BAGIKAN

Shortfic: The Tree Fairy, karya silvercorolla

treefairy_5

Ada suatu cerita tentang sebuah pohon yang aneh dan misterius di desaku. Pohon itu adalah sebuah pohon nangka yang tumbuh di kebun belakang desa. Orang-orang menyebutnya “Pohon Manusia” karena di batang kayunya terdapat wajah-wajah manusia yang terukir di sana.
***

Semua itu berawal dari tiga orang sahabat yang terdiri dari Nining, Deden, dan Raka. Mereka selalu bermain petak umpet di kebun belakang desa yang banyak ditumbuhi pohon-pohon buah seperti nangka, jambu, dan mangga. Tak jarang selepas bermain, mereka memetik buah-buahan itu untuk dimakan atau dibawa pulang. Tak ada yang marah atas perilaku mereka karena anak-anak itu adalah anak yang baik dan sopan.

Setiap main petak umpet, Deden selalu mendapat giliran jaga karena tubuhnya yang gemuk dan gerakannya yang kurang lincah. Sering kali ia tak dapat menemukan teman-temannya yang biasa bersembunyi tak jauh dari pohon “pos jaga” sehingga saat ia kembali, Nining dan Raka selalu tiba terlebih dahulu untuk mengamankan pos. Kalau sudah begitu, Deden akan terus berjaga hingga permainan usai. Meskipun demikian anak gemuk itu tidak pernah mengeluh. Ia selalu tertawa ceria dan menikmati permainannya.

Suatu saat di sore hari, seperti biasa tiga orang anak itu bermain petak umpet di kebun. Kali ini Deden entah kenapa selalu menemukan kedua temannya di tempat persembunyian masing-masing. Nining dan Raka yang tak menyangka kaget mengetahui anak gemuk itu tidak seperti dulu lagi. Tetapi Deden yang tak biasa mendapat giliran sembunyi pada akhirnya menjadi penjaga lagi karena mudah ditemukan oleh temannya.

Ketika permainan selesai, Nining dan Raka bertanya pada Deden tentang apa yang membuat ia mudah menemukan mereka. Dengan ringan ia menjawab dirinya diberi tahu oleh peri pohon. Kedua temannya bingung siapa yang ia maksud dengan “peri pohon”. Bocah gemuk itu kemudian menunjukkannya pada mereka.

Deden membawa kedua temannya ke pohon nangka tempat ia berjaga hari ini. Ia mengatakan di sinilah ia bertemu dengan peri pohon. Deden menggambarkan sosok peri pohon itu seperti seorang wanita cantik dengan kulit putih dan rambut hitam panjang yang berkilau. Nining dan Raka heran. Ia tidak melihat wujud seorang peri di pohon itu. Anak gemuk itu menjelaskan pada mereka kalau ingin bertemu dengan peri pohon harus datang pada tengah malam karena saat itulah sosok peri tersebut akan menampakkan diri.
***

Malamnya, Nining, Raka, dan Deden mengendap-endap keluar dari rumahnya masing-masing. Mereka bertemu di tempat yang dijanjikan sebelumnya, di bawah pohon nangka tempat dimana peri pohon itu akan muncul.

Batang pohon nangka itu tidaklah terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil namun memiliki daun yang rindang dan sejuk. Hampir di setiap dahannya terdapat buah-buah nangka yang masak. Di antara dahan-dahan itu terdapat sebuah dahan yang berdaun rindang di ujungnya dan terdapat dua buah nangka yang menggantung di tengahnya. Deden meminta kedua temannya untuk memperhatikan dahan itu sambil meniru mantera yang diucapkannya.

” Nadia sang peri, datanglah pada kami.”
” Nadia sang peri, datanglah pada kami.”
” Nadia sang peri, datanglah pada kami.”

Usai pengucapan mantera, mereka melihat pohon itu bergerak. Dahan-dahan pohon itu bergerak-gerak dan daunnya bergoyang sehingga menciptakan suara berdesir. Kemudian perhatian mereka kembali tertuju pada dahan yang sebelumnya ditunjuk oleh Deden.

Dahan itu bergoyang paling hebat. Batangnya perlahan-lahan membesar dan kulit kayunya berubah warna menjadi putih. Permukaanya pun semakin halus. Perubahan-perubahan ganjil pun terlihat pada daun-daun lebat di ujung dahan dan kedua buah nangka yang menggantung di tengah. Dalam beberapa saat dahan itu berubah menjadi setengah badan seorang wanita cantik bertelanjang dada dengan penampilan persis seperti yang digambarkan Deden.

Nining dan Raka tak percaya atas apa yang mereka lihat. Tubuh mereka lemas dan jatuh terduduk menyaksikan keajaiban yang terjadi pada pohon itu. Deden yang tampak telah terbiasa memperkenalkan wanita itu sebagai Nadia, sang peri pohon pada mereka.

Nadia tersenyum saat menyapa mereka. Suaranya yang lembut dan ramah perlahan-lahan mengusir ketakutan pada diri Nining dan Raka. Ia mengatakan pada mereka untuk tidak takut pada dirinya karena Nadia ingin menjadi teman mereka. Dalam waktu singkat, ketiga orang anak itu menjadi akrab dengan sang peri pohon. Mereka menerima Nadia sebagai teman mereka dengan syarat agar merahasiakan sosoknya dari orang lain. Tiga sekawan itu menyanggupinya.
***

Setiap tengah malam pada hari-hari berikutnya, tiga sekawan itu mengunjungi Nadia di kebun. Mereka mengobrol tentang segala hal, bersenda gurau pada peri pohon itu layaknya manusia biasa. Nadia senang dengan kedatangan mereka. Ia mengatakan impiannya untuk menjadi manusia normal. Sayangnya, ketika Nining menanyakan apa yang membuatnya seperti ini, Nadia tak mau menjawabnya. Ia berkata bahwa dirinya sendiri tak tahu jawabannya. Ia sejak awal sudah berwujud seperti itu dan sudah lama berada di tempat itu. Pertemuan mereka berakhir menjelang dini hari.
***

Pertemuan rahasia anak-anak itu dengan Nadia akhirnya tercium oleh orang tua mereka. Nining, Raka, dan Deden kemudian dilarang oleh ayah dan ibu mereka untuk meninggalkan rumah saat tengah malam. Akibatnya, pada tengah malam selanjutnya, tak ada satupun dari mereka yang mengunjungi Nadia. Sang peri pohon kesepian dan sedih. Ia lalu bernyanyi pada tengah malam untuk menghilangkan kesepian sekaligus memanggil teman-teman manusianya. Walaupun tak kunjung datang, Nadia terus bernyanyi hingga keinginannya terwujud sehingga nyanyian itu terdengar ke telinga warga desa.

Warga desa mulai resah karena nyanyian itu. Orang tua Nining, Raka, dan Deden mencurigai nyanyian itu adalah sebab mengapa anak-anak mereka menyelinap keluar di tengah malam. Saat mereka menanyakannya, anak-anak itu bungkam sesuai dengan janji mereka pada Nadia untuk merahasiakan segala sesuatu tentangnya.

Sayangnya Raka tak mampu mempertahankan janjinya. Orang tuanya berhasil membujuk dirinya untuk mengatakan tentang sesuatu yang ganjil di kebun. Ia pun kelepasan mengungkapkan tentang seorang peri yang mendiami pohon nangka. Berita itu pun menyebar ke seluruh penjuru desa.
***

Malam harinya, semua lelaki warga desa berkumpul di kebun, tepatnya di depan pohon nangka yang ramai dibicarakan. Mereka ingin memastikan bahwa apa yang mereka dengan adalah benar.

Sang kepala desa pun bertindak. Tepat tengah malam ia memanggil Nadia seperti yang dijelaskan oleh Raka. Berkali-kali ia memanggilnya namun sang peri pohon tak kunjung datang. Warga mulai meragukan cerita itu tetapi sang kepala desa tak puas. Ia segera mengambil kapak untuk menebangnya.

Maka diayunkanlah kapak itu menebas batang pohon nangka. Seketika terdengar jerit kesakitan dari pohon tersebut tatkala mata kapak menebas kulit kayunya. Warga yang melihatnya terkejut. Tepat di luka tebasan, mengalir darah merah.

Jerit kesakitan itu tak membuat para lelaki warga desa takut. Sebaliknya, mereka malah menjadi beringas. Masing-masing mengambil alat-alat tajam kemudian menghujamkannya pada pohon itu. Jerit kesakitan itu bersahut-sahutan membelah keheningan malam.

Tebasan demi tebasan kapak yang dihujamkan bertubi-tubi akhirnya menumbangkan pohon itu. Darah pun membanjiri tanah kebun. Para lelaki warga desa belum juga puas. Mereka memotong-motong dan membelah setiap batang, dahan, ranting, serta daun yang tersisa. Mereka pun memakan buah nangka yang bersimbah darah merah. Mereka terus melakukannya hingga pohon itu habis menjelang fajar.

Keesokan harinya, kegiatan warga desa berjalan normal seperti tak terjadi apa-apa. Hanya saja ketiga sahabat: Nining, Raka, dan Deden menangis sedih karena kehilangan salah satu teman baru mereka.

Pada malam harinya sayup-sayup terdengar suara wanita yang menangis tersedu-sedu. Sepertinya seseorang telah kehilangan sesuatu yang berharga.
***

Kegemparan melanda desa pada keesokan harinya. Bagaimana tidak, warga desa mendapatkan suami serta anak lelakinya hilang entah ke mana. Para ibu-ibu panik mencarinya ke sana ke mari. Beberapa di antara mereka menangis bahkan pingsan. Ke mana pun mereka mencari, para lelaki warga desa tetap tak ditemukan.

Tiba-tiba seorang warga terkejut bukan main ketika menemukan pohon nangka yang ditebang pada malam itu ternyata masih tegak berdiri seperti tak terjadi sesuatu padanya. Mereka tak percaya hal ini. Mana mungkin pohon itu tumbuh kembali dalam waktu dua malam? Warga desa pun semakin histeris saat menemukan wajah suami dan anak laki-laki mereka terpahat dalam batang pohon itu. Tak dapat dipercaya, di permukaan kulit kayu yang membalut tubuh pohon itu bertebaran raut-raut wajah ketakutan dari lelaki-lelaki yang mereka cintai.

Para ibu-ibu dan wanita warga desa menangis meraung-raung di depan pohon nangka. Mereka memanggil nama-nama orang yang mereka sayangi sambil meraba wajah-wajah yang ada di sana. Suasana ini terasa seperti pemakaman masal.

Di antara kerumunan wanita-wanita yang bersedih itu, seorang wanita muda berkulit putih dengan rambut hitam panjang yang berkilau menyelinap keluar meninggalkan mereka. Di wajahnya tersungging senyum lebar karena apa yang telah diimpikannya sejak lama akhirnya terwujud.

E n d

***

*cerita ini hanya fiktif belaka, bukan pengalaman pribadi penulis, dan kesamaan nama, tempat, maupun cerita semata kebetulan belaka. Tautan cerita : The Tree Fairy

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.