BAGIKAN
© Hirasakayomi Shōgakukan/ Imōto sae Ireba Ii Committee

Dua menit pertama anime ini menampilkan adegan yang sangat immoral. Sang protagonis dibangunkan oleh adik perempuannya yang cute tapi tidak berpakaian sembari dicium olehnya. Dirinya cuci muka dengan air mandi adiknya dan mengelap mukanya dengan BH-nya. Setelah itu adegan berlanjut dengan sang protagonis sarapan dengan telur goreng yang ditelurkan dan air susu yang dihasilkan adik perempuannya. Lalu, sang adik mengelap mulut kakaknya dengan CD yang diambil dari dunia lain. Semua hal tersebut terjadi seakan-akan itu hal yang lumrah.

© Hirasakayomi Shōgakukan/ Imōto sae Ireba Ii Committee

Ternyata 90 detik tersebut adalah gambaran dari bab dua proyek novel terbaru Itsuki. Tingkat kedetailan dari kemaniakan Itsuki yang tergambar sangat eksplisit membuat saya bertanya-tanya. Saya harus membuka media sosial milik saya dan menanyakan ke teman-teman, “saya tidak salah mengunduh anime hentai, ‘kan?”. Tidak hanya saya sebagai penonton, editor Itsuki pun mengatakan bahwa 90 detik tersebut sangat banyak salahnya, bahkan dirinya tidak tahu mana yang paling salah dari seluruh rentetan kemaniakan tersebut.

Sembilan puluh detik telah berlalu dan akhirnya Imouto sae Ireba Ii dimulai.  Imouto sae Ireba ii (Aku Hanya Butuh Seorang Adik Perempuan Saja) adalah anime dari novel ringan karya Yomi Hirasaka dengan judul yang sama. Anime ini menceritakan tentang kehidupan Itsuki Hashima, seorang novelis yang cukup tenar beserta orang-orang di sekelilingnya. Walaupun di dalam judulnya ada unsur imouto, ternyata tidak ada seorang adik perempuan sama sekali di dalamnya. Malah, Itsuki diberkahi oleh Chihiro, otouto angkat yang cantik.

Alasan saya menonton Imouto sae Ireba Ii sebenarnya cukup dangkal. Seperti yang sering saya jabarkan di tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya adalah tipe penonton terjun bebas yang melahap semua seri di awal musim dan melakukan tebang pilih perlahan-lahan sesuai dengan preferensi saya. Saya juga belum pernah membaca novel ringannya. Singkat kata, saya menonton seri ini karena saya asal tonton saja. Namun, tiga episode berlalu dan saya belum menemukan alasan yang tepat untuk menebangnya dari kebun tontonan anime saya musim ini, dan semoga dalam perkembangannya tidak memaksa saya untuk menebangnya di tengah musim.

© Hirasakayomi Shōgakukan/ Imōto sae Ireba Ii Committee

Itsuki Hashima, 20 tahun, novelis. Dengan kemaniakan yang terlalu akut yang pastinya tidak akan lolos sensor apabila dijadikan anime, bab keduanya segera ditolak oleh editornya. Itsuki memiliki sebuah delusi yang amat akut yaitu dirinya membutuhkan sesosok adik perempuan. Namun, delusinya yang kencang itu membuatnya menjadi salah satu novelis ternama. Bahkan editornya pun mengatakan kalau bukan karena sifat sisconnya, dia tidak akan menjadi seorang novelis tenar.

Itsuki di dalam anime ini tidak sendiri; ada banyak karakter yang memiliki daya tarik masing-masing yang membangun dunia anime ini. Ada Nayuta Kani, seorang novelis yang jatuh cinta dengan Itsuki namun memiliki sifat yang ceria namun sedikit nakal dalam konteks seksual. Ada Miyako Shirakawa, teman kuliah Itsuki yang menjadi sosok maternal di dalam cerita. Haruto Fuwa, (juga) seorang novelis yang menurut saya paling rasional diantara tiga novelis dan sering dipanggil Manwhore oleh Nayu. Terakhir, Chihiro, imut, dewasa dan dapat diandalkan. Sayangnya, Chihiro adalah adik laki-laki Itsuki. Bukanlah yang diinginkan oleh Itsuki, seorang adik perempuan.

Sekilas anime ini nampak kalau animenya memiliki aura anime cabul romcom. Saya berpendapat lain. Gambar-gambar cabul yang muncul bukanlah fokus dari Imouto sae Ireba Ii. Begitu juga dengan pendapat kalau anime ini romantic comedy, benar-benar bukan. Walaupun memiliki vibe tersebut, anime ini sepenuhnya berfokus ke kehidupan Itsuki sebagai novelis dan komunikasi terhadap karakter di sekitarnya. Pada episode 3, Itsuki dan kawan kawan jalan-jalan insidental ke Okinawa dan Hokkaido. Masing-masing perjalanan ditemani oleh karakter yang berbeda. Titik itulah menjadi bukti bahwa hubungan Itsuki dan sekitarnya menjadi topik utama dari anime ini.

Anime ini memiliki cara penyajian yang cukup menarik. Di beberapa waktu, menonton anime ini serasa menikmati sushi di warung yang menggunakan conveyor belt. Rasanya seperti menonton sebuah anime slapstick comedy yang bersumber dari 4koma yang disajikan pelan pelan satu per satu di piring kecil yang berjalan di conveyor belt. Namun kadang penyajiannya serasa memakan sate kambing bersamaan dengan melihat penyembelihan kambing secara langsung. Sang kambing mengembik panik, memberi kesan gelap, sedangkan kita sedang menikmati sepiring sate kambing yang baru saja selesai dibakar. Sulit untuk menikmatinya tanpa merasa awkward.

© Hirasakayomi Shōgakukan/ Imōto sae Ireba Ii Committee

Nayu, 18 tahun, juga seorang novelis. Nayu terlihat imut dan memiliki “aset” yang cukup berisi (walau menurut teman saya, di novelnya sendiri dia digambarkan tepos). Namun sebagai gadis 18 tahun, perkataannya cukup vulgar. “Kalau saja aku bisa menikmati penismu sebagai makanan penutup,” jelas-jelas bukanlah suatu hal yang patut dikatakan. Tidak pada Nayu, dia yang jatuh cinta dengan Itsuki akan melakukan apapun – termasuk hal-hal nakal – untuk meluluhkan hati Itsuki yang teguh akan pendiriannya sebagai seorang siscon. Sifatnya yang nakal bahkan makin kokoh berdiri dan terlihat dalam episode dua. Ia merasa dirinya harus telanjang dalam proses mengetik novelnya.

Tetapi sifatnya yang terlihat nakal bukan berarti pengkarakterannya terasa dangkal. Ada beberapa adegan yang menceritakan latar belakangnya. Nayu ternyata korban bullying dan baru tergerak kembali setelah membaca novel Itsuki dan mendorongnya menjadi novelis juga. Itu membuktikan kalau sebenarnya karakternya tidak sedangkal yang terlihat dan masih banyak room for improvement untuk karakternya sendiri.

Tiga episode telah tayang dan saya merasakan ada hal-hal yang saya anggap masih kurang memuaskan. Ada beberapa adegan yang ditampilkan secara “sekilas dan selesai” tanpa dijabarkan secara rinci. Lalu animenya berlanjut seperti “oh, oke oce,” tanpa pertanyaan lebih lanjut. Misalnya pada saat menceritakan latar belakang kenapa Nayu jatuh cinta pada Itsuki, membuatnya menjadi anak ‘nakal’ dalam prosesnya dan menjadi seorang novelis. Adegan tersebut hanya tampil sekitar 20 detik dan dalam bentuk gambar-gambar singkat tanpa narasi, yang tiba-tiba dilanjut dengan Miyu yang memeluk Nayu dan hal tersebut dianggap selesai. Hal ini mirip dengan apa yang saya namai “masalah klasik anime novel ringan”. Memotong beberapa bagian novelnya demi mengejar 24 menit per episode, 12 episode satu musim. Pemotongan ini seringkali membuat beberapa hal terasa janggal dan tidak memuaskan. Bagi orang yang lebih suka langsung menonton anime, hal ini memaksa penontonnya untuk mendapatkan dan membaca novelnya demi memahami beberapa adegan yang dirasakan janggal di animenya.

© Hirasakayomi Shōgakukan/ Imōto sae Ireba Ii Committee

Apakah saya merekomendasikan Imouto sae Ireba Ii? Tergantung orang macam apakah anda. Apakah Anda tidak masalah menonton apapun dan tidak semena-mena menghakimi suatu seri, silahkan tonton seri ini. Apakah Anda termasuk kaum yang menganggap Eromanga-Sensei yang musim lalu tayang adalah sampah sebelum anda menonton semua episodenya sampai selesai? Silahkan anda tutup tab peramban jaringan satu ini dan kembalilah menonton JoJo atau Hokuto no Ken dan meme Omae wa Shindeiru”. Dengan masih banyak ruang peningkatan, sepertinya Imouto sae Ireba Ii bisa dijadikan alternatif tontonan musim ini.

KAORI Newsline | Ditulis oleh Naufalbepe

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.