BAGIKAN

Pada tahun 2016, saya tinggal di Australia selama satu tahun untuk menempuh pendidikan gelar ganda di salah satu universitas. Di Australia, saya mengalami banyak pengalaman baru, khususnya pengalaman menjadi penggemar budaya pop Jepang.

Saat saya kuliah di Australia, saya tidak mengira bahwa budaya pop jepang juga telah ‘menjajah’ para muda-mudi australia. Di negara kangguru, banyak sekali teman-teman saya yang ternyata juga penggemar budaya pop jepang. Event-event budaya jepang, baik pop maupun tradisional juga rutin diadakan di kota Melbourne, tempat saya tinggal.

Melbourne memang sebuah tempat yang luar biasa. Orang-orang yang ramah dengan suasana yang sangat festive. Namun, cerita tentang acara kultur pop jepang dan teman-teman otaku saya akan saya ceritakan di lain kesempatan. Pengalaman yang akan saya ceritakan kali ini adalah sebuah kisah perjuangan untuk melakukan sebuah ritual yang dapat dikatakan sebagai ritual yang costly, baik di Australia maupun di Indonesia: Khilaf.

Advertisement Inline

Khilaf di Australia dapat dibilang mahal mahal murah.

Mahal, Mahal, Murah

Mahal, mahal, murah. Tiga Kata tersebut adalah gambaran sederhana untuk melakukan khilaf di kota yang sempat bernama Batmania. Barang-barang khilaf disana harganya tidak jauh berbeda dengan harga-harga importir asal indonesia. Kadang orang suka salah kaprah: di luar negeri biasanya harga barangnya lebih murah. Ternyata, barang-barang per-khilaf-an di Australia lebih mahal!

Yang manakah yang saya beli di Australia?

Untuk perbandingan, di Australia saya membeli sebuah Nendoroid karakter utama serial anime Etotama, Nyaa-tan. Harga yang dibanderol di One Stop Anime, (salah satu toko jujugan perkhilafan Melbourne) adalah AU$70.99 alias Rp707.000,- dengan kurs AU$1 = Rp10.100. Saat saya meminang Nendoroid Nyaa-tan, saya tidak berpikir panjang karena Nyaa-tan adalah Nendoroid pertama yang saya beli.

Sesampainya di flat, saya melihat harga nendo Nyaa-tan di salah satu lapak figur ternama di Indonesia. Harga yang dibanderol di lapak tersebut seingat saya adalah sekitar Rp540 ribuan. Akhirnya logika saya kembali setelah dimabuk asmara. Saya telah rugi sekitar 167 ribu Rupiah. Di situlah saya menyadari bahwa khilaf di negeri kangguru ternyata lebih mahal daripada di Indonesia.

Sumber foto: One Stop Anime

Begitu juga dengan harga Figma, Figurine, Gunpla, Game, buku komik dan novel ringan. Semua barang tersebut harganya telah mengalami mark up yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan Indonesia. Di toko lain, saya menemukan Gunpla Master Grade dari dunia Gundam Build Fighter, Sengoku Astray dijual dengan harga AU$90 alias Rp909.000,-. Bagaimana dengan harga di Indonesia? hanya 600 ribuan Rupiah. Mark up harganya ternyata mencapai angka 50% sendiri!

Memang ada beberapa kasus yang membuktikan kalau tidak semua produk perkhilafan di Australia mahal. Misalnya konsol portabel New Nintendo 3DS-XL, yang saya beli di Australia seharga AU$250 sedangkan harga di Indonesia pada saat itu sekitar 3 Jutaan Rupiah. Namun, dari titik inilah saya memutuskan lebih baik mengirim uang ke teman saya di Indonesia untuk membelikan barang-barang perkhilafan saya yang lain daripada beli di Australia.

Sumber foto: Freedom Club the Book

Walaupun harganya lebih gila, saya sering menemukan barang-barang yang tergolong langka di Indonesia. Misalnya, komik dan novel ringan, baik terjemahan bahasa Inggris terbitan Yen Press atau berbahasa Jepang asli. Salah satu barang langka yang saya temukan adalah komik karya Tomoya Haruno, D-Frag! terbitan Seven Seas Entertainment di toko kultur pop Minotaur, Melbourne. Mata saya langsung terbelalak dengan label harga yang tertempel di plastik sampul buku tersebut: AU$40 untuk sebuah komik. Mungkin bagi para penggemar berat, mengeluarkan uang sejumlah itu bukanlah masalah asal dapat memuaskan egonya. Bagi saya? Nah, thanks mate. Selidik punya selidik, buku-buku terjemahan tersebut berasal dari Amerika. Hal ini cukup menjelaskan kenapa harganya bisa semahal itu untuk sebuah komik.

Tidak harus menjadi sultan

Di sinilah saya akan menjelaskan kenapa ada kata ‘murah’ dari Mahal Mahal Murah. Selama saya tinggal di Australia, saya berkerja paruh waktu di beberapa tempat. Gaji paruh waktu di Melbourne berkisar antara AU$400 hingga AU$1600 per bulan tergantung tipe pekerjaannya. Mahasiswa yang bekerja paruh waktu umumnya mendapatkan sekitar AU$800 tiap bulannya. Jika kita asumsikan separuh dari AU$800 adalah anggaran perkhilafan (AU$400), membeli 1-2 barang perkhilafan tiap bulannya bukanlah hal yang sulit.

Borongan hasil diskon

Alasan lain kenapa khilaf di Australia juga bisa dikatakan murah adalah tiap pertangahan atau akhir tahun, biasanya ada acara cuci gudang besar-besaran. Komoditi perkhilafan pun juga ikut menjadi target cuci gudang. Saya sempat khilaf beberapa DVD anime asli dan komik jepang berbahasa inggris yang pada saat itu harganya menjadi AU$5 per buah.  Perlu anda ketahui bahwa diluar diskon, harga produk tersebut biasanya AU$15-20 per buah. Menariknya lagi, kualitas buku-buku tersebut benar-benar apik dan berbeda jauh dengan komik Jepang terbitan Indonesia. Australia ternyata memiliki beberapa distributor DVD dan komik sehingga harga barangnya tidak selamanya harus makan nasi garam atau menjadi seorang Sultan.

One Punch Man Bahasa Inggris terbitan Viz Media

Ada harga ada rupa

Beberapa teman saya bercerita bahwa mereka dapat tetap berkhilaf ria walaupun dengan harga-harga barang yang semahal itu dengan cara bekerja sampingan. Salah satu teman saya berhasil khilaf PS4 Pro, game The Idolm@ster Platinum Stars dan sebuah TV 55″ dari jerih payahnya bekerja sambilan dan memanfaatkan toko yang sedang memberi diskon.

Sebagai penutup, sebenarnya saya sulit menyimpulkan apakah kita harus bersyukur bahwa fakta khilaf di Indonesia lebih murah ataukah khilaf sama mahalnya di manapun anda berada. Satu hal yang pasti adalah bila anda sudah niat untuk khilaf, uang sebanyak apapun pasti rela dikeluarkan.

Bersambung ke bagian kedua.

KAORI Newsline | oleh Naufal Bayuaji Pawenang | Penulis sempat merasakan menjadi weaboo di negara kangguru dalam masa studinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.