BAGIKAN

Razif Kurniawan (The Indonesian Anime Times)

© Hajime Kamoshida, Kiseki Himura / JB Production Committee

Saya pikir sebagian besar orang yang menonton anime ini memiliki alasan yang kurang lebih sama: Penasaran dengan anime yang digarap oleh kreator Getsuyoubi no Tawawa. Meskipun saya tidak menonton anime ‘biru’ itu, pun saya juga tertarik dengan alasan yang sama, ditambah, dengan adanya detail luar biasa terkait kamera Canon yang dipakai Komiya, dan sepur gantung yang keberadaanya memang membuat orang desa seperti saya ini berdecak kagum.

Namun, semua alasan-alasan yang muncul dari awal saya tertarik untuk menengok anime itu runtuh ketika bagian tikung-menikung di anime ini bermula.

Dimulai dengan Komiya yang muncul tiba-tiba untuk meminta Eita-senpai agar berkenan foto dirinya diikutsertakan dalam sebuah kontes foto, lalu pertemuan antara Eita dengan ‘cinta lamanya’ Natsume yang terkesan malu-malu kucing, dan satu kisah cinta antara Morikawa dan Haruto yang (anggaplah) berakhir manis, semua itu membuat Just Because berubah menjadi kisah remaja-remaja kelas 3 SMA yang galau karena 2 pilihan: asmara dan masa depan.

Advertisement Inline

Saya yakin ada orang yang lebih ahli membahas perkara asmara dibandingkan saya sendiri, maka dari itu yang ingin saya tuliskan disini adalah sebuah nasehat berkaitan dengan masa depan, yang kurang lebihnya dapat saya petik setelah menonton dengan seksama anime ini hingga episode ke-12. Hal ini penting khususnya bagi sidang pembaca yang sedang menempuh bangku SMA kelas 3, agar tidak keteteran ketika menentukan pilihan terkait asmara dan masa depan.

Ketika Anda sudah memasuki kelas 3, itu artinya satu tangga lagi menuju bagian dari masyarakat, atau, satu tangga lagi menuju jenjang pendidikan tinggi, maka dari itu perlu dipikirkan selekas mungkin terkait dengan apa yang hendak anda lakukan kedepannya. Contoh saja Haruto yang sudah mantap untuk memilih bekerja ketimbang kuliah, dan Morikawa yang sudah jelas hendak kuliah di mana, sehingga dua pasangan ini secara de jure sah-sah saja membahas soal perkara lain selain masa depan mereka.

Berbeda dengan Natsume dan Eita, dua orang ini masih terbawa penyakit lama terkait cinta yang belum ada juga titik temunya. Eita masih mencintai Natsume, namun hingga episode-episode terakhir, Natsume masih saja menyukai Haruto hanya gara-gara penghapus: sebuah alasan yang konyol namun mau tidak mau harus diterima. Walhasil, keputusan terkait di mana mereka kuliah dipengaruhi oleh urusan asmara mereka, yang ini sebenarnya amat buruk bagi mereka.

Pernah suatu saat saya membaca buku panduan masuk perguruan tinggi dari sebuah bimbingan belajar, dan di bagian yang berjudul kurang lebih “Alasan memilih perguruan tinggi”, salah satu poinnya adalah “karena mengikuti orang yang kita sukai”. Namun alasan ini sangat ditekankan larangannya dalam buku tersebut mengingat bahwa memilih kampus dengan alasan seperti itu bisa berefek panjang nantinya.

Dalam kasus Eita, ia sebenarnya sudah beruntung bisa mendapat rekomendasi di Joei, namun karena termakan hawa nafsu cinta yang membara, ia malah ikut tes masuk Suizan dengan hanya tersisa beberapa hari sebelum tes, hanya karena ingin mengikuti Natsume. Pengibaratannya kalau di negara kita ini seperti orang yang sudah diterima jalur undangan di UI tapi malah ikut tes SBMPTN di UNSOED. Sementara Natsume (dan ini sebenarnya saya masih bingung apa alasannya) malah mengubah pilihannya untuk ikut tes di Joei. Sekali lagi, inilah yang saya sebut sebagai bahayanya mencampurkan urusan cinta dengan masa depan.

Beruntungnya semua berakhir bahagia (kecuali bagi Komiya), Natsume lulus tes masuk Joei, sedangkan meskipun Eita gagal dengan tesnya, ia kembali dengan rekomendasi di Joei yang memang sejak awal ada di tangannya. Beruntunglah mereka bisa bertemu dan mengungkapkan perasaan masing-masing (meskipun harus melalui adegan obrolan Line yang baru di-read setelah satu bulan itu) dan pada akhirnya kita tahu bahwa tidak ada ruang untuk plot twist di anime ini. Namun, ingat bahwa ini hanya di anime. Kenyataan di dunia nyata tidaklah se-menyenangkan itu. Maka dari itu jangan pernah mencoba mengubah pilihan Anda kecuali jika memang ada alasan kuat untuk itu, selain karena cinta.

Intinya, usahakan untuk tidak terjebak dalam perkara romansa di masa-masa ketika Anda butuh fokus menghadapi ujian kelulusan SMA dan ujian masuk perguruan tinggi (bagi yang hendak mengambilnya). Jika tidak kuat mental, semua rencana Anda bisa saja menjadi kacau, sebagaimana Eita dan Natsume yang mengubah pilihannya di saat-saat terakhir. Bahkan bisa menjadi lebih kacau lagi jika Anda berurusan dengan adik kelas yang tiba-tiba mengganti wallpaper ponsel Anda. Sungguh tahun terakhir SMA itu adalah saat di mana Anda harus berhati-hati.

Baca juga:

Bincang-Bincang Internal KAORI – Just Because! Episode 12

Jajak Pendapat Ringan Internal – Just Because

KAORI Newsline

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.