BAGIKAN

Pada acara Battle of Arena x Akatsuki no Matsuri yang diselenggarakan di Malang bulan lalu, staf KAORI Nusantara Malang berkesempatan untuk mewawancarai Yukitora Keiji dan KameAam yang menjadi guest cosplayer di acara tersebut. Simak bagaimana mereka menceritakan pengalaman mereka selama bercosplay, kesan mereka terhadap Malang, serta harus memilih antara bawang goreng atau daun bawang.

Selamat malam dan terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk KAORI Nusantara. Pertama-tama, mungkin mbaknya bisa memperkenalkan diri dulu ke pembaca

Yukitora (Y): halo saya Yukitora Keiji, saya dari Jakarta

KameAam (K): Saya KameAam. Dari Pemalang, tapi dikenalnya dari Semarang.

Nah, apakah ini pertama kali ke Malang?

Y: Dalam rangka apa nih? Event atau jalan-jalan biasa? Soalnya aku sudah pernah ke Batu. Kesannya? Dingin! Ya jadi kalau dalam rangka non event kebetulan sudah pernah. Tapi buat nge-event ke Malang sih baru pertama kali.

K: Kalau saya sudah dua kali. Dulu pas pertama kali lagi musim hujan sih jadi agak adem, sekarang agak panas.

Bisa di-share kah pengalaman selama cosplay selama ini

K: Pertama cosplay itu ngerasa aneh sih, jadi ngeliatin orang pake wig perasaan kayak “ini ngapain sih”. Jadi pertama-tama cosplay gak pake wig, terus lama-kelamaan akhirnya nyoba pakai wig.

KameAam

Oke, terus?

K: Ya jadi aneh sih. Terutama kalau ada orang luar liat cosplay, terus mukanya kayak “ini apaan sih”. Hehehe. Pengalaman buruknya dulu pernah pas coswalk ada bagian kostum yang lepas. Malu banget, pas itu ada mbak ini (Yukitora) juga.

Oh Yukitora ikut juga?

K: Bukan, dia jurinya

Oh, mbak Yukitora jurinya. Memang mbak Yukitora mulai cosplay tahun berapa?

Y: Aku sudah mulai cosplay dari 2009.

Kalau mbak KameAam?

K: Aku dari 2015. Aku juga masih belajar sih. Masih bisa dibilang noob, hehe. Masih belajar make up sendiri, yang lain-lain juga. Tapi kostum masih belum bisa bikin sendiri. Soalnya kostum menghabiskan waktu banget, jadi dilarang sama orang tua. Kalau belum lulus katanya gak boleh. Hehe

Kalau mbak Yukitora bagaimana? Ada pengalaman baik atau buruk gitu?

Y: Pengalaman buruk sih mungkin deadline bikin kostum gitu. Jadi dulu kan mau ikut lomba, tiap kostum itu selalu di-maintenance atau di-upgrade. Udah H-1 hari kostumnya belum jadi atau belum diperbaiki, akhirnya harus begadang padahal paginya sudah harus di tempat lomba.

Pernah gak kena deadline gitu hasilnya kostumnya malah gagal?

Y: Enggak. Jadi klo misalnya kostumnya ga sukses ya udah ga jadi ikut lomba. Nggak apa-apa sih, have fun aja selama prosesnya.

Ooh, terus ada pengalaman apa lagi?

Y: Hmm, pernah kena “kutukan” juga sih. Sampai jam 3 pagi. Untungnya jadi karena dibantuin teman.

K: Oh aku juga pernah seperti itu sih. Jadi sampai tempat event masih dikerjain.

Y: Oh kalau aku gak pernah sampe segitu. Biasanya sebelum event diusahakan jadi. Cuma ya itu, gak tidur.

Oke, kalau begitu pertanyaan selanjutnya. Ada suatu karakter favorit yang suka di-cosplay-in gitu?

K: One Piece! Jadi Nico Robin. Jadi walaupun saya tidak tinggi tapi saya mencoba buat tinggi.

Ciee, heels-nya berapa senti mbak?

K: Rahasia, hehe. Selain itu Kotori “Love Live!“. Kebetulan suka karakternya.

Oh, kalau mbak Yukitora?

Y: Hmm, sekarang lagi main game Spiderman yang terbaru. Tapi belum sempat cosplay. Sebenarnya kalau karakter yang pengen di-cosplay-in tapi belum sempat. Ada juga yang kostumnya baru setengah jadi. Ya, kalau ditanya karakter yang pengen di-cosplay sih banyak. Di One Piece itu aku pengen jadi itu loh, Putri Shirahoshi

Oh yang pink itu ya?

Y: Iya, yang putri duyung. Aku juga seringnya gini, jadi awalnya pengen cosplay apa, jadinya malah karakter lain. Hehe.

Yukitora Keiji

Oke, pertanyaan berikut. Ada achievement yang ingin diraih sebagai cosplayer ga? 

Y: TGS (Tokyo Game Show) sih. Dulu pernah ikut sih, pas tahun pertama Indonesia mengirim guest representative. Tapi pengen ikut lagi.

Kesannya ikut bagaimana mbak?

Y: Enak, benar-benar ke sana gratis. jadi ya kesannya seperti dapat free liburan, tapi kita tetap wajib perform di panggung. Jadi sebenernya ga bisa dikatakan guest sih, tapi tetep tampil cosplay di panggung. Kebetulan aku yang paling lama di sana, paling akhir baliknya ke Jakarta. Jadi performer Indonesia lain kayak Lola kan minggu sudah balik, aku baliknya hari Senin.

Kalau mbak KameAam? Ada achievement yang ingin diraih?

K: Aku mungkin WCS (World Cosplay Summit). Cuma mungkin belum dalam waktu dekat.

Loh Kenapa?

K: Ya pengennya sih matengin diri dulu aja. Jadi ya ikut WCS kan perlu persiapan. Siap-siap kostum, mencari partner juga. Sementara masih ikut beberapa lomba aja buat melatih diri, belajar yang lain-lain juga. Fokus yang lain dulu lah. Tapi pengen suatu saat bisa perform di panggung internasional dan mengeluarkan kostum terbaik yang beda dari kostum yang aku pakai di event-event biasa kayak gini.

Nah, pertanyaan terakhir. Ada kesan-pesan yang ingin disampaikan gak buat pembaca KAORI?

Y: Terima kasih sudah mendukung kami. Jangan lupa follow kami. Hehe

Waduh, ceritanya promosi ini

K: Sekalian mbak. Buat KAORI-nya sendiri semoga bisa lebih baik lagi, kemasannya juga lebih beragam lagi.

Y: Iya, dan semoga KAORI bisa lebih update, terutama bagian transportasinya, Karena saya kan anak yang butuh transportasi. Jadi benar-benar butuh berita transportasi. Bagian animenya juga. Perbanyak berita Kirara biar antek-anteknya makin besar.

Hahaha. Makasih mbak. Eh iya pertanyaan terakhir setelah terakhir. Bawang goreng atau daun bawang?

Y: Hah? Bawang Goreng lah. Emang enaknya daun bawang apa?

K: Hmmm, bawang goreng

Oke, ternyata tidak ada yang mau daun bawang ya.

Y: Bentar, memangnya kenapa?

Gapapa mbak. Terima kasih mbak atas waktunya.

Y & K: ???

KAORI Newsline | Wawancara oleh Dika | Teks oleh Dany Muhammad | Foto oleh Hanif

BAGIKAN
Artikel sebelumnyaKesan Pertama: Tsurune
Artikel selanjutnyaJadwal Terbit Komik Tanggal 14 November 2018
Majid Kamil
"Fungsi utama dari kritik bukanlah untuk memberitahu penonton apa yang HARUS mereka tonton, sesuatu yang merupakan hak mereka, melainkan untuk memberi tahu pengalaman apa yang AKAN mereka saksikan dari film tersebut, sebagai batu pijakan mereka untuk menentukan apakah film tersebut pantas untuk diganjar dengan sebuah tiket." -Anthony Lane, Kritikus film

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.