BAGIKAN
© DARLING in the FRANKXX - Trigger & A-1 Pictures Production Committee

Peringatan: Artikel ini mungkin mengandung beberapa spoiler dari anime DARLING in the FRANXX (sampai episode ke-13) dan Neon Genesis Evangelion

Awal tahun 2018 turut diramaikan dengan anime mecha kolaborasi antara studio Trigger dan A-1 Pictures/CloverWorks* berjudul DARLING in the FRANXX (Darlifra). Di bawah arahan jebolan studio GAINAX Atsushi Nishigori (sutradara The iDOLM@STER dan desainer karakter Gurren Lagann), anime ini ternyata memunculkan reaksi beragam. Drama dalam hubungan antar pribadi karakter-karakter pilotnya membuat sebagian penonton bersimpati kepada mereka (lihat reaksi di media sosial terhadap episode 11, misalnya), namun di sisi lain ada juga yang mengeluhkan drama karakter tersebut membuat anime ini terlalu “baper” untuk sebuah kartun robot-robotan.

Suka atau benci pada karakter menunjukkan kepedulian yang tinggi dari penonton kepada karakter-karakternya (©DARLING in the FRANXX Production Committee)

Hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi anime mecha (Galbraith (2014) menceritakan bahwa seri Mobile Suit Gundam di tahun 1979 awalnya dicemooh oleh penggemar fiksi ilmiah garis keras di Jepang karena terlalu menonjolkan melodrama dalam hubungan antar karakternya), namun Darlifra dapat mengolah kontennya dengan mengena bagi penonton masa kini. Dalam kesempatan ini, saya hendak menelaah unsur-unsur yang dihadirkan dalam anime Darlifra, untuk memikirkan posisi anime tersebut dalam rangkaian sejarah anime mecha, dan apa yang bisa dipahami darinya. Sebelumnya harap diingat bahwa saat saya menulis opini ini, saya baru menonton anime ini hingga episode ke-13.

Baca dulu: Winter 2018 Anime: DARLING in the FRANXX

Sistem Antarmuka Mecha yang Emosional

© Trigger x A-1 Pictures · DARLING in the FRANKXX Production Committee

Dari awal diumumkannya proyek anime ini, unsur yang nampak menonjol sebagai ciri khas DARLING in the FRANXX adalah konsep dari mecha yang digunakannya (FRANXX). Pertama, desain dari mecha-nya menyerupai karakter bishoujo (gadis cantik); kedua, kendali mecha-nya dilakukan oleh sepasang pilot laki-laki dan perempuan dalam posisi yang terkesan seksual. Lebih lanjut, pasangan pilotnya disebut sebagai “stamen” dan “pistil” (alat kelamin tumbuhan) dan mecha-nya dinamai dengan nama-nama bunga.

Skenario ini langsung mengingatkan pada komentar Thomas Lamarre (2009) yang menyebutkan bahwa secara berangsur, sistem antarmuka (interfacemecha semakin lama semakin berciri “feminin.” Yang dimaksud adalah, kendali mecha tidak lagi bergantung pada kendali fisik semata, tapi menuntut adanya koneksi empatik dengan emosi dan perasaan, yang oleh masyarakat lazim dianggap sebagai karakteristik “feminin.” Pada titik ekstrim, koneksi antara mecha dan pilotnya bahkan memiliki konotasi biologis; seperti sosok ibu dan janin. Hal ini nampak paling jelas dalam Neon Genesis Evangelion, di mana cairan LCL yang mengisi kokpit pilot Evangelion dideskripsikan menyerupai air ketuban, dan Evangelion itu sendiri merupakan konstruksi bio-mekanis.

Posisi yang bukan tanpa makna (©DARLING in the FRANXX Production Committee)

Dalam Darlifra, kelancaran kendali FRANXX dipengaruhi oleh kesesuaian pasangan pilotnya dengan satu sama lain. Hal ini menuntut pasangan pilot untuk berkoordinasi dan mengkomunikasikan perasaan mereka dengan satu sama lain. Ditambah dengan usia remaja para pilotnya yang membuat emosi dan perasaan mereka banyak bergejolak, model sistem antarmuka mecha seperti ini jelas akan menonjolkan hubungan hubungan antar karakter beserta dramanya. Dan penekanan itu semakin menarik untuk ditelaah ketika mengingat setting pasca-apokalips dari Darlifra. Sistem antarmuka ini membawa konflik emosional dalam hubungan antar karakter pilot terpapar langsung kepada pertarungan-pertarungan yang mempertaruhkan nasib dunia manusia. Hal ini membawa kita kepada genre sekaikei.

Halaman selanjutnya: Dunia Gersang Sekaikei