Direktur utama Tepco Naomi Hirose membungkuk di depan wartawan. (Japan Times)

Netizen Indonesia mudah terbuai dengan cerita pengunduran diri pejabat-pejabat di Jepang karena tersangkut skandal – baik personal maupun politik – . Foto-foto pejabat Jepang yang membungkuk sembari meminta maaf di depan pers tersebut kemudian dibandingkan dengan pejabat di Indonesia yang “maju terus pantang mundur.” Tapi apakah memang Jepang benar-benar sebaik itu?

Sekadar Lip Service

Budaya meminta maaf dan mengundurkan diri di Jepang sebagaimana dituliskan oleh William Pesek, wartawan senior Bloomberg, adalah budaya mengundurkan diri karena malu. Permintaan maaf di Jepang lebih bersifat kosmetik, lip service, ketimbang sebuah janji untuk perubahan atas kesalahan yang diperbuatnya.

Bencana nuklir di Fukushima, yang dikelola oleh perusahaan Tepco, adalah akumulasi dari budaya korup yang ada dalam Tepco. Berbagai aturan ditabrak tanpa adanya audit sampai gempa Tohoku pada 11 Maret membongkar semuanya.

Advertisement Inline

Pejabat Tepco awalnya mencoba mengecilkan skala bencana di PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir) Fukushima Dai-Ichi dan sempat mempertimbangkan untuk mengevakuasi teknisi di PLTN Dai-ichi sebelum ditekan oleh pemerintah. Di depan media, berkali-kali pejabat Tepco meminta maaf pada publik. Tapi tiga tahun setelah Fukushima, Pesek mengemukakan pernyataan yang menyentil rasa kemanusiaan orang Jepang.

“Adakah pejabat Tepco yang diproses secara hukum karena keteledorannya?”

Korupsi merajalela dan pendepakan sang whistleblower

Tidak terlalu lama setelah skandal Tepco, Jepang kembali dihebohkan oleh skandal akuntansi Olympus. Pada 14 Oktober 2011, direktur utama Olympus Michael Woodford tiba-tiba dipecat setelah hanya menjabat selama dua minggu di posisi tersebut. Woodford yang merupakan orang Inggris membongkar praktik tobashi, praktik menyembunyikan kerugian dalam pembukuan perusahaan.

Tobashi dalam Olympus tidak main-main: sebanyak 1,5 miliar dolar Amerika (20 triliun rupiah) uang perusahaan dilarikan, sebagian diberikan ke organisasi kriminal. Segera setelah menjadi dirut, Woodford menggandeng akuntan PricewaterhouseCoopers (PwC) untuk melakukan audit forensik. Alih-alih laporannya diterima di hadapan dewan direksi, Woodford justru diberhentikan dengan alasan “perbedaan gaya kepemimpinan.” Penggantinya, Shuichi Takayama justru menyalahkan Woodford.

Nasib Olympus sedikit lebih baik: dirut Olympus yang baru Takayama akhirnya memang meminta maaf di depan publik pada 8 November 2011 dan pada Februari 2012, polisi menciduk sejumlah mantan pejabat Olympus. Namun apakah setelah kasus Olympus, ada upaya dari pemerintah untuk mereformasi tata kelola perusahaan agar hal serupa tidak terulang? Sayangnya tidak. Sejarah membuktikan empat tahun kemudian dengan skandal Toshiba.

Kroni dan moral hazard

Mungkin ada beberapa yang pernah menonton Hanzawa Naoki. Drama Jepang yang diperankan oleh Masato Sakai ini menjelaskan mengenai sang Hanzawa Naoki yang bekerja sebagai manajer di sebuah bank dan menghadapi praktik bisnis kotor yang diperbuat atasannya. Pada episode akhir, Owada dipaksa meminta maaf sambil dogeza dan dipermalukan di depan jajaran direksi bank tempatnya bekerja. Alih-alih diberi kompensasi tinggi karena menyelamatkan perusahaan, Hanzawa Naoki justru “dibuang” ke posisi lain. Menariknya, ada yang berspekulasi bahwa kasus Olympus diduga menjadi inspirasi pembuatan seri Hanzawa Naoki.

Bila melihat struktur pemerintahan Jepang, menteri adalah jabatan politik: mereka tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah maupun mereformasi kementerian di bawahnya. Seorang menteri di Jepang tidak bisa bertindak sebagaimana Susi mengobrak-abrik nelayan asing maupun sebagaimana Jonan mereformasi habis-habisan mental PNS di Kementerian Perhubungan.

Melihat menteri atau pejabat senior di Jepang yang mundur karena kesalahan dan kealpaannya mungkin hal yang baik karena setidaknya publik bisa melihat, “hey, dia ngaku lho.” Tapi apakah permintaan maaf mereka akan membawa dampak yang signifikan setelahnya, sepertinya tidak.

Oleh Kevin W

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.