BAGIKAN
© 2017 minori

Pertemuan saya dengan minori bermula sekitar 10 tahun lalu. Saat itu, saya berkenalan dengan ef: a tale of memories yang sekaligus mengenalkan saya dengan studio Shaft, jauh sebelum Bakemonogatari bermula.

Memainkan novel visual ef yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris waktu itu, rasa-rasanya seperti mengenang masa-masa kereta api perkotaan Jabodetabek saat masih di bawah nuansa Divisi Jabotabek. Sepertinya absurd, membandingkan kereta api dengan galge, tetapi untuk dapat memahami suasana kebatinan saat mengapresiasi Trinoline, sedikit kilas balik ke masa lalu perlu dilakukan.

Lompat ke hari ini, minori bangkrut ditelan kerasnya zaman, lanskap otaku di Jepang dan di kancah internasional telah berubah cukup banyak, dan sama seperti transportasi kereta di Jabodetabek: kini telah tiba MRT Jakarta. Apakah novel visual dengan resep hampir sama seperti 10 tahun yang lalu ini masih relevan di suasana hari ini?

Advertisement Inline

Trinoline diceritakan dari perspektif Shun Nanami, seorang remaja SMA yang biasa-biasa saja (your average VN guy). Saat kecil, ia kehilangan adiknya, Shirone Nanami yang tenggelam tertelan ombak di pantai. Kejadian ini memiliki efek besar bagi kehidupan Nanami dan orang-orang di sekitarnya. Kemudian, Sara Tsumugi, teman masa kecil Shun yang lama menghilang, tiba-tiba kembali ke sekolahnya. Tidak hanya itu, Sara juga membawa kejutan, yaitu robot android bernama “Shirone” dan menjadikan Shun beserta keluarganya sebagai tempat pengujian purwarupa “Trino”, android masa depan yang akan jauh lebih mumpuni dari robot-robot yang ada saat ini.

Saat pertama menyentuh Trinoline, kesan yang didapatkan adalah wah. Naru Nanao sudah digantikan oleh kino dan konomi, namun sajian umum dari novel visual ini masih sama seperti yang dirasakan saat dulu memainkan ef dan Supipara. Sangat khas minori. Kesan wah yang sama saya rasakan ketika mencoba menaiki kereta MRT Jakarta kali pertama, ketika sang Ratangga hadir seperti kereta buatan Nippon Sharyo terbaru dan pernah saya naiki di Jepang.

Tetapi segera setelah mulai memainkan Trinoline, masalah mulai muncul. Permainan ini terasa mulus (dan agak lambat di rute bersama utamanya), tetapi di tengah distraksi masa kini berupa media sosial dan chat WhatsApp, indahnya kualitas background, detail karakter, dan lagu latar tampak agak sulit untuk mengikat penikmatnya untuk dapat memainkan tanpa jeda. Rasa “ketertarikan” ini memang sangat subjektif, tetapi secara personal, sebuah cerita berkualitas bagus dan istimewa akan terlihat bedanya ketika sang penikmat merasa harus meluangkan waktunya selama belasan jam berturut-turut hanya untuk menamatkan satu rute, tanpa lelah. Hal ini tidak terlihat di Trinoline. Seperti stasiun MRT yang rapi pengerjaannya, berkualitas tinggi, namun monoton dan tidak memorable.

© 2017 minori

Satu hal yang layak menjadi pertanyaan adalah ketika tiba-tiba muncul adegan H dengan “Shirone”. Ujug-ujug, pembaca dihadapkan pada adegan manusia yang turned on dan bergaul dengan sebuah android yang selayak-layaknya manusia. Maksud sang penulis skenario mungkin ingin memberi penekanan mengenai kemampuan kecerdasan intelektual sang “Shirone”, kemampuan yang akan vital dalam paruh cerita berikutnya, namun munculnya adegan H ini (yang juga muncul di rute Yuuri secara lebih kasar), mengingatkan saya mengenai ATO (Automatic Train Operation) kereta MRT yang sering selip saat hujan, sehingga beberapa kali kereta ini saya alami melakukan pengereman darurat. Ndut-ndutan istilahnya.

Ketidaknyamanan menaiki, maksudnya menikmati Trinoline ini terasa saat selesai menamatkan rute “Shirone”. Bayangkan seperti menonton tiga episode terakhir AIR, namun dengan akhir yang agak dipaksakan. Tetapi bila kematian Misuzu berjalan lumayan lambat di akhir-akhir, di Trinoline akhir dari Shun dan Shirone lagi-lagi terasa seperti menaiki kereta MRT. Tiba-tiba sampai di Bundaran HI tanpa ada sesuatu yang berkesan. Momen duka yang seharusnya bisa meningkatkan empati pemain terhadap Shun dan Shirone, entah kenapa kurang dieksekusi dengan baik.

Rute Sara, yang menjadi “true end” dari Trinoline, juga menghadapi problem yang sama, namun jauh lebih enak dinikmati daripada rute-rute sebelumnya. Mungkin ada faktor subjektivitas pribadi karena bangunan karakter Sara yang mirip dengan Miyako Miyamura, namun dari segi cerita, rute ini yang paling baik. Pembaca masih diberikan sejumlah kejutan “rem mendadak” dan “akselerasi mendadak”, khususnya pada bagian saat Sara dan Shun “jadian”, tetapi ndut-ndutan yang ini lebih bisa disukai. Apalagi bila mempertimbangkan Sara yang telah berhasil “dibuka” kuncinya oleh Shun, sehingga agresifitas Sara dalam beberapa adegan H lebih bisa dinikmati.

Seperti deru kereta MRT yang melaju kencang antara stasiun Blok M dan Blok A, adegan di rute Sara penuh dengan sisi kemanusiaan. Bagaimana di rute Sara, penonton disajikan dengan sisi manusia dari Sara yang berusaha keras untuk menjaga jarak dari orang lain, berusaha untuk bersikap teguh da kuat tetapi di dalamnya, ia adalah pribadi yang sangat lemah. Bagaimana Shun berhasil menembus Sara (dan “Sara”, versi klon virtual dari Sara), adalah bagian yang menyenangkan untuk dinikmati, bila kita bisa memaklumi sejumlah ndut-ndutan di tengah prosesnya.

© 2017 minori

Pada akhirnya, selesai bermain Trinoline seolah membawa kita turun di stasiun Lebak Bulus dan membuat saya merenung. Bagi orang yang menikmati Trinoline secara kasual, seri ini tampak bagus-bagus saja (asal menjaga ekspetasi setara dengan novel visual lain pada umumnya), tetapi bila mempertimbangkan pengalaman 10 tahun lalu saat ef dibuat, mungkin Trinoline ini seperti paket hemat dari ef. Berusaha menyajikan cerita khas minori dengan karakteristik utsuge-nya, menyajikan gambar yang “wah”, dan pembangunan suasana yang berkesan saat sedang dimainkan, tetapi lihat gambarannya secara utuh dan ternyata ini adalah ef paket hemat. Seperti MRT Jakarta yang menggunakan teknologi Namboku Line, namun versi hematnya. Kemudian, bila ada yang mempermasalahkan ukuran dada para karakter utama seri ini, masalah ini menjadi moot seperti halnya orang yang memilih teknologi Jepang atau Eropa, memilih desain kereta Jepang atau selera Eropa. Take it or leave it.

Dalam refleksi saya, melihat Trinoline rasanya seperti melihat masa depan yang saya cita-citakan, namun bukan masa depan yang saya inginkan. MRT Jakarta menghadirkan kereta buatan Nippon Sharyo, desain stasiun Tokyo Metro, mesin tiket sama seperti yang ada di Tokyo, tetapi dalam saat yang bersamaan, ini bukan subway Tokyo yang saya inginkan dan yang saya cita-citakan. Trinoline adalah ef paket hemat. I’d really try to love it, though.

Positif

  • Kualitas minori yang langsung terasa saat pertama novel visual ini dibuka dan dimainkan.
  • Karakter “Shirone”, Yuuri, dan Sara yang punya kepribadian yang likeable
  • Konsep dasar cerita yang menarik untuk sebuah galge yang menjual utsuge dan boobs sebagai jualan utamanya

Negatif

  • Penceritaan yang tidak koheren di rute “Shirone” dan Yuuri, sejumlah premis yang diletakkan menjadi rusak karena eksekusi yang buruk
  • Tiba-tibanya muncul adegan H sangat merusak; karena adegan H-nya sendiri dieksekusi sangat baik, tetapi suasana dan nuansa pengantarnya yang dieksekusi dengan buruk

Yang Disayangkan

  • Selamat jalan minori.

Trinoline tersedia di Steam.

KAORI Newsline | oleh Kevin W

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.