Bangunan berlantai 8 di bilangan jalan Pasar Baru Selatan, Jakarta itu berdiri tegak kokoh dengan anggunnya. Hanya kesunyian tanpa kegiatan menghinggapinya sejak ditutup akhir Desember 2021 lalu. Sejumlah spanduk promosi dari sebuah agen properti ternama nampak terpasang di gedung tersebut.

Bangunan itu adalah ex Sanggar Prathivi Building. Bangunan di mana Sanggar Prathivi, salah satu studio dubbing legendaris Indonesia dahulu beroperasi. Ya, studio dubbing yang legendaris tersebut memang telah resmi dibubarkan sejak tanggal 30 Desember 2021 lalu. Sejak itu gedungnya dijual oleh pihak Ordo Jesuit yang mengelolanya. Bahkan tim KAORI sempat mendapatkan informasi bahwa gedung tersebut telah terjual, dan entah akan dijadikan apa ke depannya.

Di akhir tahun 2022 ini, setahun sejak Sanggar Prathivi resmi dibubarkan, KAORI Nusantara akan menapaktilasi kisah dari sebuah legenda dalam dunia hiburan, popkultur, dan pelaku suara atau seiyu di Indonesia ini:

Berawal Dari Kegiatan Misionari

Sanggar Prathivi didirikan oleh seorang Misionaris Katolik asal Belanda, Welbert Daniel SJ atau dikenal sebagai Pater Daniel pada 1 Desember 1967. Kala itu ia melihat banyak anak muda di masanya, terutama murid-muridnya gemar dan hobi membuat pemancar radio. Pater Daniel pun merangkul mereka dan memberikan pendidikan dan pengarahan mengenai bagaimana membuat program radio yang baik, bermanfaat, terarah, dan bersifat membangun. Untuk itulah didirikan Sanggar yang namanya ini merupakan singkatan dari Penggemar RAdio, THeater, fIlm, dan teleVIsi yang dikelola oleh Yayasan Serikat Yesus Provinsi Indonesia, atau yang dikenal sebagai Ordo Jesuit yang mendunia.

sanggar prathivi tutup
Pater Daniel/Handojo Sunjoto, pendiri Sanggar Prathivi

Pater Daniel kemudian menjadi warganegara Indonesia dengan nama Handojo Sunjoto. Ia membaktikan hidupnya mengedukasi generasi muda di masanya di bidang radio dan audio visual lewat Sanggar Prathivi. Dan meski dikelola oleh Serikat Yesus atau Ordo Jesuit yang merupakan organisasi Katolik yang mendunia, dan diampu oleh seorang Pater, namun Sanggar amat terbuka terhadap siapa saja tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan. Pater Daniel banyak memberikan ilmu mengenai tata suara, drama, penulisan naskah, dan bersikap kepada murid-muridnya.

Masa Keemasan

Di bawah bendera Sanggar Prathivi berbagai produk-produk audio yang populer di era 1970-1980an, baik itu audio komersil seperti sandiwara radio hingga iklan komersil hingga program-program edukasi telah diproduksi dan dinikmati masyarakat Indonesia di zamannya. Bahkan beberapa program-program produksi mereka juga dirilis di sejumlah radio-radio di luar negeri. Inilah era di mana radio merupakan media hiburan yang begitu digandrungi masyarakat, di kala televisi belum semasif sekarang. Berbagai sandiwara-sandiwara radio seperti Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, Misteri dari Gunung Marapi, hingga seri cerita anak Sanggar Cerita yang dijual melalui kaset-kaset komersil begitu populer di masyarakat. Nama-nama seperti Ferry Fadly, Hana Pertiwi, Ivonne Rose, Maria Oentoe merupakan nama-nama artis sandiwara radio yang populer di zamannya.

Para artis-artis sandiwara radio ini juga merupakan salah satu generasi pelopor bagi para seiyu atau pelaku suara di Indonesia. Sepeninggal Pater Daniel, Sanggar Prathivi yang kemudian dikomandoi oleh Romo Brotodarsono terus berkembang di tengah-tengah masa keemasan radio. Bahkan bukan hanya program audio saja, Sanggar juga memproduksi sejumlah program televisi untuk TVRI pada masa itu seperti siaran rohani berjudul Fragment, hingga program TV Play yang menjadi cikal bakal bagi Sinetron modern.

Beradaptasi di Era Televisi

Memasuki era 1990an dunia hiburan di Indonesia mulai mengalami perubahan setelah semakin luasnya akses masyarakat terhadap televisi, dan semakin bertumbuhannya saluran-saluran TV swasta. Televisi yang sebelumnya hanya “dimonopoli” oleh TVRI dan hanya dimiliki oleh kalangan “Sultan” saja kini telah diramaikan dengan dengan banyaknya saluran-saluran baru, dengan program-program siaran yang beragam, termasuk di antaranya adalah siaran asing yang didubbing ke dalam bahasa Indonesia. Menanggapi perkembangan ini, Sanggar Prathivi juga turut menyesuaikan diri dengan perkembangan terkini. Dengan para artis-artis sandiwara radio didikan mereka, Sanggar mulai turut mengerjakan proyek-proyek dubbing, di antaranya anime Dash Yonkuro, bahkan termasuk anime Doraemon di masa-masa awal keberadaannya di Indonesia. Sanggar juga terus “melahirkan” para seiyu-seiyu yang akan meramaikan industri dubbing dan pelaku suara di Indonesia. Sebut saja selain Ferry Fadly, Ivonne Rose atau Maria Oentoe, ada juga Agus Nurhasan, Loecy Soesilo, Harjayah Hermano, Jumali Jindra, Salman Borneo, Tato Abi, Ian Saybani, Trie Budi Prakoso, Tisa Julianti, dan masih banyak nama lainnya, merupakan seiyu-seiyu yang lahir melalui Sanggar Prathivi.

Masa Senja

sanggar prathivi
Gedung lama Sanggar Prathivi sebelum direnovasi

Persaingan di dunia dubbing rupanya begitu keras di mana banyak studio-studio dubbing baru bermunculan. Hal ini membuat Sanggar Prathivi cukup kewalahan dalam menghadapi tantangan zaman memasuki milenium baru di era 2000an. Selain itu masalah dalam internal manajemen membuat Sanggar Prathivi harus menutup anak usahanya pada tahun 2011, yakni Swadaya Prathivi dan Prathivi Kartika Film, sekaligus mengakhiri kiprah Prathivi di dunia dubbing Indonesia. Sejak saat itu, Sanggar Prathivi pun vakum selama bertahun-tahun tanpa kegiatan apapun, hingga merekapun mencoba melakukan transformasi. Adapun Romo Brotodarsono yang mengomandoi Sanggar sepeninggal Pater Daniel juga tutup usia di tahun 2015.

Transformasi

sanggar prathivi tutup
Robertus Bambang Rudianto, atau biasa dipanggil Romo Rudi saat ditemui di Gedung Sanggar Prathivi di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat (2/6/2017). Indra Rosalia / Beritagar.id

Tampuk kepemimpinan Sanggar Prathivi kemudian dipercayakan kepada Robertus Bambang Rudianto SJ atau Romo Rudi. Di bawah kepemimpinannya, Sanggar ditransformasikan dengan konsep baru. Karyawan terdahulu telah di-PHK dengan seluruh pesangonnya telah dibayarkan lunas. Gedung lama kemudian dirobohkan dan diganti dengan gedung baru setinggi 8 lantai yang dibangun dengan konsep Zen Jepang, yang beberapa lantainya turut disewakan untuk perkantoran.

Sanggar Prathivi kemudian dibuka kembali pada tahun 2017 dengan konsep baru berupa function hall yang disewakan kepada masyarakat untuk berbagai kegiatan, hingga disewakan untuk lantai perkantoran. Transformasi ini berjalan cukup mulus di mana usaha penyewaan ini membuat gedung sering mengalami full book. Meskipun begitu, Sanggar tidak benar-benar melupakan akarnya di bidang hiburan audio visual. Romo Rudi pernah bercita-cita untuk “menghidupkan” kembali produksi sandiwara radio yang pernah berjaya di masanya. Kelas pelatihan untuk para seiyu pun dibuka kembali, dengan diasuh oleh Carolus Ispriyono yang sebelumnya terkenal melalui sandiwara Radio Tutur Tinular, didampingi oleh Haryo Sulistyo dan Gatot Subroto, mereka melahirkan berbagai seiyu-seiyu generasi terkini seperti Andhiya Putrikadita Saridiningrat hingga Melati Pertiwi Putri.

Endgame

Pandemi Covid-19 telah menghantam Sanggar Prathivi cukup keras. Segala kegiatan yang ada harus terhenti sejenak dan kantor-kantor yang menyewa gedung pun juga pergi satu per satu di tengah-tengah gelombang PSBB dan PPKM. Di tengah-tengah momen ini, mereka mencoba melakukan terobosan dengan menggelar program-program edukasi dan pelayanan doa secara online dalam acara pertajuk Prathivi Interactive Live Streaming (PILS) yang disiarkan dalam saluran Youtube mereka, didamping Carolus Ispriyono bersama Haryo Sulistyo dan Gatot Subroto yang menangani bagian audio visual, sekaligus masih menggelar kursus seiyu secara online. Program PILS ini meski tak terlalu besar, namun cukup digemari para pemirsanya yang bahkan sampai mencakup sampai ke mancanegara. Sekitar pertengahan tahun 2021 di saat kondisi mulai lebih kondusif, bahkan Sanggar mencoba menyewakan studio audio visual mereka kembali untuk program rekaman hingga dubbing.

Namun pada akhirnya suratan takdir harus berkata lain. Pada akhirnya Yayasan Serikat Yesus Provinsi Indonesia memutuskan untuk menutup yayasan yang menaungi Sanggar Prathivi. Pengumuman penutupan ini diumumkan melalui Misa online yang dipandu oleh Romo Rudi, selaku direktur terakhir Sanggar Prathivi, bersama Romo Heru Hendarto SJ  yang mengepalai bagian yayasan, pada hari Kamis, tanggal 30 Desember 2021. Dan terhitung sejak 31 Desember 2021, akhir dari tahun 2021, seluruh karyawan Sanggar Prathivi yang tersisa telah dibebastugaskan. Meskipun begitu, pihak yayasan turut membantu mereka untuk menemukan pekerjaan yang baru. Sementara itu Gatot Subroto yang telah bertahun-tahun mendampingi Carolus Ispriyono dan Haryo Sulistro di bidang audio visual, dubbing, dan pelatihan para seiyu telah tutup usia di tahun 2022.

Momen-momen terakhir Sanggar Prathivi

Legacy

Penutupan ini bukanlah akhir dari segalanya. Carolus Ispriyono bersama Haryo Sulistyo secara berkala masih meneruskan legacy dari Sanggar Prathivi dengan terus melakukan pelatihan bagi para calon-calon seiyu di masa mendatang, kali ini dengan berbendera Namsatu Studio. Romo Rudi hingga kini masih rutin melakukan Misa dengan bahasa Jepang setiap Minggunya, dan sejumlah Misa dan ibadah di momen-momen khusus melalui akun Youtube resmi milik Sanggar. Romo Rudi sendiri memang pernah tinggal di Jepang dan memiliki Jemaat di Jepang. Tak lupa para seiyu-seiyu yang terlahir dari Sanggar, banyak yang masih aktif berkarya hingga sekarang, baik itu di bidang dubbing, bahkan masih ada yang memproduksi sandiwara radio untuk mengobati kerinduan para penggemar sandiwara radio klasik.

Hari berganti hari, tahunpun berlalu. Banyak yang sudah berubah, pergi dan berganti. Namun Sanggar Prathivi selamanya akan tetap tercatat dalam sejarah industri hiburan, radio, film, dan industri suara di Indonesia.

KAORI Newsline | Oleh Dody Kusumanto

Tinggalkan komentar Anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.