektif penulis yang menyukai genre tersebut.

Tentu saya tidak akan menerima alasan mereka secara mentah-mentah juga. Saya akan menanggapi pendapat mereka secara kritis dalam artikel ini. Tetapi saya mempersilakan para pembaca untuk menarik kesimpulannya sendiri.

Hal pertama yang saya menarik perhatian saya mengenai daya tarik genre narou (berdasarkan penjelasan para penggemarnya) adalah sudut pandangnya yang begitu sinis. Di sebuah wawancara di situs 4Gamer.net, seorang blogger bernama Umetsubame menyatakan banyak orang memandang rendah cerita-cerita narou karena mereka berpikir orang harus bekerja keras untuk menjadi sukses. Padahal nyatanya, banyak orang yang sudah berusaha keras namun tetap gagal, sementara di sisi lain ada orang yang tidak ngapa-ngapain tapi malah sukses.

Menimpali pendapat tersebut, Nobuo Kawakami, seorang direktur dari Dwango, ikut mengutarakan pendapatnya: “Faktanya, konsep bahwa jika Anda bekerja keras maka Anda akan sukses itu lebih seperti sebuah fantasi.” (むしろ,努力したら(必ず)成功するっていう方がファンタジーですよ。)

Pandangan seperti itu sebenarnya tidak salah, tapi tetap terasa ganjl sebagai pembenaran untuk genre narou. Orang-orang yang sukses tanpa perlu berusaha biasanya kaya sejak lahir atau memiliki privilese (hak istimewa yang terbatas bagi golongan tertentu). Mereka berbeda dari tokoh utama berlatar belakang orang “biasa-biasa saja” dalam cerita-cerita narou. Apanya yang lebih realistis dibandingkan cerita tentang orang biasa yang bekerja keras dan pada akhirnya sukses?

Tapi Tatsuya mungkin tidak masuk ke kategori ini © 2016 Tsutomu Sasimi / KADOKAWA published by ASCII · Media Works / Magical Department High School Production Committee of the Movie

Realisme yang dimaksud dalam cerita narou menjadi lebih masuk akal jika setting cerita yang lazim digunakan dalam cerita tersebut ikut dipertimbangkan. Jika kita terima sebagai kenyataan bahwa orang yang memiliki posisi tinggi di masyarakat memperoleh posisi tersebut dengan mencurangi sistem dalam masyarakat, maka agar seorang tokoh utama cerita narou dapat sukses, dia harus ditempatkan di sebuah dunia di mana keahlian yang dimilikinya dapat digunakan untuk mencurangi sistem yang berlaku di sana. Maka tidak heran jika kebanyakan setting dari cerita isekai dibuat berdasarkan dunia JRPG, khususnya dunia ala-ala abad pertengahan seperti di gim Dragon Quest atau seri-seri awal Final Fantasy.

Blogger Daichi Saito menyebutkan bahwa “hal yang paling utama diingat dari bermain gim adalah gambaran kebahagiaan dan sanjungan.” (ゲームの記憶こそが他の何よりも、喜びやあこがれを呼び起こすイメージなのだと思う。) Dengan kata lain, orang-orang zaman sekarang tidak banyak merasakan kegembiraan dari mencapai kesuksesan selain dari menamatkan sebuah gim.

Pernyataan tersebut dapat menjelaskan kenapa banyak sekali web novel yang ditulis layaknya sebuah gaming log: “Aku bangun, Aku melawan monster slime, aku naik 3 level, lalu aku tidur. Keesokan harinya, Aku bangun, Aku melawan monster slime lagi dan naik 4 level.” Dan seterusnya. Memang kering sebagai prosa, tetapi hal ini dapat dilihat sebagai sarana untuk memasukkan realisme kedalam cerita “hidup di dalam dunia yang mirip dengan gim”.

Tate no Yuusha adalah salah satu contoh yang kebangetan dari itu ©Yusagi Aneko/ Seira Minami

Ini juga menjelaskan kenapa semua urusan menjadi mudah saat para tokoh utama cerita narou berhasil menemukan “trik” untuk sukses – dan kenapa juga sangat sedikit dari mereka yang berhasil meraih sukses di dunia asal mereka, bahkan hingga di akhir dari ceritanya. Sebagai contoh, karakter utama dari Mushoku Tensei tidak pernah kembali ke dunia asalnya hingga akhir hayatnya. Lalu ada cerita seperti No Game No Life yang sedari awal sudah disebutkan secara gamblang bahwa tokoh utamanya tidak ada niat untuk kembali ke dunia asalnya. Keinginan untuk kembali ke dunia asalnya bahkan tidak pernah terlintas di benak karakter Subaru dari Re:Zero.

Yang terasa ganjil dari seluruh argumen tersebut adalah asumsi mendasar bahwa hanya orang yang dapat mencurangi sistem yang bisa sukses. Umetsubame menjelaskan bahwa pandangan sinis yang muncul itu adalah akibat dari situasi sosial terkini. Jepang telah melewati masa gelembung ekonomi, tidak ada jaminan pekerjaan bagi kawula muda dan agar bisa mendapat pekerjaan, seseorang harus memendam individualitasnya. Bukannya menempatkan kelainan pada fans genre narou, menurutnya standar kesuksesan di masyarakat adalah masalah utamanya. Orang bisa terus bekerja, kerja, kerja, kerja dan ujung-ujungnya tetap saja dipecat. Cerita narou berfungsi tidak hanya sebagai fiksi pelarian (eskapisme), tetapi juga sebagai afirmasi dari pandangan tersebut.

Secara pribadi, saya sendiri tidak mengikuti pandangan akan dunia yang seperti itu. Mendengar bahwa cerita isekai adalah bentuk kritik dari masyarakat Jepang modern justru mengejutkan bagi saya karena kondisi di dunia fantasi sering kali lebih buruk dari Jepang kecuali bagi sang tokoh utama. Dalam beberapa web novel, perbudakan adalah hal yang lazim. Di sebuah web novel populer berjudul Slave Harem in the Labyrinth of the Other World, si tokoh utama membeli gadis-gadis untuk menjadi budak seksnya. Orang boleh berargumen bahwa membentuk harem dengan membeli budak lebih masuk akal dibandingkan cowok yang tidak populer tiba-tiba digandrungi oleh banyak perempuan … tapi pada akhirnya budak-budak harem tersebut jatuh cinta juga dengan si tokoh utama. Aneh dan jijik kalau dipikir-pikir.

Grimgar adalah salah satu web novel/novel ringan yang konsisten menggambarkan hidup di dunia fantasi tidak selalu asik (© 2016 Ao Jumonji, OVERLAP/ Grimgar, Ashes and Illusions Project)

Lalu bagaimana dengan cerita tentang orang yang bekerja keras tapi ujung-ujungnya gagal? Realistis kan? Tapi cerita seperti itu tidak ada di dunia novel ringan Jepang. Kawakami mencontohkan manga Ressentiment sebagai karya bercorak sastra yang menyajikan kenyataan pahit untuk otaku. Ironisnya, otaku tidak berminat karena “tidak ada yang mau tahu soal kebenarannya”. (みんな真実は知りたくないんだなって。)

Umetsubame menutup perbincangan dengan mengatakan sesuatu yang menarik:

“Ya, terkadang ada kalanya kamu ingin membaca cerita pahit, kan? Jika kamu membaca karya moe terus-terusan, mungkin memuaskan. Tapi ada kalanya semua yang tertulis terasa seperti kebohongan dan kamu jadi ingin membaca sesuatu yang pahit. Tapi jika kamu membaca karya pahit terus-terusan, kamu akan berpikir “ternyata moe itu bagus buat saya” dan kamu akan membacanya kembali (haha).”

Pernyataan ini yang saya rasa menyentuh inti permasalahannya. Muatan yang berbeda untuk orang yang berbeda pada waktu-waktu yang berbeda. Saya juga sesekali menikmati cerita gaya narou, tetapi itu hanya satu dari berbagai jenis beberapa cerita yang saya konsumsi. Dan untuk menikmati cerita narou, saya bahkan tidak perlu membayangkan diri saya menempati posisi si tokoh utama. Contohnya, saya menyukai Re:Zero walaupun saya berpikir kalau Subaru itu brengsek. Yang penting Emilia itu imut dan Reinhard juga agak seksi, dan itu cukup buat saya.

(© Teppei Nagatsuki・株式会社KADOKAWA刊/Re:ZERO -Starting Life in Another World Production Comittee)

Jadi, dari pendapat anda sendiri, apa yang anda sukai atau tidak sukai dari genre narou dan cerita isekai?

Opini: Mari Berdamai Dengan Isekai

Ditulis oleh Frog-kun dari Fantastic Memes Penulis adalah penggemar anime dan novel ringan yang juga merupakan penerjemah lepas bahasa Jepang | Diterjemahkan oleh Naufal Bayuaji Pawenang bekerjasama dengan The Indonesian Anime Times | Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili kebijakan editorial KAORI | Artikel asli: https://frogkun.com/2016/05/05/whats-the-appeal-of-those-stuck-in-another-world-fantasies-some-japanese-bloggers-explain/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.