SHARE

reon

Selamat datang dalam ulasan mingguan untuk seri anime Saenai Heroine no Sodatekata (Saekano) Flat. Ini adalah rubrik uji coba. Silakan sampaikan saran dan kritik Anda melalui Halo Kaori (halo@kaorinusantara.or.id) maupun grup #Kaoreaders di Facebook. 

Proyek novel visual Blessing Software terus berlanjut. Yang menyenangkan dari menonton anime Saekano sesungguhnya tidak hanya mengetahui jalan ceritanya, namun bagaimana animenya menganimasikan perkembangan di novel ringan dengan tambahan-tambahan kreatif yang menyenangkan.

Episode-episode awal mengangkat volume 5 dari novel visualnya. Itu berarti kita memasuki “rute Utaha.” Tetapi sebagaimana karya-karya Maruto Fumiaki lainnya (baca: White Album 2), perkembangan karakter-karakter lain tidak terlewatkan dan justru penting untuk disimak.

Senyum lebar Koro-sensei. © Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee

Waktu kamu tiba-tiba menelepon 30 menit lalu, aku masih pakai baju tidur

Episode dua dibuka dengan Utaha yang mengerjakan skrip untuk novel visual timnya, kemudian berguling-guling di kasur. Dengan senyum setan, Utaha mengajak Tomoya untuk berbelanja dan menemaninya sebagai bentuk ucapan selamat atas penyelesaian novelnya.

Adegan sebelum lagu pembuka di episode ini benar-benar memanjakan fans Utaha, menampilkan wujudnya dalam berbagai sudut, berbagai posisi, dan tentu saja menampilkan senyum jahat Koro-sensei (dari Assassination Classroom.)

Utaha yang terlihat asyik melahap buku membuat Tomoya berdiri terus-terusan, dan beberapa jam berlalu, Utaha tampak sudah menyelesaikan tumpukan novel yang dibacanya. Setelah ditegur, tanpa ragu, ia membeli “Monogatari” yang dinikmatinya, lalu menyuruh Tomoya membawakannya.

“Monogatari” yang dinikmati Utaha. © Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee

Dari kejauhan, Eriri muncul sebagai penguntit. Tidak mau ketahuan sendirian, Eriri tiba-tiba mengajak Megumi menemaninya menguntit. Megumi datang terburu-buru, mengaku masih pakai baju tidur saat ditelepon Eriri. Tahu apa yang hendak dilakukan Eriri, Megumi memintanya tidak melanjutkan ceritanya. Ternyata, Megumi bisa bangun siang.

Mereka terus berkeliling sampai saat makan siang. Tomoya memberinya selamat, namun Utaha memintanya untuk tidak mengganggu karena ia sedang khusyuk membaca “monogatari” yang baru saja dibelinya. Menentukan rencana mereka selanjutnya, Tomoya menyarankan Utaha untuk menonton film. Dengan nada dingin, Utaha setuju, mengajaknya untuk menonton “film live-action yang begitu jelek dan membuat fansnya marah.” Eriri masih asyik melantunkan rasa irinya sampai Megumi mengingatkan kalau mereka sudah bersiap keluar.

Setelah menonton film, mereka kembali beristirahat, mendiskusikan film tersebut. Tomoya memikirkan bagaimana suatu film bisa diadaptasi. Utaha menilai filmnya jelek, namun dinilai bagus karena aktingnya bagus. Tomoya punya pendapat yang berbeda. Sebagai novelis, Utaha meminta Tomoya untuk tidak ragu mengkritik apa yang menurutnya harus dikritik, tetapi ia harus menerima risiko bila mengkritik: didiamkan selama minimum satu minggu sampai putus hubungan selamanya.

Dalam acara terakhir di rangkaian kencan ini, Utaha mengutarakan niatnya setelah lulus SMA. Memilih pindah ke daerah Kansai, atau tetap kuliah di sekitar Tokyo. Tomoya tampak panik. Saat Utaha hendak pulang dengan KRL Yamanote di stasiun Ikebukuro, Utaha meminta Tomoya untuk membaca naskah lain. Ending lain untuk novel visualnya. Dari tengah anak tangga, Utaha memberikan flash disk berisi skrip, memintanya untuk memilih. Secara tersirat, meminta Tomoya memilih “siapa”.

Bagaimana kabar Eriri dan Megumi? Ternyata Megumi menggiringnya belanja pakaian dan memintanya menyerah menjadi penguntit.

© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee

Eriri, punya pemikiran kreatif seperti itu memang bagus sebagai seorang kreator, tapi aku merasa lelah harus menanggapi setiap delusimu.

Hari telah berganti, Eriri dan Megumi tiba di depan rumah Tomoya tepat pukul 10 pagi. Eriri mulai berdelusi aneh-aneh dan berpikir untuk menjebol rumahnya, tetapi tiba-tiba Megumi mengeluarkan kunci dan membuka pintu rumahnya.

Menemukan Tomoya yang sedang terharu akan apa yang baru dibacanya, ia menjelaskan bahwa ini adalah rute baru untuk Ruri (karakter adik sang protagonis dalam novel visual buatan mereka). Megumi tersentuh, sembari menyindir andai saja Tomoya tidak harus mengomentari satu persatu adegan dalam skrip tersebut.

© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee

Eriri mendebat keputusan Tomoya, menyampaikan kalau Tomoya menerima skrip ini, seluruh novel visual mereka akan berubah total. Itu berarti Eriri harus kembali menggambar ulang banyak hal. Tetapi Eriri nyeletuk bahwa auranya seperti Koisuru Metronome (novel lain karangan Utaha). Tomoya bertanya apakah Eriri sudah membaca Koisuru Metronome, tapi Eriri berkelit.

Megumi tampak duduk, tiba-tiba ia memainkan sebuah novel visual. Tomoya mengernyitkan dahinya saat melihat logo rouge en rouge.

© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee

Rasa White Album 2 dalam Saekano

Walau episode ini (dan episode selanjutnya) adalah episode khusus Utaha, paruh kedua episode 2 hanya menampilkan Eriri, Tomoya, dan Megumi. Pengembangan cerita yang menarik, karena kita diajak untuk mengetahui bagaimana tanggapan anggota lain mengenai manuver Utaha alih-alih hanya memfokuskan satu episode dengan Utaha dan Megumi. Detail lainnya mampu melengkapi bangun cerita, seperti bagaimana kita tahu Eriri punya obsesi berlebihan dengan teman masa kecil dan Megumi diam-diam memendam sikap yandere. Siapa yang punya ide kreatif memegang kunci rumah orang lain dan menguntit gerak-gerik orang?

Pada akhirnya, Saekano mengingatkan pada White Album 2. Dalam novel visual keluaran Aquaplus yang sama-sama ditulis oleh Maruto, pemainnya diajak menikmati pandangan karakter lain saat memasuki rute seseorang. Itu berarti jika mengambil rute Setsuna Ogiso, pemain bisa tahu pandangan Touma Kazusa tentangnya, dan sebaliknya. Alih-alih menciptakan cabang tanpa kontinuitas, pemain mendapatkan potongan utuh dengan melengkapi seluruh rutenya.

Megumi boleh saja menjadi perempuan pilihan Tomoya pada akhir seri, tetapi bagi penonton (dan pembaca) yang menyukai Eriri dan Utaha, mereka tidak akan dianaktirikan, justru diberikan waktu tampil yang besar dan berperan signifikan, saling melengkapi inti Saekano.

Selamat datang dan selamat melanjutkan adaptasi salah satu seri yang terlihat banal, namun punya pengembangan karakter paling menarik di musim ini.

KAORI Newsline | oleh Kevin W

Kumpulan Adegan Terbaik Saekano Flat Episode 3

© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
Senyum lebar Koro-sensei. © Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
“Monogatari” yang dinikmati Utaha. © Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee
© Maruto Fumiaki / Kurehito Misaki / Kadokawa Fantasia Bunko / Saekano Flat Production Commitee