BAGIKAN

Peringatan: Artikel ini berisi gambar yang mungkin dirasa tidak nyaman dipandang bagi pembaca

Di kalangan penggemar anime, dikenal berbagai istilah percakapan khas yang dimengerti bersama sesama penggemar. Salah satu contoh istilah yang cukup populer adalah lolicon. Merupakan singkatan dari lolita complex, istilah ini biasa digunakan untuk merujuk pada ketertarikan pada cewek di bawah umur; atau kepada karya anime, manga, dan game yang menggambarkan cewek di bawah umur dalam situasi seksual (Galbraith, 2011).

Kodomo

Advertisement Inline

Yang kurang diketahui di masa kini mengenai istilah lolicon adalah, ketika istilah tersebut mulai populer di kalangan fans anime dan manga era 1980-an, pengertiannya tidak sama persis dengan pengertian yang dipahami sekarang. Lolicon telah mengalami semacam pergeseran makna dalam rentang waktu beberapa puluh tahun. Esai ini akan membahas sedikit mengenai perbedaan makna lolicon yang dikenal di era 1980-an dengan yang populer dikenal sekarang, dari penelitian yang telah ada mengenai lolicon. Selain itu, akan direnungkan juga implikasi dari pengertian lolicon yang populer di masa sekarang.

Lolicon Boom 1980-an

Istilah lolicon mulai populer di Jepang pertama kali di era 1980-an, ketika terjadi fenomena yang dikenal sebagai lolicon boom. Pada saat itu, banyak karya dōjinshi (karya-karya kreatif yang diproduksi amatir, khususnya komik) bertema lolicon yang bermunculan di acara-acara penjualan dōjinshi seperti Comic Market/Comiket (Comic Market Preparations Committee, 2008; Lam, 2010). Pertumbuhan tersebut diawali dengan dirilisnya dōjinshi bertema lolicon karya Hideo Azuma dan kawan-kawan yang bertajuk Cybele dalam acara Comiket di tahun 1979.

Seperti apa dōjinshi bertema lolicon yang dimaksud pada masa itu? Karya-karya tersebut memang bermuatan erotis. Namun ada ciri khas yang membedakannya dengan komik-komik erotis yang biasa ditemui di masa sebelumnya dan menjadikannya suatu kategori tersendiri. Sebelum kepopuleran lolicon, komik-komik erotis biasanya dibuat dengan gaya gekiga, yaitu dengan gambar yang realistis, termasuk untuk karakter-karakternya. Namun melalui Cybele, Azuma mendobrak tren tersebut (Galbraith, 2011). Ia menghadirkan karakter dengan gaya kartun menggunakan garis-garis yang lunak seperti dalam karya-karya Osamu Tezuka, yang digabungkan dengan gambar muka ekspresif ala komik shōjo. Hasilnya adalah karakter yang kelihatannya relatif mungil dan imut, hadir dalam skenario-skenario erotis komiknya.

Cuplikan komik si kerudung merah dari dojinshi Cybele yang dibuat oleh Azuma dan kawan-kawan.
Cuplikan komik si kerudung merah dari dojinshi Cybele yang dibuat oleh Azuma dan kawan-kawan.

Karya Azuma dan kawan-kawan tersebut awalnya mengundang kontroversi (Galbraith, 2013). Gaya yang digunakan oleh Azuma untuk menggambar karakternya adalah gaya yang lazimnya dipakai untuk kartun anak-anak atau komik cewek. Tapi berani-beraninya dia menggunakan gaya yang ‘innocent’ tersebut untuk komik erotis! Ketertarikan terhadap karakter yang digambar dengan gaya kartun tersebut dianggap sebagai hal yang aneh, karena penampilannya tidak mirip seperti tubuh manusia sungguhan (yang kalau dalam komik bergaya gekiga, digambar secara realistis menyerupai aslinya tentu saja).

Namun Azuma dan kawan-kawan memberanikan diri untuk menghasilkan karya yang “tabu” seperti itu setelah melihat banyaknya dōjinshi bertema yaoi yang beredar di Comiket (Galbraith, 2013). “Kalau hal yang seperti itu saja boleh dibuat dan diedarkan di Comiket, mengapa kita tidak?” pikir mereka. Dan ternyata, cukup banyak juga yang menyukai apa yang dilakukan oleh Azuma. Kemudian seperti yang telah disebutkan di atas, banyak dōjinshi yang mengikuti jejak karya Azuma bermunculan di acara-acara pasar dōjinshi di era 1980-an, hingga majalah-majalah yang khusus memuat komik lolicon. Karena pengaruhnya itu, Azuma pun disebut sebagai “bapak lolicon.”

Untitled
Cuplikan dari komik biografi Hideo Azuma mengenai pembuatan dojinshi Cybele.

Dari asal mula tersebut tersebut, tidak nampak bahwa usia karakter cewek adalah faktor penentu dalam memaknai lolicon. Justru, faktor utamanya justru berkaitan dengan karakter cewek yang digambar dengan gaya kartun yang sederhana dan imut, bukan gaya realistis seperti dalam komik gekiga. Penjelasan ini dapat diperkuat dengan melihat karakter-karakter apa saja yang juga populer di kalangan lolicon pada masa tersebut.

Clarisse dari film animasi The Castle of Cagliostro (1979) misalnya, sudah cukup berumur untuk memiliki dada yang berbentuk. Namun ia menjadi idola bagi kalangan yang diidentifikasi sebagai lolicon di masa asalnya (Galbraith, 2013; Lam, 2010), dan penampilan karakternya lebih mengikuti gaya kartun yang imut. Begitu pun Maetel dari Galaxy Express 999 (1978-1981) dan Lum dari Urusei Yatsura (1981-1986) yang disebutkan oleh Ed Chavez sebagai karakter-karakter penting dalam perkembangan fandom lolicon. Sekalipun tubuhnya terlihat lebih “dewasa” namun tetap dihadirkan dengan garis-garis kartun yang memberi kesan muda dan imut.

Kiri ke kanan: Clarisse, Maetel, dan Lum
Kiri ke kanan: Clarisse, Maetel, dan Lum.

Dengan demikian, kita telah dapat melihat perbedaan dari pengertian lolicon yang dipahami di era 1980-an dengan yang populer sekarang. Jika di masa sekarang lolicon identik dengan ketertarikan pada cewek di bawah umur, baik yang fiksi maupun yang nyata, pengertian lolicon di era 1980-an lebih berkaitan erat dengan ketertarikan pada karakter dua dimensi (nijigen complex), karena penekanan pada ketertarikan terhadap gaya kartun dibandingkan dengan ilustrasi realistis. Mulai dari karakter anak SD, cewek pettan, sampai wanita dewasa yang montok sekalipun, dengan dihadirkan melalui ilustrasi kartun yang bergaris lunak dan lembut serta muka shōjo yang segar, semuanya dapat menjadi obyek obsesi lolicon berdasarkan pengertian yang lama.

Berdasarkan kriteria yang lama, menyukai karakter yang manapun dalam gambar ini tetap saja akan membuat anda dianggap lolicon
Berdasarkan pengertian yang lama, menyukai karakter yang manapun dalam gambar ini tetap saja akan membuat anda dianggap lolicon.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.