KAORI Yuwana 2020 – Bagian I: Anime Terbaik 2020 Pilihan Staf KAORI

1

Selamat datang kembali di rubrik KAORI Yuwana! Setelah absen pada tahun 2019 lalu, rubrik spesial KAORI Yuwana akhirnya kembali hadir. Lewat rubrik ini, para staf KAORI memilih berbagai anime pilihan yang tayang sepanjang tahun 2020.

Baca Juga: KAORI Yuwana 2019: Anime Terbaik 2018 Pilihan Staf KAORI

Berbeda dengan rubrik “anime pilihan tahun 2020” biasa, dalam rubrik KAORI Yuwana ini kami menghadirkan lebih dari sekedar deretan anime-anime “terbaik” dan “terfavorit”, tetapi juga potret keragaman judul-judul anime yang tayang selama tahun 2020 dari berbagai genre yang mungkin terlewat dari perhatian para fans.

Judul-judul anime yang masuk untuk rubrik KAORI Yuwana 2020 dipilih oleh para staf KAORI dari divisi KAORI Newsline, Indonesia Anime Times, dan Media Sosial dalam kategori-kategori menarik, yaitu Anime Paling Kocak, Anime Paling Dramatis, Anime Paling Hot-Blooded, Anime Paling Moe, Anime Paling Santai, Anime Paling Edukatif, Anime Guilty Pleasure, Anime Kuda Hitam/Underdog, dan Anime Paling Booming. Selain judul anime pilihan, para staf juga memilih berbagai momen anime 2020 paling menarik dalam berbagai kategori, yaitu Momen Paling Epik, Momen Paling Sedih, Momen Paling Warbyasah, dan juga Lagu Anime Terfavorit. Masing-masing staf memilih satu judul anime di tiap-tiap kategori yang selesai tayang dari tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 2020.

Tanpa banyak basa-basi lagi, inilah  berikut adalah anime-anime tahun 2020 pilihan staf KAORI Nusantara!

Halaman 1: Anime Terkocak dan Anime Guilty Pleasure
Halaman 2: Anime Paling Dramatis dan Anime Paling Hot Blooded
Halaman 3: Anime Paling Moe, Anime Paling Santai
Halaman 4: Anime Paling Edukatif, Anime Underdog dan Anime Paling Booming
Bagian Kedua: KAORI Yuwana 2020 Bagian II: Momen Anime dan Anisong Terbaik Versi Staf KAORI!

Anime Terkocak

Uzaki-chan wa Asobitai

Uzaki-chan Wants to Hang Out
©2020 Take/KADOKAWA/Uzaki-chan Production Committee

Goldy Ventura – KAORI Newsline
Anime ini termasuk anime komedi 2020 yang pernah ditonton. Dari awal episode sampai episode terakhir sukses mengocok perut dan membuat saya gemes dan kesal dengan tokoh pria utama yang bodoh dan tidak peka, dan Uzaki yang polos selalu menimbulkan suasana awkward yang penuh canda tawa.

Fire Force Season 2

Resi Wisaksono – KAORI Newsline
Walaupun secara teknis bukan sebuah anime komedi, namun anime ini mampu menghibur penonton dengan scene – scene yang cukup mengocok perut. Komedi yang diperlihatkan berasa natural dan tidak terkesan dipaksakan (tentunya scene “aneh” ala Tamaki tidak masuk hitungan), sehingga meningkatkan kesan para karakter yang bodoh dan unik.

Love Live! Nijigasaki Gakuen School Idol Doukoukai

© 2020 PROJECT Love Live! Nijigasaki High School Idol Club

Andira Indrawan – KAORI Newsline
Interaksi antara karakternya membuat anime ini lucu. Selain itu hal yang membuat anime lucu adalah bagaimana karakter merespon situasi yang mereka hadapi, seperti Ayumu disuruh menjadi kelinci dan Setsuna yang sempat pongah (ketika mejadi Nana, si ketua OSIS) karena proposal School Idol Festival yang awalnya dikira bakal tembus ternyata ditolak oleh wakil-wakilnya karena ada hal yang kurang jelas dan proposalnya akhirnya tidak bisa ditandatangani oleh ketua OSIS (yang tak lain adalah Setsuna sendiri), dan Karin yang ternyata buta arah.

Princess Connect Re:Dive

© Cygames, Inc.

Cakra Bhirawa – Media Sosial
Jika saya disuruh memilih anime terkocak, maka saya memilih anime Princess Connect! Re:Dive. Walau saya memainkan gimnya, saya sebenarnya kurang paham ceritanya seperti apa, namun itu semua berubah ketika saya menonton adaptasi animenya. Seketika saya langsung tertawa keras ketika menonton animenya dan bahkan bertanya kepada teman-teman saya, apa bener cerita gimnya seperti ini juga? Bagaimana tidak, komposisi komedinya dapat berbaur dengan baik dengan animasi dan ekspresinya, bahkan penulisan ceritanya juga sangat bagus sehingga momen komedinya banyak sekali yang tepat sasaran.

Apalagi ketika saya mengetahui kalau sutradara dibalik adaptasi seri Konosuba juga berada dibalik pembuatan adaptasi anime ini, pantas saja ada perasaan yang menganjal gitu kalau anime ini seperti mirip dengan anime kocak lainnya.

BanG Dream! GARUPA PICO ~Ohmori~

©BanG Dream! Project ©Craft Egg Inc. ©bushiroad All Rights Reserved.

Keinda D. Adilla – Indonesia Anime Times
Akhirnya muncul kelanjutan dari kegilaan yang terjadi di anime BanG Dream! GARUPA PICO. Bayangkan, tiap minggu semua orang berdebat siapa karakter Bandori yang akan jadi korban selanjutnya dan menambah death count yang sudah dimulai dari season sebelumnya. Tak hanya sampai disitu, band-band yang baru masuk di gimnya, Morfonica dan RAISE A SUILEN, juga ikut meramaikan hitung-hitung death count mingguan ini. Bahkan death count sudah tidak terbatas pada fisik, tapi juga pada sanity dari member-member band.

Otome Game no Hametsu Flag Shika Nai Akuyaku Reijou ni Tensei Shite Shimatta (Hamefura)

© Satoru Yamaguchi/Hamefura Production Committee

Halimun Muhammad – Indonesia Anime Times
Menonton Hamefura biasanya membuat saya antara tertawa terbahak-bahak atau simpatik dengan karakter-karakternya. Bagian yang lucu dari cerita ini, tentu saja, adalah tingkah laku Catarina dalam berupaya menghindari “bad end” yang dialami oleh karakternya dalam game. Sebagai seseorang yang di kehidupan sebelumnya memainkan otome game yang menjadi tempat ia terlahir kembali, pengetahuan yang dimilikinya mengenai game tersebut memberinya kewaspadaan yang memang diperlukan untuk menghindari peristiwa-peristiwa yang akan mangantarkan karakternya pada nasib naas. Namun, saking waspadanya, ia tidak sadar bahwa upaya-upayanya telah menutup kemungkinan-kemungkinan buruk itu, dan malah terus melakukan hal-hal yang sebenarnya sudah tidak perlu lagi. Hal inilah yang membuat pusing karakter-karakter di sekelilingnya yang sebenarnya jatuh hati padanya, tetapi tidak bisa mengerti mengapa ia kelihatannya terus-menerus melakukan hal-hal konyol yang tidak jelas maksudnya. Ketidaksetelan antara ekspektasi Catarina akan skenario game dengan kenyataan yang berlangsung di sekitarnya itulah yang mengasyikkan untuk ditonton.

Murenase Seton Gakuen

(©Bungo Yamashita/Cygames/Seton Academy: Join the Pack!)

Reza Lamunedo – KAORI Newsline
Mengapa? Karena anime ini menawarkan sesuatu komedi yang unik dan fresh, di mana para karakter betina di sana adalah manusia setengah hewan, sedangkan karakter jantannya di sana adalah hewan semua. Komedi yang ditampilkan pun sangat relate dengan hewan itu yang asli.

Ishuzoku Reviewers

© Amahara Masha / KADOKAWA / Heterogeneous Reviewers Production Committee

Ferdian Tiraska – KAORI Newsline
Jika dulu ada yang namanya Shimoneta yang memiliki tema seputar sex joke, Ishuzoku Reviewers menawarkan sepuluh kali lipat dari itu, di mana di sini kita diajak untuk me-“review” berbagai macam spesies dan tentunya setiap episode selalu ngakak untuk diikuti.

Bahkan setelah menonton animenya, saya masih bingung mau berkata apa karena pengalamannya memang sudah 10/10. sex joke yang ditawarkan tidak hanya sekedar lelucon saja, tetapi sex-nya tersendiri pun ikut di dalamnya. Bisa dibilang ini mahakarya yang luar biasa, mematahkan batas secara lebih absolut antara anime “biasa” dengan anime yang bersub-genre hentai. Anime ini menyatukan keduanya secara harmonis dengan balutan komedi yang tiada tara. Akhir kata, anime ini adalah mahakarya komedi.

Anime Guilty Pleasure

Shokugeki no Souma: Gou no Sara

Shokugeki no Soma: Go no Sara
© Yuto Tsukuda, Shun Saeki/ Shueisha,Food Wars! Shokugeki no Soma Committee 5

Resi Wisaksono – KAORI Newsline
Season terakhir dari serial Shokugeki no Souma berakhir mengecewakan. Adegan masak yang hanya sebentar, alur cerita yang tidak jelas, dan logika kuliner yang tidak lagi masuk akal membuat penonton bingung. Sangat disayangkan karena cerita awal dari serial ini bagus dan karakter yang dibuat hampir semuanya menarik. Terlepas dari tidak jelasnya season terakhir ini, tentunya beberapa orang tetap menonton demi melihat cerita akhir dari serial ini (yang juga mengecewakan).

Tamayomi

Cakra Bhirawa – Media Sosial
Sebenarnya adaptasi anime Tamayomi sudah cukup standar pada episode 1, namun entah kenapa hal itu mulai berubah ketika menyentuh episode 2 ke atas. Kualitas animasinya langsung drop seketika (ya ini juga ada hubungannya dengan masalah penayangan sih, tapi… damn, kau benar-benar bisa melihat perbedaan kualitasnya). Tapi entah kenapa walaupun episode setelahnya kualitas anime ini mulai “jelek”, saya tetap menontonnya hingga akhir dan bahkan menulis ulasannya. Entah ada rasa spesial yang masih menyangkut di hati saya, entah itu dari lagu pembuka dan penutupnya yang bagus ataupun memang karena ini anime cute girls doing cute things. Apapun alasan itu, anime ini mampu mendorong saya untuk menamatkannya bahkan untuk membaca karya orisinalnya.

Sword Art Online: Alicization – War of Underworld Part 2

Keinda D. Adilla – Indonesia Anime Times
Walaupun porsi adegan action-nya membuat kita begitu fokus, tidak dapat dipungkiri lagi ending dari animenya sangat “begitu saja”. Yang membuat saya terus mau menonton anime ini memang karena rasa terlanjur yang sudah menonton SAO dari zaman Crossing Field dan penasaran bagaimana akhirnya Kirito kembali dari AFK-nya.

Ishuzoku Reviewers

© Amahara Masha / KADOKAWA / Heterogeneous Reviewers Production Committee

Halimun M – Indonesia Anime Times
Karena saya lihat di polling anime favorit pembaca ada beberapa orang yang memilih anime ini untuk menjawab pertanyaan “anime terburuk” dengan alasan seperti “gak ada plotnya, fanservice doang,” saya memilih anime ini untuk kategori ini dengan landasan adanya persepsi buruk kepadanya. Padahal apa salahnya kalau ada anime untuk dewasa yang isinya mengeksplorasi beragam fanstasi seksual yang dapat dibayangkan dalam media dua dimensi? Anime ini pun dengan cerdas menggunakan format “reviewer“-nya untuk menggambarkan bagaimana fantasi yang menggairahkan bagi sebagian orang belum tentu menggairahkan juga bagi sebagian orang lainnya dan begitu juga sebaliknya.

Ya, dengan adanya beberapa karakter yang bareng-bareng mengulas layanan-layanan yang mereka datangi, penonton bisa mendapat variasi perspektif mengenai bagaimana fantasi-fantasi yang digambarkan dapat direspon secara berbeda oleh pihak-pihak dengan selera dan nilai yang berbeda-beda pula. Penonton sendiri bisa saja merasa sebagian tema tertentu yang disajikan merangsang, tetapi dengan sebagian tema lainnya tidak begitu atau malah terasa terlalu ekstrim, dan itu hal yang wajar. Mungkin hal itu malah bisa membantu penonton untuk mengeksplorasi dan memikirkan imajinasi-imajinasi apa yang dapat diterima oleh dirinya secara personal dan imajinasi-imajinasi apa yang berada di luar batas penerimaan personal itu. (PS: Bagi yang masih di bawah umur, jadilah anak baik-baik dan jangan konsumsi konten untuk dewasa ya ;P)

Monster Musume no Oisha-san

© Yoshino Origuchi / Z Ton / Shueisha / Lindworm Medical Association

Ferdian Tiraska – KAORI Newsline
Ketika melihat visual anime ini, dan di judulnya ada kata “Monster Musume”, saya langsung kepikiran dengan anime Monster Musume no Iru Nichijou, yang mana adalah anime tentang kehidupan sehari – hari orang biasa yang dikelilingi dengan cewe monster, terus rupa – rupa bentuknya. Anime ini juga rasanya sama, hanya saja yang jadi rebutan di sini adalah seorang dokter yang kebetulan memang spesialisnya mengobati monster.

Untuk secara pengalaman kalau jujur – jujuran sebenarnya agak geli, karena setiap episodenya, pasti ada saja momen yang entah gimana imajinasinya. Monster di sini ketika diobati bisa mengeluarkan “suara khas” yang bisa membuat orang yang menontonnya merinding disko menengok kanan-kiri khawaatir ketauan orang lain.

Karena rasanya bila ada momen yang kayak begitu, saya yang menontonnya jadi bingung, ini harus dibawa secara serius melihat pasien diobati atau ikutan nafsu juga, tapi ya kali nafsu nonton pasien diobati. Dan lebih anehnya, anime ini saya tonton dari awal sampai beres, sampai episode terakhir lagi. Mungkin ini kali ya yang namanya guilty pleasure.

Kateogori Anime Paling Dramatis dan Anime Paling Hot Blooded berlanjut ke halaman kedua.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.