BAGIKAN
(© 2017 Akira Kareno · ue / KADOKAWA 68 island · fairy warehouse)

Are you going to Scarborough Fair?
Parsley, Sage, rosemary and thyme
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

Lagu klasik asal Inggris inilah yang kemudian membawa saya untuk mengenal sebuah seri anime dengan judul tepanjang yang mungkin pernah saya lihat: Shuumatsu Nani Shitemasuka? Isogashii Desu ka? Sukutte Moratte Ii Desu ka? (Apa Yang Sedang Kamu Lakukan di Akhir Dunia? Kamu Sedang Sibuk? Akankah Kamu Menyelamatkan Kami?). Untungnya, meskipun judul animenya panjang, anda tidak akan pernah tahu apa yang akan diceritakan di dalamnya selain dengan menontonnya sendiri. Judul di atas -yang terkesan sedikit melucu- tidak ada sangkut pautnya dengan jalannya cerita, meskipun mungkin saja saya yang kurang cerdas dalam menangkap maksud dari Akira Kareno, si penulis.

Apa mau dikata, meskipun senjata, cinta pun tetap bisa ia rasakan. (© 2017 Akira Kareno · ue / KADOKAWA 68 island · fairy warehouse)

Jika Anda mencoba untuk sekedar menengok sampul dari novel ringannya, maka bisa tertebak bagaimana jalan ceritanya: menyedihkan. Si tokoh utama -yang memegang pedang setinggi lehernya sendiri- belum-belum sudah menangis saja di halaman depan novelnya. Tentunya saya, yang notabene membenci cerita-cerita seperti seorang pemain biola yang di akhir ceritanya meninggal karena penyakit jantung atau tokoh utama perempuan yang mati karena ditabrak truk, akan langsung menyingkirkan anime ini dari daftar tontonan. Namun, setelah menonton video trailer pertama yang diunggah kanal Youtube milik Kadokawa (dengan lagu yang ada di atas), disusul video trailer kedua yang membawakan lagu dari Tamaru Yamada yang sangat syahdu, pikiran saya pun berubah. “Tidak ada salahnya untuk mencicipi satu-dua episode”.

Hikayat Sang Penjaga Arsenal

Alkisah, umat manusia sudah musnah di permukaan bumi ini. Yang tersisa hanyalah ras-ras lain seperti makhluk setengah manusia-hewan, yang sekarang tinggal di kepulauan terapung di atas langit, berlindung dibalik ancaman makhluk jadi-jadian (Beast) yang siap kapan saja menyerbu ke pulau-pulau tersebut. Hanyalah para gadis muda belia yang dinamakan Leprechauns yang mampu untuk mengalahkan mereka, sebab gadis-gadis ini memiliki kekuatan untuk menggunakan Dug Weapons yang sejatinya cukup ampuh untuk membunuh Beast tersebut.

Hatta, muncullah seorang lelaki paruh baya bernama Willem Kmetsch, satu-satunya manusia yang berhasil bertahan dari kiamat sughra di permukaan bumi karena terperangkap di dalam es selama lima ratus tahun. Dalam suatu bincang-bincang malam, ia menerima tawaran dari rekannya yang bernama Grick Graycrack untuk bekerja sebagai tentara di sebuah “gudang senjata”. Meskipun si Willem awalnya menolak, setelah Grick bersilat lidah sedikit, pada akhirnya ia terima juga tawaran itu. Rupanya, apa yang dimaksud dengan “gudang senjata” itu adalah sebuah rumah yang berisi banyak anak-anak kecil (baca: loli) yang berada dibawah pengasuhan Ibunda Nygglatho, troll yang baik hati namun juga “haus darah”. Disanalah kemudian Willem bertemu kembali dengan seorang perempuan yang namanya berupa campuran bahasa Latin-Swedia: Chtolly Nota Seniorius, yang tempo hari pernah diselamatkan oleh Willem di suatu jalanan kota.

Temui Ibunda Nygglatho yang baik hati (namun juga haus darah). (© 2017 Akira Kareno · ue / KADOKAWA 68 island · fairy warehouse)

Kisah yang disajikan memang akan berkutat dengan hubungan antara Willem dan Chtolly yang mula-mula saling suka, sampai kemudian memutuskan untuk mengikat janji sehidup semati. Saya akui memang kisah cinta mereka berdua menarik untuk diikuti, dan mungkin sebagian besar pemirsa akan fokus untuk menikmati hubungan mereka berdua. Selain kisah cinta, ada banyak karakter lain yang bisa menarik perhatian dari penonton. Seperti Ibunda Nygglatho yang menjaga anak-anak “senjata” ini saban harinya, atau teman-temannya Chtolly yang namanya susah dieja: Nephren Ruq Insania, Nopht Keh Desperatio, Ithea Myse Valgulious, dan Rhantolk Ytri Historia, yang mana mereka memiliki sifat maupun karakter tersendiri yang memiliki potensi yang besar untuk diperhatikan oleh para pemirsa laki-laki.

Hanya saja, saya malah teringat satu hal, terutama setelah menonton bagian paling awal dan paling akhir dari anime ini: kematian.

Apa Yang Sudah Engkau Perbuat Untuk Hari Esok?

Para Leprechauns sejatinya merupakan peri hasil reinkarnasi dari manusia yang pernah hidup di masa sebelumnya. Namun, kenangan yang dimiliki manusia tersebut akan tersegel seiring dengan lahirnya mereka ke dunia. Kenangan ini akan semakin lama muncul ke dalam pikiran mereka sampai pada suatu masa Leprechauns akan dikuasai sepenuhnya oleh ingatan masa lalu itu. Pada saat itulah, mereka akan mati, dan biasanya hal itu akan terjadi di usia yang setara dengan masa-masa SMA. Yah, mirip-mirip dengan sakaratul maut di dunia nyata ini.

Setelah menderita menghadapi Sakaratul Maut, beginilah hasilnya. (© 2017 Akira Kareno · ue / KADOKAWA 68 island · fairy warehouse)

Di sinilah saya kemudian sedikit merenung. Para Leprechauns sadar betul akan umur singkat mereka. Mereka juga sadar bahwa hidup mereka di dunia itu, tidak lain dan tidak bukan, hanyalah untuk menjadi senjata oleh tentara yang siap digunakan untuk membunuh para monster di daratan sana. Ini bukan berarti mereka dipaksa oleh tentara, namun hanya inilah cara yang bisa digunakan untuk menghalau monster-monster itu, dan Leprechauns sadar betul akan kewajiban itu. Belum lagi melihat Ibunda Nygglatho yang harus membesarkan anak-anak ini, namun juga harus kuat untuk melepas putri-putri asuhnya ke medan laga dengan resiko mati. Hal ini tentu saja menyakitkan.

Untungnya, Leprechauns adalah para wanita berhati baja: mereka tetap berusaha untuk hidup seolah-olah dunia akan berjalan selamanya. Chtolly terus mencintai Willem hingga akhir hayatnya, demikian juga Nephren, Nopht, dan Rhantolk yang di bagian terakhir seri ini rela melakukan perang puputan demi menyelamatkan nyawa para tentara yang berusaha untuk melarikan diri (meskipun pada akhirnya Nopht dan Rhantolk masih hidup).

Para syuhada dari “Arsenal” (© 2017 Akira Kareno · ue / KADOKAWA 68 island · fairy warehouse)

Sebagai seorang muslim pun, cara hidup mereka patut untuk ditiru: berjuang sekuat mungkin di dunia demi harapan hidup yang lebih baik di akhirat nanti. Meskipun kita tidak hidup selamanya, dan kematian akan menyapa kita suatu hari nanti, namun dunia ini adalah tempat untuk mempersiapkan kematian itu dengan sebaik mungkin. Dengan demikian, hidup akan menjadi lebih bermakna, baik ketika masih hidup, maupun sesudah mati nanti.

Maka, ketika saya membaca lirik dari sebuah tembang yang dinyanyikan Tamaru Yamada di episode terakhir anime ini, pada salah satu bagiannya:

I don’t know the meaning of life,
but I know what’s truly precious,
the life, it’s not, for comparing things
so I hold both the light, and shadows

Seketika saja saya langsung teringat salah satu perkataan di dalam al-Quran surah Ali Imran ayat 185:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”

KAORI Newsline | Oleh M Razif Dwi Kurniawan

2 KOMENTAR