BAGIKAN

fujoshi 1

Di dalam fandom anime dan manga, dikenal suatu golongan yang disebut sebagai fujoshi. Yang dimaksud dengan fujoshi adalah penggemar perempuan yang menggemari kisah-kisah yang menggambarkan hubungan intim antara karakter cowok, yang sering disebut sebagai boys’ love (BL) atau yaoi. Sebagai bagian dari fandom anime dan manga, ternyata fujoshi masih sering salah dimengerti oleh penggemar lain yang minatnya berbeda. Berikut adalah lima mitos mengenai fujoshi yang tidak sesuai dengan kenyataan yang dapat diamati baik di Jepang maupun di Indonesia.

Mitos 1: Semua perempuan yang menggemari anime dan manga adalah fujoshi.

Kirino dari seri Oreimo, perempuan, suka anime dan manga, namun bukan fujoshi
Kirino dari seri Oreimo, perempuan, suka anime dan manga, namun bukan fujoshi

Ada perempuan yang tidak berminat pada BL dan yaoi dan kegemarannya terhadap anime dan manga lebih bersifat umum (Galbraith, 2011: 220). Dalam penelitian Patrick Galbraith mengenai otaku (2012), terdapat narasumber perempuan yang gemar mengoleksi berbagai macam figurin karakter (62-66), atau justru menggemari yuri (kisah romantis antara karakter cewek) dan bukannya BL/yaoi (136-140). Bahkan ada juga fujoshi yang move on dari kegemarannya terhadap BL dan yaoi karena kesibukan kerja atau rumah tangga (Galbraith, 2011: 227-228). Namun seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial saat ini, akses kepada konten BL/yaoi dan teman-teman sesama fujoshi menjadi semakin mudah dan memungkinkan terpeliharanya minat fujoshi sekalipun memiliki banyak kesibukan (ibid., 229).

Seorang fujoshi dari salah satu universitas ternama di Indonesia yang menjadi narasumber saya juga menceritakan bahwa di lingkungan komunitasnya terdapat penggemar anime dan manga perempuan yang buikan penggemar BL/yaoi, walaupun hanya sedikit. Dia juga menceritakan ada fujoshi yang berhenti dari dunia BL/yaoi karena desakan pacarnya, atau karena masuk rohis.

Mitos 2: Fujoshi tidak punya minat lain di luar BL/yaoi.

Terdapat juga fujoshi yang selain menggemari BL/yaoi, juga memiliki minat terhadap anime dan manga secara lebih luas. Salah satu narasumber penelitian Galbraith (2012: 110-116) adalah seorang perempuan yang mendeskripsikan dirinya sebagai “70% fujoshi, 30% otaku.” Selain mengoleksi dōjinshi (komik amatir yang dipublikasikan secara independen) bertema BL/yaoi, dia juga gemar mengumpulkan CD penyanyi dan seiyū populer Nana Mizuki, memiliki figurin karakter cowok dan cewek, dan telah memainkan game Tokimeki Memorial saat masih SD.

Fujoshi yang menjadi narasumber saya juga memiliki kegemaran beragam. Di antaranya gemar menonton Super Sentai, dan membaca berbagai macam buku seperti novel detektif, novel ringan bertema perjalanan seperti Kino’s Journey atau Spice & Wolf, hingga buku tentang travel. Di antara  fujoshi di komunitasnya juga ada yang menggemari grup-grup idola perempuan seperti Perfume dan Momoiro Clover Z, termasuk juga anime bertema grup idola Love Live! dan suka meng-cover lagu-lagu mereka.

Mitos 3: Fujoshi adalah fenomena baru.

tsubasa
Kapten Tsubasa: sumber inspirasi fujoshi generasi pertama

Penggemar BL dan yaoi di Jepang telah ada selama kurang lebih 40 tahun. Pelopor komik bertema BL pertama kali muncul di era 1970-an, seperti Thomas no Shinzō (The Heart of Thomas) karya Moto Hagio yang dimuat di majalah Shōjo Comic pada tahun 1974, dan Kaze to Ki no Uta (The Poem of Wind and Trees) karya Keiko Takemiya yang dimuat di majalah yang sama pada tahun 1976. Selanjutnya penggemar komik perempuan terinspirasi untuk menggambarkan hubungan intim antara karakter-karakter cowok dari anime populer dalam bentuk dōjinshi. Dan penggemar perempuan memang telah mendominasi keikutsertaan Comiket sejak perhelatan pertamanya di tahun 1975 (lihat juga artikel “Perempuan dan Yaoi dalam Budaya Dōjinshi Jepang”). Di era 1980-an, dōjinshi bertema yaoi berdasarkan serial anime seperti Kapten Tsubasa dan Saint Seiya marak beredar di Comiket dan menjadikan yaoi sangat populer. Membanjirnya dōjinshi yaoi di Comiket akibat popularitas seri-seri tersebut kemudian dikenal sebagai tren yaoi boom (Lam, 2010: 237).

Mitos 4: Fujoshi cuma suka cowok cantik (bishōnen).

1

Banyak seri komik dan animasi dengan karakter cowok berparas cantik (bishōnen) seperti Prince of Tennis, Kuroko no Basket, atau Free! yang digemari oleh fujoshi. Hal tersebut menimbulkan kesan bahwa fujoshi hanya menyukai karakter bishōnen. Namun, kenyataannya selera fujoshi cukup beragam. Ada yang menggemari tipe cowok kekar, atau tipe oyaji/ossan (om-om) (Galbraith, 2011: 222). Fujoshi yang menjadi narasumber saya menceritakan bahwa dia suka memasangkan Jigen dengan Lupin dari Lupin III. Di luar anime dan manga, dia juga suka memasangkan detektif karya Agatha Christie, Hercule Poirot dengan rekannya Hastings, dan memasangkan raja kurcaci Thorin dengan Bilbo dari The Hobbit. Sementara salah satu rekannya di komunitas yang menggemari tipe “ossan bersahaja,” karakter favoritnya adalah Shigeyuki Murakoshi dari Giant Killing dan Juichi Fukutomi dari Yowamushi Pedal.

fujoshi 3
Jigen dari Lupin III, Murakoshi dari Giant Killing, dan Fukutomi dari Yowamushi Pedal.

Kalau diperhatikan juga, Yowamushi Pedal yang saat ini juga populer di kalangan fujoshi sebenarnya desain karakternya kebanyakan tidak bishōnen. Dan kalau melihat kembali sejarah yaoi boom di era 80-an, Kapten Tsubasa sebagai pemicunya memiliki desain karakter yang lebih ke gaya kartun sederhana. Sementara Slam Dunk yang juga banyak dibuat dōjinshi yaoi-nya di era 1990-an (Thorn, 2004: 172), desain karakternya lebih “realistis” dan “macho.”

Sumber inspirasi fujoshi juga tidak hanya karakter dari cerita fiksi atau manusia, tapi juga hal-hal yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Fujoshi bisa menjadikan mobil dengan jalan sebagai pasangan yaoi, atau bahkan memasangkan ombak dan pendayung perahu dalam lukisan Ombak Besar di Lepas Pantai Kanagawa karya Hokusai (Galbraith, 2011: 226-227).

fujoshi 4
Imajinasi tanpa batas.

Mitos 5: Semua yaoi isinya eksplisit dan tidak ada plotnya.

Penggambaran hubungan intim antar karakter cowok dalam cerita BL atau yaoi tidak selalu berarti menampilkan hubungan seksual yang eksplisit. Ada yang menggambarkan hubungannya hanya sekedar berpegangan tangan (Galbraith, 2011: 212), menunjukkan rasa canggung dan ragu-ragu, atau meninggalkan isyarat-isyarat adanya hubungan seksual tanpa menggambarkannya secara langsung (Thorn, 2004: 172). Pengamat komik Matthew Thorn (ibid) juga menyebutkan bahwa beberapa cerita yaoi yang lebih baru digarap dengan dengan plot yang lebih berisi dan panjangnya bisa berjilid-jilid.

Dalam salah satu perhelatan pasar dōjinshi di Jakarta, yaitu Comic Frontier 5, narasumber saya menunjukkan beberapa dōjinshi bertema BL yang diperolehnya dalam acara tersebut, yang memang hanya sekedar menggambarkan hubungan dan tensi romantis di antara karakter-karakter cowoknya secara komedik. Dia juga menyebutkan komikus-komikus BL yang membuat karya-karya tanpa konten eksplisit seperti Kei Ichikawa, Asumiko Nakamura, Hideyoshico, dan masih banyak lagi.

fujoshi 5
Salah satu karya Kei Ichikawa tentang dua orang cowok yang berkenalan dari pulang pergi ke sekolah dengan kereta yang sama.

Penutup

Sebenarnya masih banyak hal menarik yang bisa dipelajari mengenai fujoshi. Hal-hal tersebut hanya bisa dipelajari jika mau berpikiran terbuka untuk mengenal dan bergaul dengan fujoshi dan hal-hal yang menjadi minat mereka, baik yang berhubungan dengan BL/yaoi, maupun di luar hal-hal tersebut.

Catatan

Secara definisi, boys’ love dan yaoi sebenarnya dapat merujuk pada dua hal yang berbeda. Namun pada prakteknya, kedua kata tersebut sering digunakan sebagai sinonim.

Referensi

  • Galbraith, Patrick W. Otaku Spaces. Seattle: Chin Music Press, 2012.
  • Galbraith, Patrick W. “Fujoshi: Fantasy Play and Transgressive Intimacy among “Rotten Girls” in Contemporary Japan.” Signs, Vol. 37, No. 1 (2011). Halaman 211-232.
  • Lam, Fan-Yi. “Comic Market: How the World’s Biggest Amateur Comic Fair Shaped Japanese Dōjinshi Culture.” Mechademia, Volume 5. Minneapolis: University of Minnesota Press, 2010. Halaman 232-248.
  • Thorn, Matthew. “Girls and Women Getting Out of Hand: The Pleasure and Politics of Japan’s Amateur Comics Community.” Kelly, William W. (editor). Fanning the Flames: Fans and Consumer Culture in Contemporary Japan. Minneapolis: State University of New York Press, 2004. Halaman 169-187. Dapat dibaca di http://matt-thorn.com/shoujo_manga/outofhand/.
  • Wawancara dengan narasumber pada tanggal 25 Desember 2014 serta diskusi dan pengamatan dalam acara Comic Frontier 5, 24 Januari 2015.

Sumber Gambar:

  • Genshiken.
  • Oreimo.
  • Kapten Tsubasa.
  • Lupin III.
  • Yowanmushi Pedal
  • Slow Starter.

KAORI Newsline |  Halimun Muhammad adalah pengamat sekaligus penikmat budaya pop kontemporer Jepang yang telah menempuh studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, menikmati sekaligus mencoba memotret kebudayaan anime dari perspektif akademis.

38 KOMENTAR

  1. “Mitos 1: Semua perempuan yang menggemari anime dan manga adalah fujoshi.”

    THIS!
    Sekarang makin banyak yang ngajakin kenalan tau-tau nanyain pairing favorit, pas dijawab pairing normal terus dengan syok dia nanya, “Masa sih nggak suka BL??”
    Lol. Maaf, nggak semua cewek suka BL.

  2. But on the other hand, I think being a fujoshi could lead to a better path, that is shaping a human being with high level of tolerance for another sexuality, gender, and other form of difference. Memang sih ada fujoshi yang kebangetan, in a sense like semua orang diekspos yaoi, suka nggak suka, dan segala macam pemaksaan pendapat dan kehendak. Tapi semua fandom toh punya orang macem begini, fujoshi or not. (jangankan fandom, just look at every other form or community). Media-media yaoi nggak selalu sehat juga, relationship yang didepict di sana kebanyakan hasil romantisisme dari rape culture, tapi bukan berarti jadi fujoshi nggak bisa membuka jalan ke sesuatu yang lebih positif. And yeah, most fujoshis are still an ordinary girl/women with ordinary life. I just hope more fujoshis could see which kind of yaoi is good to follow, and which kind of yaoi is only good to look at.

  3. – Fujoshi yeah, memang orang menganggapnya cewek busuk,
    – Tapi apa anda tahu? Fujoshi memang menyukasi hubungan antara dua cowok tapi apa anda tahu perbedaan yaoi dan shounen ai? Memang sama artinya diantara keduanya tapi berbeda ranting, yaoi memang mengarah lebih eksplisit sedangkan shounen ai lebih seperti manga shoujo umum, tidak berkonten eksplisit dan lebih menampilkan momen romantis, tergantung dari genre juga sih. BL adalah boys love, jenisnya ada 2, shounen ai dan yaoi, sama-sama hubungan antara dua cowok namun konten yaoi lebih dewasa.
    – TIDAK SEMUA FUJOSHI MENYUKAI COWOK CANTIK, malah saya juga suka menemukan bahkan teman sendiri menyukai cowok tampan dengan cowok tampan malah mereka ogah dengan cowok imut.
    – Semua yaoi isinya eksplisit dan tidak ada plotnya? Namanya juga yaoi pasti berkonten dewasa, kalau shounen-ai beda lagi. Sepertinya anda juga kurang menjelaskan jika fujoshi juga pasti menyukai shounen-ai. Tidak berplot? Tegantung genre, mungkin anda tak pernah baca. Apakah doujinshi hentai normal tidak ekplisit? berplot? Bukankah sama saja? lol, apakah anda pernah baca? jika anda laki-laki.
    – Semua perempuan yang menggemari anime dan manga adalah fujoshi. Anda salah, please, memang mereka ada yang fine aja melihat dua cowok bersama namun biasanya hanya sebatas shounen-ai yang dilihat dan pasti mereka tidak menyukai yuri, tapi jika cewek otaku benar2 membeci yaoi biasanya bisa2 mereka menjadi fujoshi kedepannya seperti kasus teman-teman saya sendiri atau menanggapinya biasa saja sih banyak yang seperti itu.
    – Tidak punya minal diluar BL? Anda salah, walau kami menyukai adegan romantis diantara dua cowok tapi bukan berarti kita tidak menyukai anime, manga, film yang normal, asal cerita tersebut bagus ya kami menyukainya. Tidak semua fujoshi seperti itu, intinya TIDAK SEMUANYA SEPERTI ITU.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.