BAGIKAN
© Kenji Inoue / Enterbrain / Baka to Test to Shoukanjuu Production Committee

Kemunculan karakter Hideyoshi Kinoshita dalam seri Baka to Test to Shōkanjū beberapa tahun yang lalu cukup menarik perhatian penggemar anime. Dikarenakan karakter yang digambar dengan gaya bishōjo tersebut adalah karakter laki-laki, dan hal tersebut menjadi kerancuan yang membuat karakter-karakter lainnya dalam anime tersebut kebingungan mengenai identitas jender Hideyoshi. Dari ambiguitas identitas jender karakter-karakter semacam Hideyoshi, marilah kita tinjau hakikat dari identitas jender karakter dua dimensi itu sendiri secara umum.

jender

Hideyoshi Kinoshita

Advertisement Inline

Kumpulan Garis dan Warna

Ada yang mengetahui lukisan karya René Magritte yang berjudul La trahison des images (Pengkhianatan Gambar)? Magritte melukis sebuah cangklong (pipa yang dipakai untuk merokok), dan di bawah gambar cangklong tersebut ditulis kalimat “Ceci n’est pas une pipe.” yang dalam bahasa Prancis berarti “Ini bukan cangklong.”

Untitled

(sumber: Wikipedia)

Dan memang itu bukan cangklong. Coba saja masukkan tembakau ke dalamnya, dibakar, lalu dihisap. Tidak bisa kan? Sebagaimana dikatakan Magritte, itu cuma gambar atau representasi dari cangklong, bukan cangklong yang sesungguhnya (dalam Torczyner, 1977: 71). Hanya cat minyak di atas kanvas.

Sebagaimana lukisan cangklong tersebut, karakter-karakter fiksi yang dapat dijumpai dalam anime, manga atau game pun bukanlah manusia sungguhan. Karakter dua dimensi,tidak memiliki organ biologis yang fungsional sebagaimana dimiliki oleh manusia sungguhan. Dalam media komik, yang ada sebenarnya hanyalah tinta di atas kertas (McCloud, 2001: 27). Kalau melihat ilustrasi atau animasi melalui komputer, yang ada sebenarnya hanyalah pixel di layar monitor. Secara umum dapat dikatakan, karakter-karakter dua dimensi pada hakikatnya hanyalah kumpulan garis dan warna yang ditampilkan melalui beragam bentuk teknologi media visual.

Untitled

“Selamat datang di dunia IKON yang aneh dan menyenangkan!” (McCloud, 2001: 26)

Karena karakter-karakter dua dimensi pada hakikatnya bukanlah manusia, maka identitas “laki-laki” atau “perempuan” dari karakter-karakter tersebut tidak dapat ditentukan secara biologis, sebab mereka tidak sungguh-sungguh memiliki organ reproduksi. Oleh karena itu, pembedaan “laki-laki” dan “perempuan” bagi karakter dua dimensi lebih bersifat sosiologis, yaitu label jender yang disematkan kepada citra-citra visual karakter berdasarkan penanda tampilan visual atau perilaku-perilaku karakter (soal perbedaan antara konsep jenis kelamin/sex dan konsep jender dalam sosiologi, lihat Sunarto, 2004: 110). Karena sifatnya yang sosiologis, maka label tersebut ada kalanya bisa ditempelkan sesuka hati. Karakter-karakter seperti Hideyoshi yang disebutkan di atas adalah salah contohnya, di mana karakter yang secara visual digambar dengan gaya bishōjo diidentifikasikan sebagai karakter laki-laki dan diperlakukan secara ambigu oleh karakter lainnya sebagai suatu bentuk lelucon.

Bukan Sungguhan, tapi Bukan Tiruan

Walaupun bukan manusia sungguhan, tapi karakter dua dimensi tidak benar-benar bisa dibilang imitasi. Mengapa demikian? Sebagai contoh ambillah karakter perempuan Mikoto Misaka dari gambar di atas. Mikoto bukanlah imitasi dalam pengertian di dunia nyata tidak benar-benar ada gadis bernama “Mikoto Misaka” yang bisa menghasilkan arus listrik yang kemudian menjadi model dari gambar karakter tersebut. Mikoto bukanlah representasi dari sesuatu yang ada di dunia nyata, tetapi murni ide dari sang penulis dan sang ilustrator yang menciptakannya. Sebagaimana dikatakan oleh psikiater Jepang Tamaki Saitō (2011: 162), ia adalah karakter murni fiktif yang hanya bisa ada di dunia fiksi. Jadi, dalam pengertian tertentu, “Mikoto” itu adalah sesuatu yang asli; karena ia bukanlah tiruan dari sesuatu yang benar-benar ada di dunia nyata. Kondisi tersebut menyerupai pengertian simulacrum yang dijelaskan oleh filsuf Prancis Jean Baudrillard (1994: 6), yaitu suatu reproduksi citra yang tidak memiliki kaitan apapun dengan apa yang ada di dunia nyata; hanya mensimulasikan realitasnya sendiri.

Pemikiran seperti ini bisa juga diterapkan kepada lukisan cangklongnya Magritte, jika misalnya cangklong itu merepresentasikan gagasan cangklong secara umum dan bukan digambar dari model cangklong asli tertentu di dunia nyata. Atau bisa juga dikatakan lukisan Magritte memang bukan cangklong sungguhan, tapi ia asli lukisan yang digambar oleh Magritte.

Seksualitas Dua Dimensi

Satu hal yang menarik untuk diperhatikan, Saitō (2011: 162) berpendapat bahwa hasrat seksual memiliki karakteristik yang berbeda dari hasrat-hasrat lainnya. Kalau orang ingin jadi kaya, melihat ilustrasi uang tidak akan membuatnya merasa puas. Kalau orang lapar, melihat ilustrasi makanan tidak akan membuatnya kenyang. Dan kalau kembali ke contoh Magritte, orang yang ingin menghisap asap tembakau tidak akan puas hanya dengan melihat lukisan cangklong Magritte. Tapi berkaitan dengan hasrat seksual, Saitō berargumen bahwa hanya dengan melihat ilustrasi tubuh telanjang saja, misalnya, sekalipun ilustrasi tersebut bukanlah manusia sungguhan, namun ia sudah cukup untuk merangsang timbulnya reaksi seksual dari yang melihatnya.

Untitled

Pantat dua dimensi pun cukup untuk membuat sebagian orang bergairah.

Lebih lanjut, Saitō (ibid.: 162-163) bahkan mengatakan bahwa hasratlah yang membuat dunia dua dimensi memiliki realitasnya sendiri, yang membuat dunia tersebut terasa hidup. Dan karena karakteristiknya yang khas, maka seksualitas terhadap karakter dua dimensi itulah unsur yang paling efektif untuk memberi denyut realitas yang menghidupkan dunia dua dimensi itu.

Penutup

Pada hakikatnya, karakter dua dimensi adalah citra visual yang tidak merepresentasikan manusia sungguhan. Identitas karakter, termasuk identitas jendernya diperoleh dari suatu proses sosial di mana pengarang dan pemirsa menyematkan makna identitas kepada citra visual karakter. Namun, walaupun secara biologis tidak memiliki eksistensi yang nyata, menurut pendapat Saitō ternyata karakter dua dimensi tetap mampu menghidupkan hasrat seksual seseorang, dan bahkan membuat dunia dua dimensi terasa hidup dalam realitasnya sendiri. Argumen Saitō bisa diperdebatkan, namun di sisi lain ia mungkin dapat membantu untuk memahami mengapa ada orang-orang yang bisa begitu terpesona dan terobsesi dengan karakter dua dimensi.

Referensi

• Baudrillard, Jean. Simulacra and Simulation (terjemahan bahasa Inggris oleh Sheila Faria Glaser). University of Michigan Press, 2004.
• McCloud, Scott. Memahami Komik (terjemahan bahasa Indonesia oleh S. Kinanti). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2001.
• Saitō, Tamaki. Beautiful Fighting Girl (terjemahan bahasa Inggris oleh J. Keith Vincent dan Dawn Lawson). Minneapolis: University of Minnesota Press, 2011.
• Sunarto, Kamanto. Pengantar Sosiologi, Edisi Revisi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004.
• Torczyner, Harry. Magritte: Ideas and Images (terjemahan bahasa Inggris oleh Richard Miller). New York: H.N. Abrams, 1977.

KAORI Newsline |  Halimun Muhammad adalah pengamat sekaligus penikmat budaya pop kontemporer Jepang yang telah menempuh studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, menikmati sekaligus mencoba memotret kebudayaan anime dari perspektif akademis.

17 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.