Pernahkah Anda merasa tidak nyaman karena Fate/Stay Night berasal dari sebuah eroge, atau pernahkah Anda berfikir bahwa Koikatsu hanyalah game pornografi? Jika pernah, selamat, kalian telah terjerumus ke dalam kesalahan persepsi tentang game dewasa. Yap, pola pandang seperti yang penulis contohkan di atas semuanya adalah beberapa contoh kesalahan persepsi terhadap game dewasa Jepang. Kali ini penulis akan mencoba untuk membahas persepsi yang telah mengakar di sekitar game-game dewasa Jepang tersebut.

Tentu, tidak salah untuk berpikir bahwa game dewasa adalah game yang menawarkan dan berfungsi sebagai pemuas birahi, karena memang banyak game dewasa yang hanya dimainkan untuk memuaskan birahi. Namun, kita harus melihat lebih dekat lagi sebelum kita memutuskan untuk berpikir bahwa suatu game dewasa hanyalah berfungsi sebagai pemuas birahi semata. Novel visual eroge seperti Fate/Stay Night, Muv-luv Alternative, Cross+Channel, dan Wonderful Everyday atau game dewasa tiga dimensi populer seperti seri Custom Maid 3D, Koikatsu, dan AI Shoujo adalah beberapa contoh di mana judul game dewasa tidak berarti hanya menjadi pemuas birahi.

Advertisement Inline
MUSICUS! (ⓒ Overdrive)

Di dalam dunia novel visual, terdapat dua istilah untuk menyebut novel visual yang memiliki adegan seksual, eroge (salah satu jenis novel visual dengan tambahan unsur dewasa) dan nukige (sebuah novel visual yang unsur utamanya adalah unsur dewasa). Eroge merupakan istilah yang memiliki makna luas, yakni segala game yang memiliki adegan seksual. Tetapi untuk ranah novel visual istilah eroge merujuk kepada novel visual yang tujuan utamanya adalah cerita, namun memiliki adegan seksual sebagai fanservice ataupun plot-device. Hampir semua novel visual yang masuk ke dalam kategori eroge memiliki presentase adegan seksual yang sangat minim dibandingkan dengan jumlah total teks cerita. Sebagai contoh, dalam eroge MUSICUS!, adegan seksual hanya terdapat di akhir rute untuk kepentingan fanservice dan berlangsung tidak lebih dari 30 menit dari total cerita yang memiliki durasi lebih dari 35 jam. Karena itu ada istilah nukige, yang merujuk merujuk kepada novel visual yang hanya ditujukan untuk memuaskan birahi pembaca.

Custom Maid 3D 2 (ⓒ KISS/Twitter @jjtahiti1)

Selanjutnya beralih kepada game dewasa tiga dimensi yang dalam hal ini penulis akan membatasi konteks pada game dewasa populer seperti Koikatsu dan seri Custom Maid atau game dewasa tiga dimensi lainya yang memiliki fitur serupa, di mana kita dapat menemukan kesalahpahaman paling banyak. Hal ini menjadi lebih kompleks lagi karena tidak adanya istilah-istilah khusus seperti eroge dan nukige dalam ranah novel visual yang dapat menjadi penanda yang jelas. Memang, salah satu fitur utama dalam game-game tersebut adalah untuk memuaskan birahi. Namun, yang menjadi poin penting adalah bahwa game-game tersebut tidaklah hanya berfungsi sebagai pemuas birahi. Terdapat fitur utama lainnya di dalam game-game tersebut, yakni character creator dan studio mode. Character creator adalah sebuah mode di mana player membuat karakter sesuai dengan keinginan sang player, dan studio mode adalah mode di mana player dapat dengan bebas menciptakan diorama atau scene sesuai dengan imajinasi dan keinginan sang player dengan karakter yang telah dibuat dalam character creator. Hasil kreasi dari studio mode nantinya akan berupa visual art atau animasi.

Koikatsu (ⓒ ILLUSION/Twitter @wind233333)

Kedua fitur tersebut merupakan fitur yang memberikan arti lebih bagi game-game tersebut untuk tidak hanya menjadi game yang memuaskan birahi, namun juga menjadi sebuah alat untuk mengekspresikan kreatifitas. Fitur yang disediakan dalam character creator dan studio mode memungkinkan individu yang tidak memiliki kemampuan untuk mengambar atau 3D modeling untuk menciptakan karakter atau karya visual mereka masing-masing, baik itu bersifat seksual atau non-seksual. Kalian dapat menemui banyak kreasi indah dan keren yang dibuat dari studio mode game-game tersebut apabila kalian mencari hashtag masing-masing game di Twitter, atau ketika kalian masuk ke dalam komunitas dari masing-masing game.

Tentu, terdapat banyak juga kreasi yang bersifat seksual, namun hal tersebut sepenuhnya bergantung pada bagaimana pemain menggunakannya. Sehingga tidak menjadi pembenaran untuk melabeli game-game tersebut secara negatif hanya karena game-game tersebut memiliki fungsi ataupun pernah dipakai untuk menciptakan sesuatu yang dianggap immoral atau kotor. Menggunakan logika yang sama, maka hampir semua software atau aplikasi yang digunakan untuk menciptakan ilustrasi bersifat pornografi karena aplikasi tersebut dapat dipakai untuk menciptakan karya pornografi oleh orang lain. Logika tersebut tentu salah, karena sebuah alat hanyalah alat. Bagaimana kita memaknai alat tersebut sepenuhnya bergantung dari bagaimana kita menggunakanya. Maka, untuk berpikir bahwa game-game seperti Koikatsu atau seri Custom Maid tersebut hanyalah game pornografi untuk memuaskan birahi adalah pandangan sempit dan merupakan sebuah miskonsepsi. Karena pada faktanya game-game tersebut dapat dan telah digunakan untuk menciptakan karya-karya non-seksual yang indah dan keren.

Banyak orang yang masih memandang rendah karya yang diciptakan dari game-game tersebut, meskipun karya yang diciptakan bersifat non-seksual. Hal tersebut tercipta karena adanya miskonsepsi yang mengatakan bahwa game tersebut hanyalah game pornografi. Miskonsepsi datang dari ketidaktahuan seseorang terhadap sesuatu, dan miskonsepsi dapat menciptakan sebuah problema. Dan benar saja, seluruh orang yang memegang miskonsepsi tersebut adalah mereka yang tidak pernah mencoba game tersebut sama sekali. Ketika kita memandang rendah hasil karya usaha seseorang yang dibuat melalui Koikatsu atau seri Custom Maid karena miskonsepsi yang kita miliki pada game-game tersebut, kita tidak hanya memandang rendah game-game itu sendiri, namun kita juga memandang rendah dan tidak menghargai usaha dan karya orang tersebut. Hal tersebut merupakan sebuah problema.

Banyak media barat yang juga memiliki adegan seksual di dalamnya dianggap sebagai sesuatu yang normal dan bukan merupakan sebuah pornografi. Namun, ketika merujuk kepada media Jepang yang memiliki unsur seksual di dalamnya, dengan cepat miskonsepsi tentang media tersebut sebagai pornografi secara cepat masuk ke dalam pikiran masyarakat. Miskonsepsi tersebut seringkali disebabkan oleh penggunaan kata hentai oleh media-media untuk menyebut game-game dewasa tersebut. Kata hentai dalam penggunaan popular sering merujuk kepada sesuatu yang hanya berfungsi untuk memuaskan birahi. Sehingga banyak orang yang mengira game-game dewasa Jepang sudah pasti merupakan hentai, padahal kenyataanya tidak.

Penulis telah menuliskan mengenai eroge dan game-game seperti Koikatsu atau seri Custom Maid, dan mengapa game-game tersebut tidaklah cocok untuk disebut sebagai game hentai dalam artian hanya untuk memuaskan birahi. Penulis tidak meminta para pembaca untuk mengubah artian “dewasa” game-game dewasa tersebut. Penulis hanya meminta pembaca untuk tidak hanya melihat game-game tersebut secara negatif dari satu sisi. Eroge merupakan media cerita yang sangat kuat, dan game-game tiga dimensi seperti Koikatsu dan seri Custom Maid juga bisa menjadi media untuk mengekspresikan kreatifitas. Ketika kalian berpikir game-game tersebut sebagai sekedar game untuk memuaskan birahi, mungkin kalian perlu membuka mata lebih lebar lagi.

Tentu masih banyak yang ingin penulis sampaikan, dan penulis hanya menulis secara singkat mengenai game-game dewasa tersebut dalam artikel ini. Namun, penulis berharap dengan tulisan ini, miskonsepsi mengenai game-game dewasa tersebut dapat berkurang.

Ditulis oleh Danang Regalo Venezuela | Artikel ini adalah pendapat pribadi dari sang penulis dan tidak berarti merefleksikan kebijakan maupun pandangan KAORI Nusantara.

KAORI Nusantara membuka kesempatan bagi pembaca untuk menulis opini tentang dunia anime dan industri kreatif Indonesia. Opini ditulis minimal 500-1000 kata dalam bahasa Indonesia/Inggris dan kirim ke halo@kaorinusantara.or.id

1 KOMENTAR

  1. ngl rasanya sih nukige yang lebih maju belakangan ini. Rasanya sih kurang lengkap kalau nggak ngomongin tentang RPG Maker nukige yang belakangan ini popular di Steam dan DLSite. Saking majunya MangaGamer juga ikutan padahal mereka dulu cuma nge-translate Visual Novel aja.

    Koikatsu sama Custom Maid 3D emang besar juga sih, sampai masuk di Steam dan rasanya 40% dari Pixiv sekarang itu fanart dibuat dari Koikatsu dan sejenisnya, tapi kalau nukige sih banyak fokusnya sekarang di game RPGM Maker karena mungkin lebih gampang translasi-nya mengingat formatnya standar RPGM dengan text yang gampang di-akses dan konten nggak terlalu banyak.

    Genre yang popular untuk nukige RPGM yang sering ditranslasi itu Female-MC dengan corruption elemen di mana awalnya FeMC tersebut nggak mau tapi setelah corruption naik antara jadi mau atau nyerah dengan aksi yang dulunya nggak mau. Genre lain ada, tapi ini yang jadi perhatian translator amatir (yang sering pakai Machine Translation) atau RPGM translator legal seperti Kagura Games. Kadang ada juga yang fangame seperti untuk Touhou dan Fate, tapi itu biasanya amatir yang translasinya, nggak di-release resmi. Dan ada juga yang kreasi orisinil dari tim amatir internasional/English-speeking yang sering di-share di forum-forum sharing game-game ini. Di luar kedua itu sih kadang ada yang emang mau kayak Visual Novel dengan emphasis cerita yang besar, kayak Monster Girl Quest: Paradox, tapi jarang hitungannya.

    Secara gameplay biasanya sih basic- kalau kalah ada H-scene, tapi kadang ada bonus kalau misalnya 0% corruption dan biasanya juga ada H-scene yang nggak perlu kalah untuk ngelihatnya. Combat biasanya attack attack attack tapi beberapa ada yang minta grinding sama pakai skill yang bener juga seperti MGQ: Paradox dan Elise the Devil. Keseringan balance-nya nggak bagus karena emang hitungannya effort-nya bukan ke arah situ.

    Overall menurut aku trend untuk RPGM Nukige ini nggak bakalan mati dalam waktu dekat mengingat ada beberapa forum yang berdedikasi untuk RPGM, banyak yang bisa dibeli dengan harga murah di-Steam, gampang untuk ditranslasi dan lisensi, lalu juga to-the-point ke dalam content H jadi sangant accessible dari sisi pembaca, translator, dan developer. Menurut aku sih RPGM itu jadi contoh yang lebih tepat untuk nukige dan harusnya paling nggak di-mention karena sudah besar juga di English community ketimbang dulu pas masih hanya dijual di DLSite aja tanpa banyak translasi legal atau amatir.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.