BAGIKAN
Rambu dilarang memotret yang terpampang di stasiun Tanjung Priok, Jumat (15/9). (KAORI Nusantara / Kevin Wilyan)

Momen 15 September 2017 menjadi sedikit berbeda. Selain (belum) tidak ada momen gimmick genjreng-genjreng ala Transjakarta, menurut kabar yang beredar hari ini juga merupakan hari berubahnya nama operator kereta listrik (KRL) satu-satunya di negeri ini. PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) berubah menjadi Kereta Commuter Indonesia.

Tahun 2016-2017 merupakan momen pengoptimalan kualitas sarana. Kecuali kasus mogok pada pagi dan sore yang terjadi pada 8 September lalu maupun anjlok di wesel inggris Kamis (14/9), praktis tidak ada hal-hal besar yang menarik publik lagi dari kereta komuter. Momok besar lain tinggal kepadatan antrian Bekasi dan kelebihan kapasitas di lintas Serpong, yang penyelesaiannya ada di pembangunan rel dwiganda (double-double track) dan rehabilitasi stasiun Manggarai.

Hari ini, KRL komuter sudah nyaman dipergunakan oleh mereka yang menaiki KRL setiap Senin sampai Jumat. Mereka yang sudah hafal setiap pagi harus naik KA nomor berapa, berangkat pukul berapa, dan menanti spot-spot tempat mereka biasa duduk dalam rangkaian kereta yang selalu mereka naiki pada jam yang sama. Memasuki tahun kesepuluh, tantangan berikutnya adalah menjadikan KRL mudah dipergunakan bagi mereka yang tidak biasa menggunakan KRL. Mau tidak mau, hal-hal mikro dan kecil tetapi bersentuhan langsung dengan pengguna mutlak untuk diperhatikan. Bahkan, hal-hal kecil ini juga meliputi aspek keselamatan.

Kiri: Info KRL buatan Hendra Saputra. Kanan: KRL Access buatan PT KCI.

Aplikasi KRL Access yang Menyebalkan

Advertisement Inline

KRL Access, aplikasi standar dan resmi milik KCJ tersedia dalam dua platform, yaitu di iOS dan Android. Aplikasi ini menampilkan posisi KRL dengan lengkap sehingga cukup dengan memilih stasiun tempat kita berada, kita bisa mengetahui posisi KRL tersebut.

Tetapi aplikasi ini memiliki mode default yang sangat menyebalkan bagi pengguna awam. Penumpang harian setiap Senin sampai Jumat tidak perlu bertanya-tanya, mereka sudah tahu bila KA 1194 menampilkan posisi “Berangkat Cikini”, dalam waktu sekitar 15 menit kereta akan tiba di stasiun Cawang. Tetapi penumpang awam perlu tahu kapan waktu kedatangan kereta pertama dan kapan kereta berikutnya akan tiba. Untuk menampilkan perkiraan kedatangan, pengguna perlu mengaktifkannya secara manual. Kenapa dibuat manual?

Begitu pula bagi mereka yang hendak merencanakan rute perjalanan. Kualitas aplikasi KRL Access masih inferior dibandingkan saudaranya, Info KRL, yang memungkinkan pengguna melakukan route planning. Ingin ke Aeon Mall bersama teman cosplayer sekota Depok? Cukup masukkan stasiun Depok Baru di stasiun awal dan Rawabuntu (atau Cisauk, bagi para pemberani) dan Info KRL akan menampilkan prediksi rute menuju stasiun impian.

Di KRL Access, merencanakan perjalanan berarti mengklik menu Schedule & Route, kemudian memilih jam keberangkatan untuk rentang tertentu. Bagaimana nasib rombongan cosplayer sekota Depok yang mau ke Aeon Mall? Mereka harus menghitung sendiri kereta ke Tanah Abang, lalu memastikan mereka naik kereta yang benar di stasiun Tanah Abang. Bila kebetulan hanya ada orang-orang kaya di lingkaran pergaulan ini sehingga mereka semua hanya memiliki iPhone, mereka perlu mengontak teman mereka yang paham perkeretaapian, atau mengatakan bahwa KRL merepotkan dan akhirnya bersepakat naik taksi online. Dafug!

Berfilsafat: kereta mana yang berangkat duluan? (KAORI Nusantara / Kevin W)

Saya Ada di Mana? Kereta Berangkat Pukul Berapa?

Taruhlah rombongan cosplayer sekota Depok ini akhirnya memutuskan untuk mengalihkan diri mereka dan melakukan photo session menuju kawasan Kota Tua. Ketika mereka memasuki stasiun, mereka akan membeli Tiket Harian Berjaminan. Mereka kemudian melakukan tap in dan mereka pun tiba di peron stasiun. Di stasiun Depok baru, mereka melihat petunjuk dengan huruf yang mini. Jalur 1 jurusan Jakarta Kota. Di samping mereka, ibu-ibu seumuran emak mereka yang tidak memiliki smartphone dan berusaha untuk menuju Tanjung Barat setelah sebelumnya bosan menaiki angkot M04. Kata cucunya, naik KRL lebih cepat.

Ternyata tidak ada peta yang detail mengenai jalur Bogor – Jakarta Kota atau Bogor – Jatinegara. Petunjuk peron juga tersedia dalam huruf berukuran mikro sehingga emak-emak ini terpaksa bertanya ke rombongan cosplayer yang juga baru kali pertama naik KRL. Karena tidak ada di antara mereka yang tahu, salah satu di antara remaja-remaji cosplayer ini bersama sang emak pun menghampiri petugas security yang berjaga di peron. Dicecar pertanyaan oleh dua orang sekaligus, petugas ini bingung sampai KRL pun tiba. Tanpa sadar, sang petugas silap menyaksikan aksi pencopet yang beraksi di pintu KRL.

Untung saja mereka menuju Jakarta Kota. Bayangkan bila sang emak ini hendak menuju ke Cibinong, kemudian ia terpaksa menunggu di peron jalur 2 stasiun Citayam yang kini (nyaris) bersih dari tempat duduk. Terlebih kini di stasiun-stasiun sudah tidak ada lagi papan jadwal perjalanan KRL ditempel dengan lengkap. Seperti lagu Iwan Fals, kereta tiba pukul berapa?

Bersambung ke bagian kedua: Saat Para PPK Pemalas dan Penumpang Musiman Berpesta Pora

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.