BAGIKAN
KRL JR 205 di stasiun Bogor setelah selesai berdinas sebagai KA 1172
KRL JR 205 di stasiun Bogor setelah selesai berdinas sebagai KA 1172
KRL JR 205 di stasiun Bogor setelah selesai berdinas sebagai KA 1172

Laporan Khusus KAORI Nusantara membahas momen bersejarah pengoperasian KRL formasi 12 kereta di Jabodetabek.
Bagian 1: Akhirnya, KCJ Operasikan KRL Formasi 12 Kereta
Bagian 2: Yuk Intip Persiapan Prasarana Untuk Pengoperasian KRL Formasi 12 Kereta!
Bagian 3: Laporan Perjalanan: Malam Pertama Bersama KRL Formasi 12 Kereta

Pengoperasian KRL formasi 12 kereta (selanjutnya disingkat KRL sf 12) tidak luput dari kontroversi. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat seperti Asosiasi Penumpang Kereta (Aspeka) dan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyampaikan kekhawatiran mengenai pengoperasian KRL formasi 12 kereta . Hal ini karena prasarana (infrastruktur) yang dianggap belum memadai sehingga berpotensi membahayakan penumpang.

Untuk mengetahui seperti apa kendala sesungguhnya di lapangan, KAORI berkesempatan mencicipi KRL formasi 12 kereta pada jam sibuk (rush hour) dengan menaiki KA 1172 tujuan Bogor dari stasiun Universitas Indonesia. Laporan kali ini tidak hanya akan mengetengahkan kendala-kendala namun juga “sensasi” yang dirasakan oleh penumpang ketika mencoba KRL sf 12.

KRL sf 12 memasuki stasiun Universitas Indonesia.
KRL sf 12 memasuki stasiun Universitas Indonesia.
Advertisement Inline

Perjalanan dimulai ketika rangkaian 205-86F + 205-88F (NaHa H2 + H4) memasuki jalur 1 stasiun Universitas Indonesia (UI). Petugas di stasiun mengumumkan berkali-kali mengenai kedatangan KRL sf 12 dan peringatan bahwa dua kereta paling belakang (kereta 11 dan 12) tidak mendapatkan peron.

Terlambat sekitar 25 menit, pada pukul 17:11 KA 1172 memasuki stasiun UI. Ternyata kereta nomor 11 masih mendapatkan peron, sedangkan terlihat di stasiun UI kereta nomor 12 tidak mendapatkan peron. Perpanjangan peron untuk mengakomodasi kereta 12 tampak sedang dalam pengerjaan.

Kereta 12 tidak mendapatkan peron, sedangkan kereta 11 mendapatkan peron.
Kereta 12 tidak mendapatkan peron, sedangkan kereta 11 mendapatkan peron.

Di setiap pintu, terlihat petugas yang bersiap siaga (ada petugas pengawal KA/walka serta pegawai PT KAI Commuter Jabodetabek) yang menjaga pintu dan memastikan keselamatan penumpang. Sebelum pintu menutup dan membuka, mereka akan menghalangi penumpang yang berdiri di pintu, memastikan agar tidak ada orang yang terjatuh.

Walka yang menjaga setiap pintu di kereta 11 dan 12.
Walka yang menjaga setiap pintu di kereta 11 dan 12.

Memasuki kereta nomor 11 yang bergerak meninggalkan stasiun UI, sorak riuh segera terdengar ketika petugas pelayanan kereta (PPK) mengumumkan perhentian selanjutnya di stasiun Pondok Cina (POC). “Sekali lagi, kereta nomor 11 dan 12 tidak mendapatkan peron,” demikian ucapan petugas berkali-kali yang langsung disambut dengan yel-yel penumpang (sebagian besar wanita) pada saat itu.

“Pak, keretanya dapet peron dong!,” pinta seorang penumpang wanita kepada Walka. Menyadari bahwa KAORI akan turun di stasiun Bogor, inisiatif untuk bergeser langsung dipatahkan oleh para penumpang wanita.

“Banyak nih yang turun di Pocin, ada kali 50-an orang,” ucap sang ibu. Tidak punya pilihan lain, turun sejenak di stasiun Pondok Cina pun terpaksa dilakoni sekalian mencoba seperti apa rasanya turun di stasiun yang tidak mendapatkan peron.

Penumpang menyerbu untuk turun di stasiun Pondok Cina di emplasemen tanpa peron. Tampak Walka dan petugas PT KCJ yang membantu.
Penumpang menyerbu untuk turun di stasiun Pondok Cina di emplasemen tanpa peron. Tampak Walka dan petugas PT KCJ yang membantu.

KA 1172 memasuki stasiun Pondok Cina dan segera setelah pintu dibuka oleh PPK, luapan manusia tak tertahankan dan segera menyerbu turun. Terdorong turun menyebabkan KAORI berhasil mengabadikan momen di stasiun Pondok Cina ini. Cukup riskan.

Penumpang kereta 11 dan 12 yang turun di stasiun Depok Baru.
Penumpang kereta 11 dan 12 yang turun di stasiun Depok Baru.

Beranjak ke stasiun Depok Baru (DPB), kondisi sedikit lebih baik. Walka dan petugas PT KCJ meyakinkan penumpang bahwa kereta 11 akan mendapatkan peron di stasiun ini. Hasilnya, tidak terjadi chaos yang cukup signifikan di stasiun Depok Baru. Namun karena ujung kereta 12 langsung menghadap pasar, tetap ada risiko keamanan bagi para penumpang.

Setelah memastikan tidak ada masalah, PPK menutup pintu dan KA 1172 meninggalkan stasiun Depok Baru menuju stasiun Depok (DP). Di stasiun ini, terpantau penumpang yang turun tidak sebanyak yang turun di Pondok Cina maupun Depok Baru. Tidak ada aktivitas penumpang turun yang signifikan di stasiun Depok Baru.

Beramai-ramai menghindari kereta tanpa peron.
Beramai-ramai menghindari kereta tanpa peron.

Namun puncak baru akan terjadi berikutnya. Setelah pintu ditutup dan KRL meninggalkan stasiun Depok, muncullah ibu-ibu yang melakukan long march dari kereta khusus wanita menuju kereta 10 yang mendapatkan peron. Kondisi yang menghawatirkan namun tidak terlalu menyeramkan muncul karena rombongan ibu-ibu yang berteriak ke depan.

“Maju dong, bang!,” teriak seorang PNS paruh baya kepada seorang bapak yang berhenti di depannya.

“Gerbong 10 udah penuh, bu, sayanya juga nggak bisa kalau turun di sini,” jawab sang bapak.

Pengumuman PPK terus menerus berulang sampai warna stasiun Citayam yang khas dengan oranyenya tampak. Pintu pun dibuka dan sekali lagi, drama terjadi. Emplasemen yang lebih rendah dari stasiun Pondok Cina menyebabkan kesempatan puncak ini sekali lagi, membuat berdebar orang yang melihatnya. Petugas di stasiun membawa megafon untuk mengumumkan permohonan maaf.

Turun di stasiun Citayam.
Turun di stasiun Citayam.

“Mohon maaf, saat ini kami sedang meningkatkan pelayanan kepada penumpang,” sayup-sayup petugas pembawa megafon bercampur dalam riuh ramainya petang.

Setelah menghabiskan separuh penumpang, suasana mereda dan setelah PPK menutup kereta, KA 1172 melanjutkan perjalanan menuju stasiun Bojong Gede (BJD). Kali ini tidak ada persiapan maupun hal-hal khusus karena kereta 11 dan 12 telah cukup lowong. Di stasiun Bojong Gede, kereta 11 dan 12 mendapatkan peron.

Sepi setelah meninggalkan stasiun Citayam.
Sepi setelah meninggalkan stasiun Citayam.

Kereta melanjutkan perjalanan menuju stasiun Cilebut (CLT) dan tidak ada hal khusus yang terjadi di sini. Stasiun Cilebut mampu mengakomodasi seluruh kereta sehingga tidak ada kendala berarti. Demikian KRL melanjutkan perjalanan sampai akhirnya menjelang masuk stasiun Bogor, petugas meminta penumpang untuk bergerak ke depan.

KA 1172 memasuki jalur 2 stasiun Bogor tepat pukul 18:02 dan sesampainya di Bogor, diserbu oleh penumpang sehingga bangku kosong yang ada langsung terisi oleh penumpang.

Secara umum persiapan sudah cukup baik dan penumpang tampak kooperatif dalam mengantisipasi pengoperasian KRL formasi 12 kereta, namun mengingat risiko tinggi, alangkah baiknya bila perpanjangan peron dapat segera diselesaikan sehingga masalah seperti ini dapat segera teratasi.

KAORI Newsline | oleh Kevin W

4 KOMENTAR

  1. Sekadar info, sebenarnya sebagian besar stasiun mampu memuat 11 kereta kurang sedikit, karena kereta 11 seringkali hanya menggantung di luar peron pada pintu keempat, atau kadang malah kereta 11 dapat semua, dan kereta 12 ada satu dari empat pintu juga dapat peron

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.