Siapa yang tidak kenal situs “oho-oho” untuk para wibu? Banyak sekali situs “oho-oho” berisikan komik doujinshi dewasa yang terdiri dari kumpulan komik original, parodi dari komik aslinya, bahkan bermacam-macam. Karena berasal dari Jepang, komik-komik tersebut tentunya dibuat dalam bahasa Jepang. Hal tersebut membuat para pembaca sulit untuk mencerna cerita apa yang dituangkan dalam doujin tersebut

Karena itulah muncul tim scanlation. Mereka ada bukan karena tanpa alasan. Mereka muncul karena dibutuhkan dan ada yang mencari jasa mereka untuk menerjemahkan doujin-doujin tersebut dari bahasa Jepang ke bahasa yang lebih dipahami pembacanya, entah itu bahasa Indonesia maupun Inggris yang juga dapat dibaca oleh pembaca dari belahan dunia lain. Selain itu seperti komik-komik pada umumnya, kebanyakan doujin-doujin ini pun hadir dalam warna hitam putih. Agar komik-komik ini juga terasa semakin “mantap” dibaca, di situlah jasa recolor turut muncul. Mereka yang bertugas untuk memberikan warna terhadap arsiran hitam putih itu menjadi lebih hidup dan lebih memancing hasrat pembacanya.

Baca Juga: Mau Dapat Doorprize Spesial? Ikuti Polling Anime Terfavorit 2021 Versi #Kaoreaders!

Pada artikel kali ini kami berhasil mengontak perwakilan scanlation dan recolor yang malang melintang di skena situs “oho-oho” para wibu, yakni dari Di Kala Kita Membaca Doujin (DKKMD) untuk circle scanlation dan Sepotong Panel Dalam Sebuah Doujin (SPDSD) untuk jasa recolor. Melalui wawancara yang dilakukan via video calls, kami mengajak mereka untuk berbagi cerita dan pengalaman mereka di dunia “perlendiran” ini; bagaimana cara mereka bekerja, kesenangan maupun risiko yang harus dihadapi mereka, serta menitipkan salam untuk penggemar mereka.

Untuk mempermudah wawancara kami akan menggunakan nama samaran untuk mereka, K untuk perwakilan DKMMD, dan R untuk perwakilan SPPDS. Inilah wawancaranya!

Boleh diceritakan bagaimana awal mula grup scanlation/recolor ini terbentuk?
K: Awalnya kami membuat fanpage sharing doujinshi gitu, terus makin ke sini respon para penggemarnya itu meningkat, sampai akhirnya kami berinisiatif untuk membuat grup translasi. Dari situ kami mulai dapat berbagai macam anggota yang memang ditugaskan pada pekerjaannya masing-masing, seperti translator, proofreader dan editor. Saya sendiri awalnya juga editor (cleaner, redrawing dan editing), tetapi makin ke sini karena anggota circle juga melebar, akhirnya saya berperan untuk mengatur alur pekerjaan agar tetap stabil. Ya kurang lebih sudah 3 tahun berjalan hingga sekarang.

R: Nah kalau saya sendiri aslinya one man army ya, jadi semuanya saya kerjakan sendiri. Nah kalau ditanya kebentuknya dari mana, aslinya saya sama K itu emang satu circle. Memang betul kita dari DKKMD. Nah  DKKMD itu sering banget fanpage-nya hangus (di-takedown oleh Facebook), terus terbitlah SPDSD buat ngebangkitin fanspage tersebut.

DKKMD akhirnya juga sudah buat Fanspage sendiri, terus saya iseng tuh buat ngepost beberapa halaman doujinshi yang sudah saya warnain sendiri. Terus ternyata reaksi para likers-nya itu lumayan positif, seperti banyak yang menunggu doujinshi apalagi yang akan saya recolor selanjutnya. Nah terus ada ide yang terlewat di kepala saya, “saya suka baca beginian, terus saya juga suka mewarnai, dan saya juga butuh uang, mungkin nantinya bisa dapet uang dari beginian.” Dari situlah lambat laut SPDSD itu menjadi fanspage standalone yang khusus buat menerima recolor doujinshi begitu. Apalagi pekerjaan untuk me-recolor sebuah doujinshi itu adalah pekerjaan yang tidak umum, mungkin aja bisa jadi kesempatan untuk menjadi yang pertama.

Awalnya tarif untuk komisinya itu murah banget, sekitar 2000-2500 rupiah aja. Tetapi setelah dapet customer luar negeri,  akhirnya saya pun ketagihan karena bisa dapet harga yang lumayan per komisi. Sejak saat inilah saya pun melebarkan jasa commision saya ke situs jasa seperti Fiverr. Beberapa doujinshi yang saya sudah di-recolor itu saya upload ke situs NH. Nah dalam beberapa bulan baru deh banyak yang mulai mengontak saya.

Kenapa nama circle-nya DKKMD/SPDSD, kenapa bukan YNTKS (Ya Ndak Tau Kok Nanya Saya -red)?
K: Kalau ditanya kenapa nama circlenya itu DKKMD, ya jawabannya YNTKS. Hehe… bercanda, jadi pas zamannya itu lagi ramai-ramainya nama fanspage yang sejenis, contohnya saja seperti fanspage “Di Kala Anda Menonton Televisi”, Membaca Koran, dan lain-lain. Nah dari situlah terbentuk nama fanspage ini. Jadi tidak ada maksud tertentu terbentuk singkatan DKKMD, semuanya murni kebetulan saja. Nah, terus saya gak kepikiran untuk mengubah nama circle kami, karena ya nama kami sendiri sudah jadi ciri khas di situs seperti itu. Terkadang ada sesekali komentar yang berterimakasih terhadap kami seperti “terimakasih DKKMD,” jadi akhirnya kami memutuskan untuk tidak mengganti nama circle kami

R: Nah kalau ditanya kenapa nama circle begitu, ya jawabannya sama seperti K karena kami berasal dari circle yang sama juga, jawabannya sama-sama kebetulan juga. Dan juga saya sendiri tidak mau mengganti nama pena saya di situs tersebut, karena sudah terlanjur memakai nama itu. Saya gak bisa memakai nama pena baru saya walau saya sendiri sudah standalone dari DKKMD, soalnya nanti orang kalau mau nyari rilisan saya akan bingung menemukannya.

Terus, sejak kapan kalian mulai membaca komik atau doujin seperti ini?
K: Ya kalau saya sendiri berawal dari SMP ya. Jadi saat SMP sudah mengenal dunia “perlendiran” ini, rasanya umum-umum saja jika anak SMP sudah mengetahui hal ini.

R: Kalau saya sendiri itu sudah mengenal dunia ini jauh lebih awal, ketika menginjak kelas 4 SD, ya sekitar pada tahun 2010 atau 2011, yakni ketika situs F*kku! masih belum “kapitalis” seperti sekarang.

Terus untuk scanlation, cara kerja kalian itu seperti apa? Apakah seperti menerjemahkan dari bahasa Inggris ke Indonesia, Jepang ke Indonesia, Mandarin/Korea ke Indonesia ataupun sebaliknya?

K: Kalau itu umumnya kami mengerjakan dari Bahasa Inggris dan Jepang ke Indonesia sih. Untuk menggarap dari/ke bahasa Mandarin dan Korea sendiri enggak, tetapi kami juga pernah dapat commision untuk menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris atau Jepang, khususnya dari para komikus webtoon Indonesia yang ingin menerbitkan rilisannya ke dalam bahasa asing.

Untuk workflow-nya, awalnya kami membuat skrip kasarnya terlebih dahulu. Sekiranya sudah matang, skrip tersebut kemudian diberikan ke proofreader untuk diperiksa kembali apakah ada kekurangan di grammar (tata bahasa) atau typo (salah ketik). Nah setelah diperiksa proofreader, kemudian skripnya diberikan ke editor untuk disunting ke doujinshi-nya dengan melakukan typesettting, cleaning, dan redrawing. Ketika sudah matang, doujinshi tersebut kami berikan kembali ke proofreader untuk pengecekan terakhir. Siapa tau ada yang masih typo atau salah penulisan. Setelah semuanya selesai, barulah kami menerbitkan hasil translasi kami di situs-situs tersebut. Utamanya kami mengunggah ke situs S*dpanda, kemudian di-mirror (unggah ulang) ke situs-situs lainnya.

Apakah staf circle-nya didominasi orang Indonesia?
D: Kalau untuk staf kami sih kebanyakan diisi orang Indonesia dan Filipina ya. Untuk jumlah total staf yang aktif ada sembilan, untuk translator ada 3, proofreader ada 6, editor ada 3. Karena saya juga gak bisa menghandle semuanya sekaligus, jadi pekerjaannya harus dibagi-bagi. Dan memang benar saya akhir-akhir ini ini lebih mengatur workflow tim saya dibanding harus menjadi editor seperti awal-awal merintis. Nah untuk rekrutmen staf itu kami lebih sering di Discord melalui channel khusus.

Kalo buat R, recoloring ini butuh waktu seberapa lama?
R: Karena saya sendiri juga bekerja standalone, saya sendiri biasanya menghabiskan waktu seharian untuk mengerjakan 2 halaman. Karena proses coloring itu juga memakan waktu ya, sekiranya itu 1 halamannya saja bisa menghabiskan waktu 4-5 jam. Kalau ditanya “kenapa gak merekrut staf baru saja?”, saya sendiri lebih prefer untuk mengerjakannya sendiri, terutama karena saya sudah ada color pallete yang sudah disesuaikan, sehingga style perwarnaannya itu konsisten. Kalau saya merekrut staf tambahan, ada kemungkinan nanti coloring style-nya itu malah menjadi tidak konsisten. Ujung-ujungnya bukannya membantu, malah memperlambat pekerjaan saya lagi karena saya harus memperbaiki warnanya agar sesuai dengan style saya.

Ketika kita main-main ke server Discord-nya, di sini saya melihat ada kolom channel namanya “pengetes…” Itu maksudnya apa ya?
K: Itu sebenernya kolom buat siapapun yang mau me-request proyek penerjemahan atau mengusulkan ide commission, pasti masuknya ke situ. Entah kenapa sampai sekarang nama kolomnya gak mau saya ganti karena udah ikonik, jadi kalo mau diganti pun rasanya kayak “off” gitu.

Wawancara ini berlanjut ke halaman selanjutnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.