BAGIKAN
© Koichi Nitori/Media Works Bunko

“Itu adalah hal yang aneh. Di momen itu, dunia mulai berkilau, menjadi suatu yang indah. Bahkan indahnya sampai membuat kaget. Langit, bumi, bunga dan semuanya. Waktu kita di dunia ini, sebenarnya sangatlah pendek. Merasakan sesuatu yang punya batasan seakan bisa melihat wujud asli dunia untuk pertama kalinya. Dan juga… Hatiku sendiri.”

Nagi, Hal. 195


Cover buku (© Koichi Nitori/Media Works Bunko/Dok. Pribadi)

Setelah sekian lama saya tidak menulis review atau ulasan karena padatnya jadwal saya akan banyaknya ujian, kali ini saya akan membayar dengan ulasan novel ringan karya Koichi Nitori. Bagi yang belum kenal Koichi Nitori, dia adalah seorang penulis yang sempat memenangkan lomba novel yang diselenggarakan oleh Dengeki, yang bernama Dengeki Shousetsu Taishou. Dan memulai debut novelnya di bawah publikasi Dengeki yang kemudian melebarkan sayapnya ke Media Works Bunko yang masih satu perusahaan dengan Dengeki. Karya yang paling terkenal di antaranya adalah seri novel “Omachishiteimasu Shitamachi Wagashi Kurimarudou” yang diterbitkan oleh Media Works Bunko.

Advertisement Inline

Novel yang saya ulas kali ini adalah novel yang berjudul “Kono Shuumatsu, Bokura wa 100-nichi Dake no Koi wo Suru“. Novel ini dirilis pada 22 Desember 2017, dengan shimano (Kimi to Itai, Kuchihateru Made) sebagai ilustratornya. Novel ini memiliki 290 halaman yang terbagi dalam 5 bab.

Sinopsis

Diambil dari sinopsis buku:

Diriku saat kelas 2 SMA, aku jatuh hati pada pandangan pertama. Seorang gadis yang sangat berbanding terbalik dariku, tenang dan memiliki daya tarik yang misterius, hingga diriku menyatakan perasaanku, dan dengan mudahnya ditolak.

Satu tahun setelah kami lulus. Gadis itu tiba-tiba muncul di depanku dan mengucapkan sesuatu seperti takdir.
「Hanya 100 hari, apakah kita bisa tinggal bersama?」

Kami berdua, di bawah atap yang sama memulai hidup bersama.  Semakin waktu berjalan, kami berdua semakin dekat. Tetapi,  sang gadis memiliki sebuah rahasia yang sangat besar──.

Secara garis besar, novel ini berkisah mengenai dua karakter yaitu Yuuki dan Nagi dalam menjalani hidup bersama selama 100 hari. Di dalam perjalanan 100 hari itu, mereka memulai kisah cinta yang sebelumnya tidak dapat bisa dimulai, dan mengungkap sebuah rahasia mengapa banyak orang hilang tanpa jejak yang mulai terjadi pada empat tahun yang lalu. Dari sinilah, Yuuki dan Nagi mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada orang yang hilang tersebut.

Ulasan

© Koichi Nitori/Media Works Bunko
© Koichi Nitori/Media Works Bunko

+ Ilustrasi indah disertai dengan bahasa yang sederhana

Bisa dilihat dengan ilustrasi cover bahkan sampai ke dalamnya sederhana dan indah, itu terjadi dengan setiap kalimat di novelnya. Karena bahasanya yang sederhana itu tak terasa kita sudah sampai akhir halaman dari cerita yang ada di dalam novel. Bahkan kalian dengan membaca novel ini kalian akan merasakan perasaan campur aduk antara senang dan sedih ketika membaca novel ini.

+ Character development yang menarik.

Penggambaran dua tokoh utama dalam novel ringan ini sangat mendalam. Baik Nagi dan Yuuki, mereka memiliki keunikkan masing-masing. Seperti, Yuuki yang tampangnya seperti anak berandalan namun di dalamnya memiliki hati yang lembut dan baik kepada setiap orang, meskipun dia sedikit cengeng. Atau, seperti Nagi, gadis sederhana yang tampangnya pendiam namun dibalik semua itu dia adalah seorang gadis yang memiliki berbagai ekspresi, periang, dan penyayang.

+ Hidup itu perlu dihargai dan dijalani dengan sepenuh hati

Yap, kebiasaan saya karena menemukan tema novel yang berhubungan dengan hidup dan juga buat perasaan menyentuh.  Kouichi sendiri menerangkan persepsi akan hidup melalui karakter Yuuki dan kasus yang terjadi pada novel tersebut, di mana mereka menghilang tanpa jejak dan tak pernah kembali. Bahwa kita hidup demi orang yang kita kasihi, bahkan kenangan jauh lebih penting dibanding usia yang tak seberapa nilainya. Saya bahkan setuju sekali dengan persepsi, apa artinya hidup kalau kita tidak memiliki kenangan berharga atau orang yang kita kasihi, kan? Terasa hampa pastinya.

± Romansa yang sedikit kurang namun cukup

Interaksi romansa antara Yuuki dan Nagi bagi saya merupakan hal yang penting karena romansa ini menjadi jalur perkembangan karakter mereka berdua, namun sayangnya romansa sedikit kurang disajikan dalam cerita ini. Namun ketika ada adegan romansa yang nampak dalam novel ini, akan membuat hatimu berdeguk kencang. (Kalau untuk kasus saya, saya senyum-senyum sendiri).

Kesimpulan

“Kenapa Media Works selalu menyajikan novel ringan yang bagus ceritanya?”

Itu merupakan pikiran saya setiap membaca novel dari Media Works, meskipun tak menutup kemungkinan banyak novel yang jauh lebih bagus dari publikasi lainnya. Baik itu Shueisha, Futabasha, Sneaker Bunko, dan lain-lain. Dalam hal romansa di dalam novel ini entah saya yang merasa kurang atau dari saya sendiri karena belakangan sering membaca Web Novel shoujo isekai yang penuh kadar romansa tingkat atas.

Namun, apa pun yang terjadi novel ini sangat saya rekomendasi untuk kalian yang menikmati novel satuan dengan karakter yang sedikit namun kaya akan perkembangan karakternya. Kalau saya sempat saya akan membahas Web Novel “Konyakusha wa, Watashi no Imouto ni Koi wo Suru”. Sampai jumpa!

KAORI Newsline | Oleh Widya Indrawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.