Skema pembiayaan baru ini sebelumnya telah mulai diterapkan pada Downtown Line yang dioperasikan oleh Singapore Bus Service Transit (SBS Transit) terlebih dahulu, sejak tahun 2011 silam. Dibawah skema baru ini, operator mendapat hak izin atau konsesi lebih pendek untuk mengoperasikan layanan KA, hanya selama 15 tahun. Sebelumnya, durasi konsesi pengoperasian layanan KA dapat mencapai 30 hingga 40 tahun, jika dilihat dari skema yg digunakan saat ini. Operator membayar biaya konsesi sebagai hak untuk menjalankan layanan KA dan berbagi beberapa resiko pengoperasian dengan LTA.

Pada Downtown Line, SBS Transit diharuskan membayar biaya konsesi sekitar S$1,6 miliar untuk 19 tahun. Hingga berita ini diturunkan, belum ada perkiraan mengenai kisaran biaya konsesi yang akan dibayarkan SMRT. Sebelunya, negosiasi sempat berjalan alot karena Direktur Utama SMRT sekaligus Pimpinan SMRT Group, Desmond Kuek mengatakan terdapat proses yang rumit dan melelahkan, dengan mekanisme pembagian resiko yang harus bisa ditanggung bersama secara berkelanjutan .

Advertisement Inline

Konsesi bagi SMRT untuk mengoperasikan layanan KA dengan skema baru akan berlangsung hingga 30 September 2031, dengan opsi perpanjangan 5 tahun. Biaya konsesi ini dikenakan kepada SMRT agar mampu mencapai nilai pendapatan sebelum saham dan pajak (Earning Before Interest and Tax / EBIT) sekitar 5%. Selisih ini dapat dibandingkan dengan sarana operator LRT di luar negeri.

Sebagai bagian dari proses pengambilalihan, LTA akan terlebih dahulu mengaudit biaya aset dan pemeliharaan rangkaian kereta MRT dan LRT milik SMRT untuk memverifikasi jumlah keuntungan operasional dari sisi sarana. LTA juga akan meninjau kondisi sarana rangkaian-rangkaian kereta MRT dan LRT yang lama untuk meyakinkan sarana tersebut dalam kondisi baik dan masih layak digunakan. SMRT telah memberi garansi kondisi sarana dan LTA sangat membutuhkan kepastian dalam hal tersebut agar tidak langsung mengambil rangkaian dengan kondisi yang kurang baik atau bahkan rusak.

Jika ditemukan rangkaian dengan kondisi yang rusak ataupun tidak layak operasi, SMRT harus memperbaikinya terlebih dahulu sebelum diserahterimakan kepada LTA. Penasihat keuangan independen SMRT, PrimePartners Corporate Finance, telah mengatakan syarat pengajuan penjualan adalah “jelas dan masuk akal”, untuk memperkecil kemungkinan timbulnya sengketa di masa mendatang. Pemberlakuan pengecekan pra-serah terima ini dibarengi dengan upaya SMRT untuk mengikuti performa standar pemeliharaan sarana dan prasarana yang baru.

Meskipun tak lagi memiliki secara aset, SMRT tetap akan melakukan pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana yang digunakannya. SMRT akan menambah jumlah pegawai pemeliharaan sebanyak 20 persen, atau sekitar 700 orang pekerja, dalam rentang waktu hingga tiga tahun ke depan. Sebaliknya, LTA akan mempekerjakan lebih banyak orang untuk tim teknis dan pemeliharaan serta meningkatkan ketelitian dalam proses audit dan pengecekan.

“Kami menyambut dimulainya proses transisi untuk skema pembiayaan baru di seluruh jalur (MRT dan LRT) yang kami operasikan. Ini akan memungkinkan SMRT untuk lebih fokus memenuhi perannya sebagai operator transportasi publik yang memberikan kualitas tinggi dalam hal daya tahan, keamanan, dan pelayanan operasional dan manfaatnya bagi penumpang” tutur Kuek.

Selanjutnya, setelah proses negosiasi dengan SMRT tuntas dan mencapai kesepakatan, LTA akan berdiskusi kembali dengan SBS Transit pada untuk memberlakukan sistem yang sama pada jalur MRT North East dan jalur LRT Sengkang – Punggol yang dioperasikannya.

Cemplus Newsline by KAORI

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.