BAGIKAN

Cerpen: Reflexio, by KurobaraIto

reflexio_6

Sebulan lalu aku kecelakaan, tertabrak mobil saat aku pulang sekolah, lalu aku dirawat di rumah sakit selama sebulan, dan baru tiga hari yang lalu aku keluar dari rumah sakit. Dokter bilang aku mengalami amnesia, saat pertama aku bangun, aku bahkan tidak tahu siapa namaku, atau nama orang yang ada di sekelilingku. Walau begitu, aku ingat ketika aku bangun, sepasang orang yang sepertinya orangtuaku langsung memelukku dengan erat, dan mengatakan kalau mereka menyayangiku. Sepertinya mereka benar-benar takut kehilanganku, atau memang kecelakaanku sangat parah aku tidak tahu. Yang jelas disinilah aku, di depan cermin di kamarku sedang mengingat kejadian dua hari yang lalu.

Saat itu baru pertama kali aku masuk setelah sebulan dirawat di rumah sakit, aku yang terkena amnesia jelas lupa terhadap seluruh pelajaran yang diberikan, makanya aku tidak terlalu antusias untuk masuk. Tapi apa yang aku temukan sangat membuatku kaget, di sekolahku aku terkenal sebagai ‘anak berandalan’ dan selalu ikut ‘nongkrong’ sepulang sekolah. Tapi bukan itu yang paling parah, yang paling parah adalah bagaimana aku yang mencoba mendekati teman sebayaku malah dijauhi layaknya seseorang yang mengidap penyakit menular.

Tapi untungnya sekarang sudah ada yang mau mendekatiku, walau hanya sekedar bertanya waktu atau tugas dari guru, aku pikir itu adalah sebuah kemajuan!.

***

Beberapa bulan sudah terlewati semenjak hari itu, dan percaya atau tidak, ingatanku masih belum pulih. Sementara di sekolahku aku mulai jauh dari kesan ‘anak berandalan’ yang dulu pernah kudapatkan.
Kalau dipikir baik-baik amnesiaku ini bias dibilang sebagai berkah dalam musibah, walau aku harus lupa hampir seluruh ingatan lamaku, tapi aku diberi kesempatan untuk mengulang kembali hubungan sosialku dari awal. Sekarang aku mencoba memanfaatkan kesempatan yang datang ini dengan maksimal, setiap hari aku belajar yang rajin. Mengingat perilaku kedua orangtuaku yang sangat khawatir padaku saat aku pertama bangun, aku jadi berpikir bagaimana kalau aku masih berhubungan dengan ‘anak-anak berandalan’ yang hobinya melukai diri sendiri dan orang lain. Tentu orangtuaku akan memarahiku dan menasihatiku agar tidak ikut yang seperti itu lagi.

Tapi bukan itu masalahku sekarang. Akhir-akhir ini aku sering mengalami sakit kepala sebelah di saat-saat tertentu, misalnya ketika aku makan di kantin sekolahku, aku selalu sakit kepala sebelah saat aku melihat ke suatu tempat yang tidak diduduki oleh siapapun.

Usut punya usut, selidik punya selidik, tempat itu dulu pernah diduduki olehku saat aku masih terkenal sebagai salah satu ‘pentolan’ di sekolahku. Makanya kupikir sebentar lagi ingatanku akan segera kembali.
Nah itulah masalahku, aku takut bilamana ingatanku kembali, aku akan kembali menjadi aku yang dulu, aku yang berandalan, aku yang suka menindas teman-temanku yang sekarang.

Maka disinilah aku sekarang, di depan cermin di kamarku lagi, sedang memikirkan apa yang akan terjadi padaku nanti. Kalau menurutku ada dua kemungkinan. Yang pertama ingatanku akan kembali, begitu pula kepribadianku yang lama.

Yang kedua dan yang aku harapkan, ingatanku kembali, tapi sifatku tetap yang sekarang. Jujur saja, aku tidak suka, bahkan sangat membenci diriku yang dulu dan seluruh tindakan yang pernah kulakukan dulu.
Andai saja ada seseorang yang mau kulimpahkan permasalahan di kepalaku ini, aku dengan senang hati akan memberinya berbagai macam ucapan terimakasih.

Mungkin Tuhan memang benar-benar mendengar permintaanku, karena saat itu juga kakakku baru pulang dari kelas kuliahnya, maka kucoba bertanya pada kakakku.

“Kak, aku sedang ada masalah.” Sebuah kalimat yang sangat ‘simple’ kuucapkan pada kakakku. Aku juga tidak berharap kalau ia mau menjawabku, kalau tidak salah memang begitu sifatnya, tidak suka diganggu.

“Hm? Masalah apa Han? Kalau kakak bisa bantu kakak bantu deh.” Sekarang aku sedikit bingung dibuatnya. Ada apa dengan kakakku yang tidak suka diganggu? Awalnya aku berniat berkata begitu, tapi karena ini merupakan kesempatan langka, aku tidak akan menyia-nyiakannya.

“Aku bingung, sudah ada tanda-tanda kalau ingatanku akan kembali, tapi aku malah takut aku akan kembali menjadi aku yang dulu. Apakah itu hal yang normal?” tanpa basa-basi aku mengutarakan masalah yang kuhadapi saat ini.

“Ho. Jadi kau lebih nyaman sebagai kau yang sekarang?”

“Ya.” Aku menjawab dengan cepat. Tapi entah kenapa ada perasaan mengganjal di hatiku saat aku mengucapkan kata itu.

“Sebenarnya tidak ada masalah kalau kau lebih menyukai kau yang sekarang daripada kau yang dulu. Sejujurnya akupun lebih suka kau yang sekarang daripada kau yang suka melawan orangtua, pulang malam, pergi tidak jelas kemana seperti dulu. Kau yang sekarang seperti sebuah bayi yang baru lahir, bersih dari kesalahanmu yang dulu.”

“Tapi itu tidak mungkin, kita tidak akan bisa melupakan hal yang pernah kita lakukan, baik yang buruk maupun yang baik. Yang baik akan menjadi modal kita menghadapi masa depan, yang buruk akan menjadi pengingat kita terhadap kesalahan yang pernah kita lakukan sehingga kita bisa memperbaiki itu dan menjadi lebih baik.” Balasku panjang lebar

“Cukup filosofis untuk orang sekelas dirimu.” Merupakan balasan pendek kakakku. Dasar kurangajar, aku sudah membalas panjang lebar, ia hanya membalas dengan sebuah kalimat yang bahkan tidak ada hubungannya dengan masalahku.

“Kita keluar permasalahanku Kak, jadi apa yang harus kulakukan?” ia tampak berpikir sebentar, terlihat dari posisi tangannya yang ada di dagunya dan alisnya yang sedikit dikerutkan. Kuharap jawaban kakakku bisa menyelesaikan masalahku, atau setidaknya bisa membuka jalan pikiranku agar aku bisa menyelesaikan masalahku ini sendiri.

“Kalau ingatanmu kembali, jadi atau tidaknya kau kembali ke kepribadian lamamu tergantung pada dirimu sendiri. Apakah kau mau kembali jadi kau yang dulu atau tidak. Bukankah kau masih tetap jadi kau yang sekarang tapi hanya dilengkapi dengan ingatanmu yang dulu?”

Hanya ada keheningan selama beberapa saat ketika ia selesai mengatakan kalimat itu, aku berpikir keras terhadap jawabannya. Memang benar aku tetap akan jadi aku yang sekarang dengan ingatan masa laluku, tapi semakin kesini aku semakin tidak ingin mengingat masa laluku sama sekali.

“I-itu benar.” Jawabku terbata-bata. Saat kulihat ekspresi wajah kakakku, ia hanya tersenyum.

“Masalahmu sudah selesai kan? Sekarang aku mau keluar dulu. Ada urusan sebentar.” Maka ia keluar dari kamarku. Setelah beberapa saat terdengar suara deru motor menandakan kepergian kakakku.

Kupandangi refleksi diriku di cermin. Heh, jadi tidak apa-apa ingatanku kembali, asal aku tidak ada keinginan untuk kembali menjadi diriku yang dulu. Diam-diam kau sangat bijak kak. Tapi tak lama kemudian masalah baru muncul di pikiranku.

Bagaimana kalau teman-temanku mejauhiku saat aku mengingat masa laluku nanti?

Baru saja aku menyelesaikan satu permasalahan, sudah datang permasalahan yang lain. Akupun bingung, kakak sudah pergi, dan keadaan di rumah sudah menjadi kosong seperti tadi, tidak ada siapa-siapa di rumah. Sial.

Saat itulah ibuku datang, sepertinya ia baru saja pulang dari belanja-belanja tidak pentingnya. Seperti biasa ia mengecek keadaanku setiap harinya.

“Farchan, bagaimana kondisimu? Apa sudah ada sesuatu yang diingat?” seperti biasa pula ibuku menanyakanku dua pertanyaan itu. Kali ini aku memutuskan untuk jujur soal keadaanku.

“Ma, Farchan sepertinya ingat sesuatu, tapi Farchan takut nantinya teman-teman Farchan meninggalkan Farchan karena Farchan ingat masa lalu Farchan.” Ibuku tampak berpikir sebentar, lalu tersenyum.

“Farchan sayang, kalau teman-temanmu itu bisa dibilang teman, maka mereka akan tetap disampingmu walau kau kembali mejadi dirimu yang dulu.”

Wow……

Aku tak menyangka ibu merupakan seorang yang bisa memberi saran, mengingat kebiasaannya yang hobi belanja tidak jelas.

Tapi ibuku benar, kalau mereka temanku tentu mereka akan tetap menjadi temanku walau aku mengingat masa laluku.

“Ma, Farchan mau tanya, Mama lebih suka Farchan yang dulu atau yang sekarang?” aku bertanya pada ibuku.

“Jelas kamu yang sekarang.” Ibuku menjawab dengan mudahnya. Ho, sepertinya aku yang sekarang lebih banyak disukai oleh keluargaku. Aku tidak tahu opini keluargaku tentang aku yang dulu, tapi kalau mereka lebih suka aku yang sekarang, maka aku semakin tidak ingin kembali menjadi aku yang dulu.

“Tapi ingatlah ini Farchan. Kau yang dulu, kau yang sekarang, tetaplah anak Mama, jelas Mama tidak akan lebih menyukai siapa atau tidak menyukai siapa.” Tanpa sadar aku tersenyum. Apa yang dikatakan ibuku ada benarnya, aku yang dulu, aku yang sekarang, tetaplah diriku.

Maka disinilah aku, di depan sebuah cermin di kamarku sedang berdiri melihat refleksi diriku sendiri. Aku adalah aku, tak peduli yang dulu atau yang sekarang. Terimakasih Kak, Ma, karena telah menyadarkanku tentang hal ini.

***

-Fin-

***

*cerita ini hanya fiktif belaka, bukan pengalaman pribadi penulis, dan kesamaan nama, tempat, maupun cerita semata kebetulan belaka. Tautan cerita : Reflexio

1 KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.