BAGIKAN
Ilustrasi

reon

Saya memang terhitung masih sangat awam dalam dunia pop kultur Jepang, dan bisa dibilang hal itu belum banyak berubah sejak hati saya tercerahkan oleh Sword Art Online pada suatu hari di tahun 2012. Yah, saya memang terhitung sebagai seorang wibu yang lahir dari era itu, terkagum-kagum oleh sebuah film kartun asal Jepang yang sudah dapat dinikmati dengan takarir berbahasa Indonesia kala itu. Terbawa oleh arus jejepangan yang makin hari makin menggeliat saja.

Namun, saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai bagaimana lahirnya para wibu (penggemar anime – Red) baru di generasi SAO, tapi lebih mengenai event jejepangannya. Memang tidak banyak event jejepangan yang pernah saya ikuti selain yang diadakan di Jogja. Tapi yang unik adalah, dari semua event yang pernah saya ikuti, ada satu tempat yang selalu penuh sesak oleh orang, setidaknya tiga kali dalam sehari. Tidak peduli ada siapa yang sedang menyanyi di panggung, atau apa yang sedang dijajakan di stand-stand yang tersedia, tempat ini akan menjadi ramai dalam tiga waktu itu. Tempat itu adalah: musholla dan masjid.

Yah, meskipun pada acara pop kultur Jepang sekalipun, adalah sebuah fakta bahwa mayoritas orang Indonesia adalah beragama Islam, dan sudah barang tentu, bagi mereka yang ingat, akan melaksanakan salat bila waktunya telah tiba. Ini yang kemudian sempat membuat saya berpikir, saat dimana dua dunia yang berbeda, bahkan dalam beberapa hal bertentangan, dapat kemudian menyatu seolah tidak ada yang membedakannya.

Salah seorang teman di KAORI pernah menyebutkan istilah “Wibu Syariah”, sebuah frasa yang sekilas terdengar aneh, namun jika ditelaah lebih dalam, rupa-rupanya ini adalah sebuah fakta. Sederhananya, istilah tersebut memiliki arti sebagai berikut: seorang wibu, atau orang yang menggemari berbagai produk pop kultur Jepang (manga, anime, light novel, game, cosplay, dsb), namun juga tetap menjalankan berbagai macam peribadatan dalam agama Islam (salat, puasa, membaca al-Quran dsb). Entah apakah orang tersebut lebih banyak menghabiskan waktunya menonton anime atau cenderung lebih sering mengikuti kajian keislaman di masjid, kedua-duanya bisa saja kita sebut sebagai wibu syariah.

Frasa di atas memang terlihat bertentangan, dan saya pikir tidak banyak orang yang seperti itu: di satu sisi mahir dalam melafalkan lirik Ikenai Borderline, tapi di sisi lain ia juga masih hapal dengan surah an-Nabaa’. Namun, dari apa yang saya lihat, pada kenyataannya orang-orang seperti itu jumlahnya cukup banyak, dan sepertinya akan terus meningkat.  Dalam beberapa hari ini pun saya juga makin sering “mengungkap” mereka-mereka  yang rupanya gemar dengan anime atau manga. Kenyataan inilah yang kemudian membuat saya menyadari bahwa istilah wibu syariah ini, mungkin dalam waktu dekat, akan benar-benar menjadi sesuatu yang lumrah.

Kita tidak pernah bisa menilai orang dari penampilannya saja (© Pets · Kodansha / “Demi-chan wa Kataritai” Production Committee)

Mereka Ada di Sekitar Kita

Saya kebetulan sedang menuntut ilmu di Universitas Islam Indonesia, salah satu kampus swasta Islam yang terletak di Yogyakarta. Terlepas dari judul Islamnya, ternyata ada banyak sekali mereka-mereka yang menjadi penikmat anime atau manga di kampus ini, baik secara aktif maupun pasif.

Contoh sederhana saja yang pernah saya temui di Rohis (Kerohanian Islam) fakultas. Pernah suatu hari saya pergi ke sekretariat Rohis, dan ternyata ada sekelompok teman yang sedang berdiskusi mengenai film terbaru dari Kuroko no Basket yang rencananya akan tayang di Indonesia dalam waktu dekat. Mereka pun dengan serunya membahas aksi-aksi apa saja yang mungkin akan muncul di film ini nanti, sambil kemudian mengenang kejadian-kejadian di anime-nya. Selain Kuroko no Basket, ada beberapa teman dari Rohis yang juga mengikuti beberapa seri anime, mulai dari yang umum seperti One Piece atau Naruto, sampai seri yang hanya tayang di musim tertentu seperti Masamune kun no Revenge.

Cerita mengejutkan juga pernah saya alami sewaktu di kelas. Ada seorang junior Rohis yang saya kira amatlah alim, sebab sering juga saya temui dia di kajian rutin masjid kampus. Namun suatu hari saya melihatnya sedang mencari OST dari Kuzu no Honkai lewat Youtube, dan dalam sekejap kesan baik padanya pun runtuh seketika. Meskipun pada saat itu si junior hanya sedang mencari lagu tema dari anime tikung-telikung tersebut, namun tidak menutup kemungkinan bahwa dia juga pernah menonton anime tersebut secara khusyuk.

Di masjid kampus sendiri, ada pemandangan unik yang terkadang dapat saya lihat. Seorang jamaah datang ke masjid, berpakaian rapih dengan baju koko, peci, dan sarung (pernah sekali waktu memakai gamis), namun kendaraan yang digunakan adalah motor itansha dengan livery Kotori Minami dari seri Love Live!. Pernah juga ia menggunakan sepeda yang ban belakangnya menggunakan livery bergambar tokoh yang sama. Sepengamatan saya, orang tersebut amat sering terlihat di masjid kampus untuk sekedar salat wajib atau mengikuti kajian. Sayangnya, karena saya sendiri tidak mengenalnya, jadilah saya tidak dapat bertanya lebih jauh soal hobinya tersebut.

Pengalaman paling berkesan adalah ketika saya memiliki teman satu jurusan yang ternyata juga merupakan seorang wibu. Kalau kami bertemu, biasanya akan ada diskusi kecil mengenai apa yang sedang ‘segar’ di musim ini. Namun pada suatu hari, bukannya mendapat cerita mengenai kerennya Edogawa Rampo ataupun Osamu Dazai dari Bungo Stray Dogs seperti yang biasa ia ceritakan, rekan perempuan ini malah bercerita mengenai bagaimana kehidupannya di keluarga ulama yang tradisi keislamannya amat kental. Kami pun terlibat diskusi panjang mengenai bagaimana ia dapat struggle untuk memenuhi hobinya, sambil kemudian menyesuaikan diri dengan kesehariannya di keluarga ulama tersebut. Ia pun juga sempat menceritakan salah satu kakaknya yang sedang kuliah di Madinah, yang mana sang kakak juga bercerita mengenai betapa sulitnya mengakses konten-konten anime maupun gaming di sana.

Tanpa sadar, kebanyakan orang akan berusaha untuk memenuhi keinginan atas hobinya(© Torako/Kyoto Animation/Chuunibyou Prouction Comitee)

Artikel ini bersambung ke halaman berikutnya ->>

2 KOMENTAR

  1. sedikit menyentil tulisan nya, but overall ini keren.

    tidak menampik kemungkinan bahwa wibu di indonesia juga ada yang taat menjalankan agamanya, tidak hanya agama islam saja (tetapi karena sudut pandang penulis dan saya sama2 berlatar belakang muslim, saya bisa memahami makna penulisan ini).

    Walau begitu, wibu ya wibu. tidak masalah apakah agamamu, selama kamu masih mengidolakan Matsuura Kanan, kamu adalah seorang wibu. Adalah hak seorang pribadi untuk menjalankan agamanya, baik itu secara taat, telat atau tidak sama sekali.

  2. Wibu syariah masih banyak gan.
    Kalo bisa dibilang ane juga wibu syariah.

    Ane juga mau ceritain pengalaman ane waktu ke ennichisai di blok M kmaren. Acaranya kebetulan barengan sma tabligh akbar ustadz khalid basalamah. Kebetulan waktu itu ane paginya ke ennichisai dulu, trus abis dhuhur smpe ashar ane ikut tabligh akbar. Abis ashar mulai banyak yg dari event pada ke masjid mau sholat ashar. Nah kebetulan waktu itu ane pas lagi duduk² di pinggir masjid ane duduk di sebelah orang paling umurnya kisaran SMA. Kalo dari bajunya sih dia ke kajian. Pke baju koko plus peci. Nah yg bikin ane kaget, pas dia ngeluarin HP, lockscreen HP dia klo gk salah waktu itu gambar yukinon, trus wallpaper hpnya gambar sinon. Trus pas temennya gk lama dateng yg ane dengerin dia dikit² bahas kajian tadi skalian bahas anime kyak one punch man, death note, sma sao juga.