BAGIKAN
Kereta Penolong milik PT. KAI yang baru (KAORI Nusantara/Reza Aditya)

PT Kereta Api Indonesia (KAI) meresmikan beroperasinya Kereta Penolong di Stasiun Bandung pada Jumat (15/3). Kereta Penolong ini terdiri dari 2 kereta yang digunakan jika ada gangguan atau ada peristiwa luar biasa hebat di perjalanan atau di lintas.

“Kereta Penolong sampai hari ini baru ada dua (set). Tapi yang ada peralatan medisnya baru (Kereta Penolong) ini. Semisal ada kebutuhan maka satu kereta itu diperuntukkan untuk evakuasi kereta itu sendiri, yang satu untuk mengevakuasi korban,” kata Direktur Utama KAI Edi Sukmoro.

Kereta yang diberi corak dengan warna dominan kuning dan merah ini terdiri dari 2 kereta. Kereta pertama digunakan untuk membantu melakukan evakuasi kereta, sementara kereta kedua membawa peralatan medis untuk melakukan pertolongan pertama bagi korban manusia.

Advertisement Inline

“Ini ciptaan baru, yang didesain dan dibuat oleh PT KAI sendiri, selain peralatan evakuasinya. Di sini juga tersedia fasilitas untuk evakuasi manusia jika terjadi sesuatu. Meskipun kita berharap tidak ada kejadian apa-apa,” sambungnya.

 

Edi mengatakan, Kereta Penolong ini dibangun dari kereta rel diesel yang berumur 37 tahun. KAI mengerjakan pembuatan Kereta Penolong itu di Balai Yasa Yogyakarta. Biaya pembuatannya sendiri mencapai Rp 6 miliar. “Ini enggak kalah sama kereta buatan di luar (negeri). Interiornya dalam negeri semua, juga menggunakan komponen dalam negeri,” kata dia.

Edi mengatakan, dengan resmi beroperasinya Kereta Penolong terbaru tersebut, KAI memiliki total 2 set Kereta Penolong. Kereta Penolong yang lama hanya terdiri dari 2 kereta, namun fungsinya hanya untuk membantu evakuasi kereta. Sementara Kereta Penolong terbaru ini memiliki kereta tambahan khusus untuk membantu evakuasi korban manusia.

“Kita sekarang punya dua. Satu yang sudah ada, dan ini. Kita siagakan pada saat operasi Lebaran,” katanya.

Edi mengatakan, di lintasan Jawa sedikitnya KAI membutuhkan tiga set Kereta Penolong. “Kita tidak berharap (punya) banyak karena kalau begitu kita mendoakan (kejadian), jangan. Kalau bisa, tidak dibutuhkan. Tapi paling tidak, kalau di Jawa ini ada Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, paling tidak tiga yang akan kita siapkan. Paling tidak, supaya kalau ada apa-apa, cepet ngambil tindakan. Di Sumatera sudah ada, di sana juga ada Rail Clinic,” tambahnya.

Menurut Edi, potensi kerawanan selalu ada di lintasan kereta. Dia mengatakan KAI akan meninjau titik rawan sebelum Lebaran. Di antaranya rawan longsor, rawan anjlok, dan rawan banjir.

Cemplus Newsline by KAORI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.